Kaum Perempuan: Minat Besar Minim Keterwakilan

Bisa jadi, Kabupaten Serang Provinsi Banten menjadi surga bagi kaum merempuan. Betapa tidak, Wakil Bupati Serang saat ini adalah seorang perempuan. Begitu juga dengan Gubernur Banten, yang juga seorang perempuan.

Pertanyaan kritis yang layak untuk kita ajukan adalah, apakah dengan keberadaan perempuan dalam posisi sentral eksekutif membuat hak-hak perempuan terpenuhi? Apakah kekerasan terhadap perempuan bisa dihilangkan sama sekali? Apakah perda-perda yang tidak bias gender lahir tanpa halangan?

Nyatanya tidak. Setidaknya, menurut data yang pernah dikeluarkan dari Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Serang, jumlah wanita yang menjadi buruh di sejumlah pabrik di Kabupaten Serang memang lebih banyak daripada laki-laki. Tahun 2010, jumlah pekerja perempuan mencapai 60.038 orang (69,04 persen) sedangkan laki-laki hanya 26.928 orang (30,96 persen). Dan ironisnya, di tempat kerja, kaum perempuan rentan sekali mengalami diskriminasi, pelecehan seksual, dan ketidakadilan gender.

Bahkan informan kami mengungkapkan, alasan perusahaan menggunakan buruh perempuan di karenakan beberapa faktor, di antaranya perempuan cenderung tidak banyak protes, gajinya lebih murah, dan pekerjaannya lebih teliti.

Agak mengejutkan, ketika informan kami menilai, bahwa 70 persen kaum perempuan di Kabupaten Serang berminat terhadap politik. Ini adalah angka yang cukup besar untuk sebuah partisipasi dalam proses politik. Pada awalnya, kami sedikit kaget melihat data ini. Namun setelah melakukan konfirmasi ulang dengan beberapa informan, barulah kami menemukan alasan dibalik besarnya minat kaum perempuan di Kabupaten Serang terhadap politik.

Perlu ditekankan disini, bahwa definisi ‘berminat’ dalam pemetaan demokrasi ini adalah, “kaum perempuan yang ikut berpartisipasi dalam proses politik”. Tetapi proses ini tidak diikuti dengan kesadaran untuk terlibat aktif dalam politik guna melakukan dan mencapai perubahan. Bisa jadi mereka hanya memiliki ketertarikan, tetapi belum ditransformasikan kedalam aksi nyata untuk membuat perubahan.

Setidaknya, ada dua alasan mendasar yang bisa menjelaskan angka itu. Pertama, adanya perasaan diperlakukan diskriminatif dan tertekan inilah, yang kemudian turut mendorong kaum perempuan untuk ikut andil dalam melakukan perubahan. Kedua, akibat dari besarnya ’money politik’. Dengan redaksi lain, partisipasi mereka cenderung didasarkan oleh balas budi, karena salah satu kandidat sudah menebar amplop. Jika ini yang terjadi, sesungguhnya partisipasi politik yang terlihat besar itu sesungguhnya adalah semu. Alasan yang kedua ini bisa jadi mencerminkan kondisi itu. Sebab, hanya 2 persen informan kami yang menilai bahwa kaum perempuan sangat berminat terhadap politik, dan bersedia terlibat secara langsung untuk mencapai perubahan.

Menariknya, pernyataan bahwa kaum perempuan berminat terhadap politik sebagian besar justru diungkap oleh informan laki-laki (84,2 persen) ketimbang perempuan (66,7 persen). Ini mengindikasikan, bahwa besarnya minat kaum perempuan terhadap politik lebih diapresiasi oleh laki-laki ketimbang kaum perempuan itu sendiri. Tidak jarang kaum perempuan sendiri tidak menyadari besarnya potensi politik yang mereka miliki.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Memang harus dibuktikan lebih jauh, apakah besarnya minat kaum perempuan di Kabupaten Serang dalam politik dipengaruhi oleh keberadaan Wakil Bupati Kabupaten Serang dan Gubernur Provinsi Banten yang notabene adalah perempuan? Dengan kata lain, apakah posisi eksekutif di level Gubernur dan Kabupaten Serang yang ditempati perempuan, serta merta memacu tingkat partisipasi masyarakat terhadap politik? Jika jawabnya ia, mengapa jumlah anggota perempuan DPRD Kabupaten Serang masih sangat minim? Untuk menjawab ini, kita akan membedahnya dalam bab tersendiri, tentang siapa sesungguhnya aktor dominan penentu yang sangat mempengaruhi dinamika demokratisasi di Kabupaten Serang.

Memperluas Agenda PolitikDi satu sisi, informan kami beranggapan, bahwa upaya untuk mendorong partisipasi perempuan di dalam politik adalah dengan mempeluas agenda politik sehingga mencakup lebih banyak isu (45,5 persen), disamping meningkatkan kesadaran dan kapasitas politik kaum perempuan (40,9 persen). Sedangkan agenda untuk memperjuangkan kuota perempuan di legislatif dan eksekutif hanya sebesar 9,1 persen. Sisanya mendukung perempuan untuk menduduki jabatan-jabatan politik 4,5 persen.

Dari data ini kita bisa menyimpulkan, menduduki jabatan politik dan menambah kuota perempuan dalam eksekutif dan legislatif bukanlah sesuatu yang prioritas untuk dilakukan dalam upaya mendorong partisipasi kaum perempuan di dalam politik. Justru, yang terpenting dari itu adalah meningkatkan kapasitas politik mereka. Pendidikan Politik, atau semacamnya, menjadi prioritas untuk memberikan kesadaran politik terhadap masyarakat.

Tak berlebihan, jika kemudian dikatakan, bahwa kaum perempuan di Kabupaten Serang memang memiliki minat terhadap politik yang cukup besar, tetapi tidak bernafsu untuk menduduki posisi legislatif dan eksekutif.

Bisa jadi, ketertarikan kaum perempuan terhadap politik masih sekedar ikut-ikutan. Belum sampai pada tingkat adanya kesadaran untuk berperan serta secara aktif melakukan perubahan. Maka sangatlah tepat, jika kemudian diperlukan sebuah dorongan yang lebih besar untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas politik kaum perempuan, sehingga mereka bisa lebih aktif untuk berpartisipasi dalam melakukan perubahan.

Catatan Pemetaan Demokrasi: Kahar C. Cahyonohttp//kaharscahyono.wordpress.com

Catatan: Tulisan ini berbasis pada laporan hasil Pemetaan Demokrasi Lokal di Serang – Banten, Tahun 2010 – 2011 yang sudah di launching pada tanggal 9 April 2011 bertempat di Wisma Abdi Negara Serang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s