Blok Politik Demokratik: Kebutuhan atau Sekedar Angan-angan? (4)

Saya masih mengingat dengan baik, tepatnya dalam sebuah pertemuan yang dimulai dari tanggal 15 hingga 17 Januari 2010 bertempat di Hotel Mahadria, Serang, disepakati untuk membetuk Blok Politik Demokratik. Kami menamainya Rumah Komunitas, dengan asumsi bisa lebih diterima oleh masyarakat yang ’alergi’ terhadap politik.

Blok Politik Deokratik, sebagai sebuah wadah untuk mempersatukan kekuatan rakyat yang selama ini terpecah-pecah dalam kepentingan sektoral kedalam organisasi kerakyatan yang solid, terencana dan terkoordinasi, bagi saya adalah pekerjaan yang serius. Mungkin juga terlalu ambisius. Lebih mudah mendirikannya, ketimbang menjalankannya.

Saya tidak hendak menceritakan sekarang, apa saja hambatan-hambatan yang ada. Alih-alih mengeluh, saya lebih senang melihat peluang yang ada. Untuk menyegarkan ingatan, betapa Blok Politik Demokratik sebenarnya mampu menjawab permasalahan yang ada, berikut saya kutip beberapa prinsip Blok Demokratik seperti yang diuraikan dalam buku ‘Demokrasi di Atas Pasir.’

1. Blok Politik Demokratik sebagai Eksperimen Penguatan Representasi Popular

Ada beberapa problem yang melatarbelakangi munculnya gagasan pembentukan blok politik, antara lain:

Sistem representasi politik mengalami malfungsi karena lembaga-lembaga demokrasi dikuasai kalangan elite dominan.
Kedenderungan jalan pintas populis yang dilakukan aktor-aktor alternatif berorientasi pro demokrasi sangat tidak relevan dengan kebutuhan untuk memperbaiki representasi popular.
Upaya-upaya penguatan represe
ntasi yang dilakukan selama ini belum menyuntuh agenda untuk perubahan hubungan kekuasaan.

Blok Politik Demokratik dimaksudkan untuk membangun bentuk-bentuk representasi alternatif, yakni representasi berbasis kepentingan kerakyatan.

2. Blok Politik Demokratik sebagai Solusi untuk Defragmentasi Gerakan Pro-Demokrasi

Blok Politik Demokratik memang bukan satu-satunya jawaban untuk menanggulangi problem demokratisasi yang rapuh. Tetapi setidaknya gagasan ini dimaksudkan untuk memecahkan salah satu problem krusial, yakni fragmentasi gerakan pro-demokrasi.

Dengan Blok Politik Demokratik, kita bisa menggalang energi kolektif untuk kosolidasi dan koordinasi gerakan-gerakan pro-demokrasi yang sejauh ini terpecah-pecah, bukan saja karena perbedaan fokus gerakan di antara sesama mereka, tetapi juga karena tiadanya jaringan yang kuat.

Blok Politik Demokratik juga dimaksud sebagai jembatan antara partisipasi aktor di tingkat organised politics dengan aktor-aktor yang bekerja di tingkat gerakan sosial dan organisasi-organisasi sipil.

3. Momentum Pembentukan Blok Politik Demokratik: Peluan dan Basis Dukungan Sosial

Meskipun menghadapi tantangan berat, ada peluang untuk membangun basis sosial yang yang luas bagi gerakan penguatan representasi popular. Potensi itu bisa menjadi potensi dukungan sosial yang luas, dari berbagai aktor masyarakat yang memiliki minat besar terhadap politik, tetapi sangat kritis terhadap praktek politik aktualm yakni praktek politik etis.

Dalam situasi itu, kita perlu memetakan sektor-sektor sosial mana saja yang sudah mengalami tahap ”politisasi” semacam itu, juga mengklasifikasikannya sesuai dengan tiga bentuk representasi: Representasi politik, representasi kepentingan, dan kerepesentasi kewargaan. Sektor-sektor massa politik baru yang sedang menunggu itu memerlukan bentuk-bentuk pengorganisasian yang kuat, solid, terbuka, inklusif, dan partisipatif.

Blok Politik Demokratik adalah institusional yang dibayangkan bisa dikerjakan di tengah-tengah momentum seperti itu.

4. Agenda Utama Blok Politik Demokratik

Ada lima agenda inheren di dalam upaya membangun Blok Politik Demokratik.

Pertama, Blok Politik Demokratik dimaksudkan untuk melindungi demokratisasi berbasis HAM – termasuk hak-hak sipil dan politik serta bentuk-bentuk representasi politik yang lebih demokratis – dan skenario politics of order kalangan elit dominan melalui konsolidasi demokrasi oligarkisnya.

Kedua, Blok Politik Demokratik dimaksudkan untuk memajukan pemerintahan lokal yang partisipatorism termasuk partisipatory budgeting, dan partisipatory sustainable planning.

Ketiga, Blok Politik Demokratik berkepentingan untuk memajukan partisipasi perempuan, juga mempromosikan perspektif dan isu perempuan dalam masalah-masalah politik.

Keempat, Blok Politik Demokratik berkepentingan pula untuk memajukan berbagai bentuk pakta sosial, khususnya dalam rangka: (a) melawan hubungan simbiosis penuh kepentingan antara negara, bisnis, dan komunalisme; (b) memajukan pembangunan ekonomi yang memiliki wawasan tentang pertanggungjawaban sosial keberlanjutan lingkungan; dan (c) membuka jalan bagi munculnya sistem reprsentasi berbasis kepentingan dari bawah, khususnya untuk melawan agenda-agenda korporatisme atasnya.

Kelima, secara khusus pembentukan Blok Politik Demokratik dimaksudkan pula sebagai langkah-langkah kongret demonopolisasi sistem representasi dan sistem kepartaian yang semakin lama semakin tertutup:

a. Untuk membuka peluang terciptanya sistem representasi popular – sebagai akternatif terhadap sistem representasi elitis yang berlaku sekarang.
b. Untuk memperluas peluang membangun partai politik dari bawah, dari konteks lokal
c. Untuk membuka peluang lebih luas bagi representasi kepentingan berbasis (gerakan) sosial
d. Untuk membuka partisipasi luas perempuan dan perspektif perempuan dalam politik
e. Untuk memajukan hak-hak ekonomi dan sosial
f. Untuk memajukan pakta-pakta sosial dalam rangka menjamin terselenggaranya hak memperoleh pekerjaan, jaminan sosial, perlindungan lingkungan, sekaligus pertumbuhan ekonomi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s