Mendekatkan Gerakan Serikat Buruh kedalam ‘Episentrum’ Politik!

Dimana peran kita dalam Pemilihan Gubernur Banten yang akan digelar tahun 2011 ini?Pertanyaan itu meluncur tajam, dalam rapat pengurus FSBS pada hari Sabtu (05/03) yang lalu. Sebenarnya, jauh sebelum ini, dalam obrolan ringat bersama kawan-kawan, isu Pilgub sudah sering kami bahas. Namun karena pertanyaan itu disampaikan dalam sebuah rapat, tentu saja perlu disikapi dengan lebih serius. Membutuhkan pemikiran ekstra, sebelum tiba pada sebuah keputusan final.

Sebagai pribadi, bagi saya – mungkin juga yang lain – tidak terlampau sulit menjawab pertanyaan tentang peran apa yang mesti kita mainkan dalam pilkada. Namun untuk menjadikan ini sebagai keputusan organisasi, nampaknya bukanlah sesuatu yang dengan mudah bisa disepakati. Belum lagi jika kita melihat realitas yang ada, hingga hari ini pekerja/buruh sendiri juga belum satu suara ketika ditanya tentang perlukah gerakan serikat buruh berpolitik? Jika perlu, mekanismenya bagaimana?

Ini tentang satu pertanyaan. Akan tetapi jika diuraikan, akan lahir pertanyaan-pertanyaan lain yang patut kita jawab. Mengutip Terms of Reference diskusi bertema ‘Buruh dan Politik: Tantangan dan Peluang Gerakan Buruh Indonesia Pasca Reformasi’ yang dilakukan di Kantor FES-Jakarta pada 20 November tahun lalu, beberapa pertanyaan lain menjadi penting untuk dijawab:

Pertama, jika kita sepakat bahwa ideologi merupakan sebuah kumpulan ide, gagasan, pengetahuan, sistem nilai, bahkan struktur kesadaran yang berhubungan erat dengan kepentingan kelas tertentu; dan memiliki solusi konkret untuk menjawab kebutuhan kelas tersebut (seperti diteorikan Mazhab Frankfurt), apa sesungguhnya yang menjadi basis ideologi gerakan buruh Indonesia; yang direpresentasikan oleh begitu banyak organ SB di negeri ini?

Kedua, mengapa gerakan buruh di Indonesia yang secara historis memiliki tradisi kuat sebagai gerakan politik, tidak eksis secara politik, seperti yang berlangsung pada gerakan buruh di Eropa, Amerika Latin, Jepang, atau Korea Selatan?

Ketiga, mengapa gerakan buruh Indonesia pasca reformasi yang tampil dalam jumlah yang demikian banyak, dalam relasinya kerap memperlihatkan kecenderungan konfliktual dan fragmentatif di antara elemen serikat yang ada?

Keempat, mengapa partai buruh (atau setidaknya partai politik yang mengidentifikasi dirinya sebagai partai “buruh/pekerja”), sejak pemilu 1999 hingga pemilu 2009 lalu tak pernah mampu mendulang perolehan suara secara signifikan; apalagi lolos dari syarat parliamentary trashold?

Kelima, mengapa gerakan buruh Indonesia hingga kini tak memiliki pilihan atau setidaknya relasi yang bersifat permanen dengan partai politik tertentu, sehingga agenda perjuangan di level struktural (penyusunan kebijakan negara secara formal di parlemen yang pro buruh) bisa lebih dimaksimalkan?

Keenam, mengapa gerakan buruh Indonesia—hingga hari ini—sulit menanggalkan corak perjuangan normatif (sekedar meningkatkan kesejahteraan anggota, menuntut kenaikan gaji, memperbaiki kondisi kerja, dan sejenisnya) dan masuk ke dalam domain gerakan sosial (social unionism); menjadi bagian integral dari kekuatan sosial progresif yang berperan aktif dalam merubah orientasi kebijakan politik, ekonomi, dan social negara?

Ketujuh, mengapa para pengurus serikat/elite buruh dituding banyak pihak kini makin terlihat terjangkiti virus feodalisme dan kultur feodalisme ?

Kembali ke pertanyaan awal, peran apa yang diambil FSBS dalam Pilgub Banten?

Saya tidak bisa mengatakannya sekarang. Sebab, kami juga belum selesai mendiskusikan hal itu. Hanya saja, sebagai sebuah element ketenagakerjaan yang peduli terhadap politik (FSBS memiliki seorang Koordinator yang membidangi Politik, Hukum, dan HAM), pada saatnya kami akan menyampaikan sikap yang jelas dalam Pilgub nanti.

Apalagi, FSBS menjadi pendiri sekaligus bergabung dalam Rumah Komunitas, sebuah blok politik yang diharapkan mampu menjadi kekuatan politik alternatif di Serang- Banten. Itulah sebabnya, dalam konteks pesta politik di provinsi Banten, saya mendorong agar Rumah Komunitas lebih banyak perperan.

Mengenal Rumah Komunitas

Rumah Komunitas merupakan blok politik demokratik yang ada di Kabupaten Serang, dan berdiri sejak tahun 2009. Kami mendefinisikan Rumah Komunitas sebagai wadah bagi komunitas/organisasi di Kabupaten Serang untuk berkumpul dan melakukan aktivitas sosial politik. Bukan hanya dari kalangan pekerja/buruh, siapapun, asalkan memiliki platform sama, pintu Rumah Komunitas terbuka lebar untuk menerima.

Selain Rumah Komunitas, FSBS juga terlibat dalam pembentukan Benteng Demokrasi, sebagai blok politik demokratik di Kabupaten Tangerang pada pertengahan tahun 2010. Blok politik demokratik sendiri bukanlah ide orisinil dari FSBS. Pembentukan blok politik demokratik merupakan rekomendasi dari Laporan Eksekutif Survei Nasional Demos 2007 – 2008, yang salah satunya fungsinya untuk memperbaiki devisit demokrasi.

Ketika kemudian mencoba untuk membangun blok politik di Serang dan Tangerang, ini lebih karena kami merasa bahwa ini adalah model yang tepat bagi element gerakan sosial dalam melakukan aktivitas politik untuk mempromosikan demokrasi yang bermakna.

Dalam waktu dekat ini, Rumah Komunitas akan melakukan launching hasil Riset Pemetaan Demokrasi di Kabupaten Serang yang kami lakukan sejak 6 bulan yang lalu. Kami berharap, hasil pemetaan demokrasi ini bisa menjadi semacam peta bagi element gerakan sosial dalam menyusun agenda menuju demokratisasi substansial.

Jika kemudian ditanya, apakah buruh akan berpolitik?

Saya hanya akan mengingatkan, pada tahun 2009 kita sudah memulai. Terbukti, dengan banyaknya pimpinan/elit buruh yang menjadi caleg di DPRD hingga DPR RI. Hasilnya? Gagal! Berpolitik adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, saya tidak akan ragu untuk mengatakan, sudah saatnya serikat buruh membangun sayap politik. Dan bukannya melakukan politisasi terhadap tubuh serikat buruh itu sendiri. (*)

Catatan ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
Aktivis dan Penulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s