FSPMI Jaya: Sepenggal Kisah dari Kawasan Industri Pancatama

“Bung tadi pak lurah ama carik minta ketemu ama pengurus puk, trus kami datangi bersama 30 orang pengurus dan perwakilan anggota”

Kalimat di atas adalah bunyi SMS yang saya terima, Jum`at malam tadi. Sebelumnya, saya mendapatkan informasi jika hari Jum`at pukul 4 sore, ketua PUK FSPMI – sebut saja begitu – yang berlokasi di Kawasan Industi Pancatama, Serang, diberitahu ‘preman’ untuk menghadap ke rumah Pak Lurah.

Memang, kondisi hubungan industrial di perusahaan ini sedang memanas. Dua hari sebelumnya, bersama Isbandi, saya masih sempat mendampingi teman-teman PUK di perusahaan itu bertemu dengan pihak Disnaker. Bahkan, dalam pertemuan yang juga dihadiri perwakilan perusahaan, Carik (yang sesungguhnya mantan sekretaris desa) juga melarang teman-teman PUK untuk hadir dalam pertemuan dengan Disnaker.

“Gimana bung, apakah saya datang?” tanya si Ketua PUK dengan wajah getir. Saya bisa menangkap keraguan dalam sorot matanya, apalagi sudah menjadi rahasia umum, perusahaan itu menjadi semacam tempat ‘mangkal’ preman bayaran perusahaan. Siapapun sulit untuk melupakan ingatan di awal tahun 2000-an, ketika Ketua PUK yang lama dipukuli preman saat berusaha mendirikan serikat pekerja, bergabung dengan FSPMI.

Faktor ini juga, yang membuat 1.300 pekerja di perusahaan itu seperti ketakutan ketika mendengar kata serikat pekerja disebut. Trauma yang begitu mendalam, di perusahaan yang bahkan masih ada pekerjanya tidak bisa baca tulis itu.

“Datang saja, tapi jangan sendiri. Ajak pengurus yang lain,” saran saya. Setidaknya, dengan begitu, kita bisa tahu apa yang sesungguhnya diinginkan Pak Lurah

Ada 4 PUK lain di Kawasan Pancatama, yang semuanya juga sudah siaga begitu mendengar preman luar mulai ‘mengganggu’ pengurus PUK di perusahaan itu. Satu hal yang pasti, dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, situasinya sudah jauh berubah. Anggota FSPMI, setidaknya di Serang, sudah lebih besar dan terorganisir. Dan ini adalah sugesti yang senantiasa menebar optimisme baru.

Kekompakan di dalam perusahaan sendiri, juga semakin menguat ketika mereka berhasil melakukan mogok kerja, meski hanya beberapa jam. Ini mungkin sesuatu yang sederhana, tetapi bagi pekerja/buruh yang sudah lama tereksploitasi tanpa berani memberikan perlawanan itu, sungguh sesuatu yang luar biasa. Sejarah baru saja tercipta.

Saya kira, pertemuan antara PUK dan Lurah ini juga akan menjadi sejarah. Apapun hasilnya. Jika pun Pak Lurah meminta FSPMI dibubarkan di perusahaan itu, kami sudah menyiapkan perlawanan. Apalagi jika ada pengurus/anggota FSPMI yang dipukul, tentu kami tidak akan tinggal diam. Bisa jadi, perusahaan ini akan menghadapi sebuah perlawanan yang kedahsyatannya belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Pukul 9 malam lewat beberapa menit, ketika akhirnya si Ketua PUK menelpon saya dan mengabarkan hasil pertemuan itu. Ternyata, pertemuan itu lebih sebagai curhat Pak Lurah dan carik (yang dikenal koordinator para preman), apa yang dikhawatirkan semula, teman-teman akan diintimidasi, tidak terbukti. Dengan kata lain, mereka tidak lagi menghalang-halangi keberadaan serikat pekerja di perusahaan itu. Bahkan mendukung serikat pekerja ada di perusahaan itu.

“Mungkin karena melihat kita kompak, bung?” ujar si Ketua PUK.

Saya membenarkan. Dan pertemuan itu sekaligus memberikan dampak psikologis yang cukup besar bagi kawan-kawan. Rasa takut luruh seketika. Mereka bahkan optimis, 100% persen karyawan akan bergabung dengan FSPMI pasca pertemuan dengan lurah ini. Ketika para preman tidak lagi berani menjamah pengurus PUK, karena kekompakan anggota FSPMI.

Dan jika saja benar, seribu tiga ratus pekerja itu kemudian sadar dan mengorganisir diri, situasinya tidak akan lagi serumit ini. Hidup buruh!

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s