Transformasi Gerakan Buruh Menuju Gerakan Sosial dan Politik: Belum Tibakah Saatnya?

Tanggal 27 – 28 Mei 2011, Trade Union Right Centre (TURC) menyelenggarakan Lokakarya Gerakan Serikat Buruh Nasional: “Transformasi Gerakan Buruh Menuju Gerakan Sosial dan Politik” bertempat di Omah Tani, Batang, Jawa Tengah. Jika tidak ada aral melintang, saya akan hadir dalam lokakarya ini. Ini sekaligus menjadi kehadiran yang kedua bagi saya, setelah sekitar bulan Nopember 2010 lalu menghadiri Pendidikan Blok Politik, yang juga diselenggarakan di tempat ini.

Pertemuan saya dengan ‘Guru Demokrasi’ Petani Batang Handoko Wibowo yang pertamakali, dalam sebuah kegiatan di Swiss-Belhotel Jakarta, misalnya, cukup memberikan inspirasi tentang bagaimana kita mesti mengelola sebuah gerakan berbasis komunitas. Realitas petani di Batang dan buruh-buruh di Banten, jelas tidak bisa disamakan. Namun dalam mengakselerasi agenda-agenda politik, jelas sesuatu yang senantiasa bersentuhan.


Mengenal Handoko Wibowo

Sebagaimana dikutip di Kompas, 6 Februari 2006, sulit untuk tidak mengaitkan gerakan petani di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dengan pria lajang bernama Handoko Wibowo (44) ini.

Oleh kalangan aktivis demokrasi ia disebut aktor dominan atau aktor eksternal dalam proses demokratisasi di Batang. Oleh rezim yang berkuasa, ia mungkin disebut ”provokator” karena ikut menggerakkan berbagai unjuk rasa petani.

Namun, pengacara kelahiran Pekalongan 9 November 1962 itu lebih suka disebut guru gerakan petani di Batang. Rumahnya di Dukuh Cepoko, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Batang, adalah tempat persinggahan berbagai kalangan.

Handoko adalah kontradiksi. Ia berlatar belakang etnis China dan seorang Kristiani di tengah mayoritas Muslim petani pantai utara Jawa itu. Rumahnya—warisan orangtua—berdiri di atas tanah delapan hektar, di tengah petani penggarap yang rata-rata tidak punya tanah.

Kontradiksi ini pula yang sempat dipertanyakan aktivis Partai Rakyat Demokratik ketika berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Aktivis itu mempersoalkan kondisi borjuasi Handoko yang kontradiktif dengan kelompok petani yang dia perjuangkan. ”Sulit menjelaskannya, tetapi itulah misteri kehidupan,” kata putra sulung pasangan Teguh Budi Wibowo (almarhum) dan Lena Indriana itu.

Keputusannya bertahan sejak tahun 1998 hingga sekarang mendampingi petani Batang merupakan perpotongan pengalaman masa lalu ayahnya, pergaulan masa kecilnya dengan anak petani, serta rasa belas kasihan terhadap nasib petani penggarap Batang.

Ayahnya—orang terkaya di Batang periode 1960-an—ditahan tiga bulan karena diindikasikan anggota Partai Komunis Indonesia oleh orang China sendiri hanya karena aktif di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki).

Ayahnya juga menjadi korban pemerasan pejabat, sehingga selalu ingin dekat penguasa dan jenderal. ”Karena itu Ayah mendorong saya belajar hukum, supaya tidak dikurangajari,” tuturnya.

Eksperimen politik

Sekembalinya ke Bandar tahun 1987 seusai menamatkan kuliah hukum di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, ia mendapati perusahaan cengkeh ibunya bangkrut dan menjadi korban pemerasan. Setelah ikut membantu membereskan utang, tahun 1991 Handoko mendapat izin pengacaranya. Kasus pertama yang dia tangani adalah kasus ibunya sendiri menghadapi gugatan berhubungan dengan bisnisnya.

Kasus keduanya adalah menjadi anggota tim hukum Arief Budiman yang dipecat UKSW pada 31 Oktober 1994. Dari situ ia berkenalan dan belajar dari sejumlah advokat senior yang juga anggota tim, seperti Adnan Buyung Nasution dan Nursyahbani Katjasungkana.

Kasus publik yang akhirnya membuatnya ikut gerakan petani Batang adalah saat menjadi pengacara Keluarga Korban Limbah Kali Banger Pekalongan. Di Pengadilan Negeri Pekalongan dua tahun lalu kasus ini menang, kecuali ganti rugi yang dianulir dari Rp 750 juta menjadi Rp 50 juta.

