Menuju Gerakan Sosial dan Politik (1): Belajar Gerakan Politik dari Petani Batang

Kamis sore, tepatnya tanggal 26 Mei 2011, hujan deras mengguyur Cikande. Sore dimana saya dan Sekretaris Eksekutif FSBS, Argo Priyo Sujatmiko, berencana menghadiri Lokakarya Nasional Gerakan Serikat Buruh di Batang, Jawa Tengah. Sempat terbesit dalam pikiran, bahwa saya akan berangkat dengan menerobos hujan yang deras itu.

Sore itu, peserta lokakarya yang sebagian besar berasal dari teman-teman aliansi daerah direncanakan berangkat bersama dari Kantor TURC dengan sebuah bus carteran. Dengan demikian, setidaknya waktu keberangkatan menjadi fleksibel. Apalagi dalam Kerangka Acuan (Term of Reference) yang disampaikan panitia, keberangkatan dari TURC adalah pukul delapan malam. Terlambat sedikit tidak apa, pikir saya.

Sebelumnya, saya sudah membuat janji dengan Bung Argo, akan berangkat dari rumah pukul 17.00. Mungkin mengerti apa yang sedang saya risaukan, satu setengah jam sebelum kami berangkat hujan sudah reda. Saya merasa, hujan barusan seperti hendak memberikan sambutan atas keberangkatan kami ke Omah Tani.

Kehadiran saya kali ini ke Omah Tani, adalah untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya, tahun 2010 lalu, saya juga pernah datang kesana. Saat itu Omah Tani sedang menyelenggarakan Pendidikan Blok Politik. Melihat bagaimana antusiasnya para petani berpolitik, tentu menambah semangat saya dalam melakukan kerja-kerja pemberdayaan.

* * *

Di atas bus jurusan Merak – Bekasi, saya banyak berbincang tentang lokakarya ini dengan Argo. Pengalaman saya ketika hadir di Omah Tani di tahun 2010 lalu, dan bagaimana menjadikan gerakan serikat buruh, khususnya di Serang, diperhitungkan sebagai gerakan politik. Apalagi, baru-baru ini kami juga telah melakukan pemetaan demokrasi lokal di Serang, dan juga menginisiasi terbentuknya Blok Politik Masyarakat Serang. Saya kira, ini tidak boleh berhenti hanya dalam paparan konsep di atas kertas. Tetapi benar-benar mewujud secara nyata.

Hampir dalam banyak kesempatan, buruh dan tani (juga nelayan) disebut bersamaan. Seperti dua sejoli. Berdampingan, dan ada keterkaitan kuat antara satu dengan yang lainnya. Namun tetap saja, dalam realitasnya, buruh – tani seperti berdiri sendiri-sendiri. Buruh sibuk dengan upah dan permasalahan di pabrik. Sedangkan petani sibuk dengan tanah dan permasalahan pupuk. Buruh sibuk dengan urusannya sendiri, begitu juga dengan petani. Padahal, jika itu dipadukan, niscaya akan menghasilkan perubahan besar dalam mewujudkan kesejahteraan di negeri ini.

Lebih dari itu, semangat saya untuk menghadiri lokakarya ini, adalah keinginan untuk mendalami proses politik yang sedang dimainkan omah tani. Bagaimana mereka berhasil membuat transformasi, dari gerakan petani ke gerakan politik. Ketika mereka berhasil menempatkan 11 kadernya sebagai kepala desa, dan 1 orang lagi sebagai anggota DPRD Batang. Dan tentu saja, pertanyaan mendasar berikutnya adalah, apa yang bisa diambil dari gerakan serikat buruh, menuju gerakan sosial dan politik yang sesungguhnya.

Saya kira ini sulit, tetapi sangat mungkin untuk dilakukan.

* * *

Pukul 19.30 saya sampai di TURC. Disana sudah hadir beberapa kawan. Sebut saja Bung Darta dari Aliansi Buruh Bandung, Bung Bayu dan bung Darda (Aliansi Buruh Jakarta), Bung Daden (Koalisi Buruh Sukabumi), Marwanto dan Roni Febrianto (FSPMI), Bung Saman (SPN), juga beberapa kawan lain yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Melihat teman-teman yang akan ikut lokakarya di Batang, saya semakin tersemangati. Semangat, karena sebagian besar dari mereka adalah teman-teman yang terlibat dalam pembentukan Aliansi Serikat Pekerja Serikat Buruh se-Jawa dan Sumatera, tepatnya di Gadog, Jawa Barat. Sekaligus menaruh harapan besar, Aliansi ini akan bisa belajar banyak dari teman-teman petani di Batang.

Nama-nama besar seperti Ridwan Monoarfa (anggota DJSN, KSPI), R. Abdullah (Ketua FSP KEP SPSI), Andi Gani Nena Wea (FSPSI), hingga Indra Munaswar (Sekjen FSP TSK Reformasi), yang disebut dalam TOR juga akan hadir dalam lokakarya ini memang berhalangan hadir. Akan tetapi, saya justru semakin yakin, bahwa acara ini akan menjadi konsolidasi bagi teman-teman di daerah. Mengapa? Sebab mereka akan leluasa dan tidak menjadi terbebani untuk mengeksplor potensi besar yang selama ini dimiliki. Terbukti, mereka adalah para tokoh gerakan buruh di tingkat lokal, yang sangat dekat dengan ‘akar rumput’.

Ketika Risna menanyakan kepada saya, apakah ada rasa kecewa ketika tahu Surya (Surya Tjandra) tidak bisa ikut ke Batang? Jawaban saya, tidak. Surya memang bisa jadi akan banyak memberikan inspirasi, tetapi tanpa kehadirannya, lokakarya ini tidak akan kehilangan makna.

Sejauh yang saya tahu, aliansi serikat buruh lokal yang tumbuh di banyak daerah, tidak pernah pusing dengan elit. Sebagian besar diantara mereka justru melawan arus kebijakan elit organisasinya. Gerakan hanya akan tercipta jika didasarkan pada kebersamaan dan solidaritas, dan bukan didasarkan pada ’individu’ perorangan. (Bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s