Serikat Buruh Bukan untuk Diberangus

Pukul 09.00 lewat beberapa menit, ketika saya sampai di PT. S. Perusahaan pengolah kayu yang berlokasi di Balaraja, Tangerang. Puluhan orang bergerombol di depan pintu gerbang perusahaan. Mereka adalah pekerja PT. S, yang dimutasi ke Lampung dan Jawa Tengah, hanya karena membentuk Serikat Pekerja.

Melihat kehadiran saya, mereka menyambut dengan senyum sumringah. Dan sedetik kemudian, kami sudah larut dalam jabat tangan erat nan hangat. Ya, buat saya, selalu ada sisi personal yang meninggalkan kesan mendalam saat bertemu dengan teman-teman yang tergabung dalam serikat pekerja. Bisa jadi, suasana seperti ini, tidak pernah akan bisa saya jumpai jika saya tidak menjadi anggota serikat pekerja.

Tanpa serikat pekerja, saya merasa hanya sebagai individu, dan semata-mata sebagai buruh. Tak banyak jejak yang bisa ditorehkan: Rumah, tempat kerja, gajian, dan kantong kering ketika tanggung bulan. Jauh perasaan empati kepada sesama pekerja, juga perasaan bahwa saya tidak sendiri.

Hari itu, jam 10.00, memang ada agenda perundingan bipartit antara pengusaha dan pekerja terkait dengan perselisihan hubungan industrial yang terjadi. Saya, bersama 3 kawan lain dari PC FSPMI Tangerang, hadir untuk mendampingi teman-teman PT. S. Ya, kawan-kawan ini memang menjadi anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), yang tergabung di sektor Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI).

Sambil menunggu dipanggil manajemen untuk berunding, di dalam warung pinggir jalan, teman-teman banyak bercerita tentang kondisi kerja di PT. S. Tentang upah yang tidak beranjak dari nilai UMK, meski mereka sudah mengabdi hingga 9 tahun lamanya. Ada banyak hal lain, namun, yang selalu menarik perhatian saya, adalah tentang indikasi pelanggaran kebebasan berserikat yang dilakukan oleh pengusaha.

Dugaan sikap anti serikat itu terlihat, dengan mutasi yang ditujukan kepada 60 orang karyawan ke Lampung dan Jawa Tengah. Padahal, jelas-jelas ke-60 orang itu seluruhnya adalah pekerja yang mendirikan serikat pekerja di PT. S.

Tentu saja, para pekerja menolak mutasi tersebut. Ke-60 kawan-kawan ini berpendapat, bahwa apa yang dilakukan oleh PT. S adalah bentuk menghalang-halangi pembentukan serikat buruh, sebagaimana yang dinyatakan dalam pasal 28 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

Belum lagi, mereka mendapatkan informasi, perusahaan-perusahaan di Lampung dan Jawa Tengah tersebut tidak membutuhkan tenaga kerja pindahan (mutasi). Ini diperkuat dengan fenomena di PT. S sendiri, dimana manajemen selalu menggunakan dalih mutasi sebagai bentuk ‘hukuman’ bagi pekerja/buruh yang memiliki kesalahan. Dengan harapan mereka akan mengundurkan diri, karena tidak bersedia dimutasi jauh dari daerah asal.

Entahlah, sampai kapan kita mesti mengulangi-ulang, bahwa “Siapapun dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota atau tidak menjadi anggota dan/atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja/serikat buruh dengan cara: (a) Melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan, atau melakukan mutasi; (b) tidak membayar atau mengurangi upah pekerja/buruh; (c) melakukan intimidasi dalam bentuk apapun; (d) melakukan kampanye anti pembentukan serikat pekerja/serikat buruh.” Bahwa mereka yang melanggar ketentuan ini, sudah disediakan hukuman kurungan paling sedikit 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun, atau dengan 100 juta hingga 500 juta.

Buat saya, sikap kawan-kawan PT. S dengan menolak mutasi sudah tepat. Ini adalah bentuk union busting, dan karenanya menjadi sah bagi serikat pekerja untuk melawan hingga titik yang penghabisan.

Pengusaha PT. S sengaja mengalihkan isu pemberangusahan serikat buruh, dengan menyatakan bahwa mutasi adalah hak perusahaan, dan sudah dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Perusahaan. Hanya, memang, argumen nampaknya juga sengaja dipaksakan. Mengingat pengesahan Peraturan Perusahaan tersebut dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang, sehingga Peraturan Perusahaan PT. S tidak tepat digunakan untuk melakukan mutasi pekerja/buruh ke Lampung dan Jawa Tengah, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: Kep.48/MEN/IV/2004.

Dalam konteks itu, dalam pernyataannya, Ketua Konsulat Cabang FSPMI Kab./Kota Tangerang, Riden Hatam Aziz, SH meminta agar mutasi yang dilakukan PT. S terhadap ke-60 pekerja harus dibatalkan. Mengembalikan ke-60 karyawan ke tempat semula, dengan tanpa mengurangi hak-haknya. Satu hal yang juga perlu digaris bawahi, pengusaha harus menghormati keberadaan serikat pekerja, dan tidak lagi melakukan intimidasi dalam bentuk apapun.

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

https://kaharscahyono.wordpress.com/

2 thoughts on “Serikat Buruh Bukan untuk Diberangus

  1. Memang banyak trik dan cara untuk memberangus serikat pekerja salah satunya seperti hal tersebut pada tulisan di atas, dan ada salah satu yang paling bahaya dengan memasukan penyusup kedalam tubuh serikat pekerja, hal ini bertujuan memecah belah suatu serikat yang sudah dianggap solod oleh pengusaha…tidak ada jalan lain yaitu memasukan penyusup kedalam tubuh serikat pekerja…sebenarnya masih banyak cara-cara klasik yang dilakukan pengusaha untuk meberangus serikat pekerja, yang sampai saat ini belum dan tidak kita pahami…tapi ada satu cara mengatasinya dengan selalu melakukan konsolodasi dan pertemuan rutin antara pengurus dan anggota, dengan demikian kita semua akan terus berkomunikasi melalui pertemuan-pertemuan tersebut yang pada akhirnya akan membangun kebersamaan dan rasa senasib…yang pasti terus bergerak demi kesejahteraan buruh dan pekerja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s