Sejak itu ia didatangi warga yang berkonflik tanah. ”Kerja reformasi ini seperti kerja di sarang laba-laba. Makin kita berusaha keluar, makin ditarik,” ujarnya.

Pernah ada suatu fase, yaitu 17 Agustus 2001, ia sempat berpikir bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Ia sempat berpamitan kepada teman petaninya. Namun, besoknya rumahnya didatangi petani yang memintanya tidak pergi. ”Dengan berat hati tidak saya teruskan, tetapi tetap tinggal di sini,” katanya.

Mbah Mardjukan (77), petani yang pernah tinggal 15 tahun di Pulau Buru karena dituduh terlibat Barisan Tani Indonesia tahun 1965, terkesan oleh pidato Handoko yang dinilainya ”progresif revolusioner”. ”Ia berpidato agar petani segera sadar menuntut haknya atas tanah. Kata-kata ’menuntut hak’ itu kan politis,” ujar Mbah Mardjukan.

Tentang Lokakarya

Bagi saya pribadi, acara kali ini akan menjadi lebih istimewa. Yang membuat istimewa, tentu saja adalah tema dari kegiatan ini, yang menitik beratkan pada ‘gerakan serikat buruh’. Sebuah organisasi, dimana selama ini saya berkecimpung dan dibesarkan di dalamnya.

Dalam Kerangka Acuannya, TURC secara gamblang menjelaskan: Pertanyaan yang selalu menjadi dilema oleh pemimpin serikat buruh seperti yang ditulis John Ingleson, dalam buku berjudul “Tangan dan Kaki Terikat” adalah satu pertanyaan yang muncul dan mengundang berbagai persepsi. Sebagian berkeyakinan bahwa gerakan buruh harus diintegrasikan menjadi gerakan politik, sebagian yang lain “alergi” atau mungkin masih malu-malu ketika gerakan buruh masuk ke ranah politik. Tapi ada pula aliran yang berkeyakinan bahwa gerakan buruh merupakan bagian terpenting dan tidak boleh melepaskan diri dari gerakan sosial yang pada akhirnya berintegrasi menjadi gerakan politik.

Lahirnya aliansi-aliansi serikat buruh local di banyak daerah di Indonesia yang memperjuangkan isu buruh atau bahkan melampaui kepentingan buruh itu sendiri secara langsung (cth: aksi buruh Serang yang menuntut perbaikan infrastruktur terutama jalan di Serang), Aksi Forum buruh DKI yang mampu mengorganisir mogok besar-besaran di KBN Cakung yang pada akhirnya berhasil mendorong kenaikan upah minimum DKI Jakarta, Serta perjuangan Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat yang dimotori oleh serikat buruh demi terwujudnya jaminan sosial yang tidak diskriminatif dan limitatif bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah suatu gambaran bahwa gerakan buruh saat ini berpotensi bahkan diharapkan bertransformasi menjadi gerakan sosial dan politik.

Diskusinya kemudian, apakah serikat buruh yang ada saat ini sudah merupakan sebuah gerakan buruh yang kuat dalam artian punya pengaruh paling tidak dalam perjuangan isu buruh itu sendiri sehingga memang dianggap sudah cukup mapan untuk bertransformasi menuju gerakan sosial dan politik? Lalu bagaimana sesungguhnya proses atau apa yang harus dipersiapkan oleh gerakan buruh ketika bertransformasi menjadi gerakan sosial yang kemudian pula menjadi gerakan politik? Ketiga, bagaimana sesungguhnya bentuk yang paling ideal bagi gerakan buruh ketika akan bertransfromasi menjadi gerakan sosial dan Politik?

Sesungguhnya berbagai kajian telah dilakukan oleh beberapa lembaga dan menjadi bahan diskusi dalam jurnal (Jurnal Sosial Demokrasi) terkait tantangan dan peluang gerakan buruh menjadi gerakan politik. Sebagian pengamat masih pesimis bahwa gerakan buruh saat ini sudah siap untuk bertransformasi menjadi gerakan sosial dan poltik ditengah semakin kuatnya kekuatan modal dan fragmentasi serta kemandirian serikat buruh yang masih relatif rendah. Tapi, sebagian aktifis buruh malah optimis bahwa demokrasi di Indonesia saat ini berpotensi mendukung gerakan buruh berproses untuk bertransformasi ke gerakan sosial dan politik.

Lokakarya ini diharapkan dapat mewujud menjadi sebuah laboratorium bagi serikat buruh untuk menemukan jalan menuju persatuan serta pematangan gerakan buruh di Indonesia, guna mencapai cita-cita yang luhur yaitu kehidupan yang sejahtera dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s