Memaknai Bicaralah Perempuan

Ketika membaca pengumuman audisi menulis “Asma Nadia Inspirasiku’ di Leutika Publisher, saya merasakan betapa lagit di atas kepalaku membahana oleh suara: tulis – tulis – tulis…. Saya pernah kehilangan energi yang sedahsyat ini, namun hari ini, serasa menemukannya kembali. Hanya, memang, kali ini benar-benar berbeda. Saya seperti menjadi bensin yang tersulut api, kobaran semangat itu menyala dengan dahsyatnya. Jangan tanya kenapa, ini saya akan menjelaskan….

Pertama, belakangan ini saya mengetahui ada banyak sekali lomba menulis yang diselenggarakan oleh lembaga maupun perorangan. Meskipun banyak yang tidak saya ikuti, namun informasi ini sesungguhnya membuat semangat saya untuk terus menulis tetap terjaga. Saya paham, tanpa ada lomba pun, peluang menulis sangat terbuka. Mengingat ada sekian banyak media massa dan penerbit yang siap untuk menampung karya-karya kita. Akan tetapi lomba menulis jelas lebih menantang. Setidaknya, dengan memenangkan sebuah perlombaan, kita bisa mengklaim sebagai juara.

Kedua, dalam beberapa minggu terakhir ini, bersama sahabat saya, Chaerudin Saleh, difasilitasi Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS) saya mengadakan pelatihan menulis untuk buruh-buruh pabrik. Memotivasi teman-teman buruh yang selama ini dianggap memiliki raport merah dalam dunia literasi, rasanya memberikan sensasi tersendiri. Kami menggagas lahirnya sebuah buku. Benar-benar dari awal. From zero to hero. Pada saatnya nanti, kami yakin akan berucap dengan sepenuh hati, bahwa buruh-buruh pabrik itu akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu nan indah, menjadi sosok yang lebih kreatif. Bukan saja pekerja keras, tetapi juga pekerja cerdas.

Ketiga, saya sedang menyelesaikan penulisan riset ‘Pemetaan Demokrasi Lokal’ di Kabupaten Serang yang didukung oleh sebuah lembaga kajian dan advokasi hak asasi manusia di Jakarta. Secara bersamaan, saya juga tengah merampungkan ‘Jejak Langkah Sang Aktivis’, dan ‘Asa di Jalan Kenari’ bersama dengan alumni pendidikan ekstrakurikuler jurnalistik Smekensa.

Keempat, baru-baru ini, novel saya menjadi salah satu dari 5 novel yang akan diterbitkan oleh Leutika Prio. Tentu ini bukan capaian yang spektakuler. Tetapi saya suka dengan apa yang saya kerjakan, dan itu tidak tidak bisa dinilai dengan uang.

Kelima, ‘Bicaralah Perempuan’ buku yang kami tulis secara gotong royong dengan teman-teman lain dari berbagai daerah dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan mendapatkan apresiasi yang luar biasa hangat. Buku ini menjadi bahan diskusi Biro Perempuan FSBS di beberapa tempat. Betapa sesungguhnya perempuan adalah sosok hebat yang bisa menginspirasi adanya perubahan. Pada perkembangan lebih lanjut, sampailah Bicaralah Perempuan menjadi dwilogi, dengan buku kedua berjudul ‘Senyum Bulan Desember’.

Ya, rasanya lima hal inilah yang membuat saya merasa benar-benar hidup dalam lingkungan penulis. Menjadi lebih bersemangat. Aktivitas saya yang akhir-akhir ini berkutat dengan tulis menulis – yang sesungguhnya bukan pekerjaan utama – membuat saya merasa bahwa menulis adalah mata air yang tidak pernah habis kita uraikan.

Pada titik ini, akhirnya saya percaya, bahwa menulis adalah adalah dengan melakukan, bukan dengan memikirkan. Jika kita berada di zona itu, dengan sendirinya kita akan memiliki nafas panjang untuk mencintai kata.

Bicaralah Perempuan

Pada akhirnya, saya memang ingin berbagi kisah tentang Bicaralah Perempuan. Buku yang diterbitkan secara POD oleh Leutika Prio ini memang mendapat tempat tersendiri di hati saya. Mungkin bukan hanya saya, tetapi juga pembaca yang lain. Hal yang juga membanggakan, Bicaralah Perempuan juga masuk dalam daftar buku terlaris di Leutika Prio.

Saya hendak sedikit berbagi kisah tentang buku yang sudah menginspirasi saya ini. Sebagi informasi, buku ini bisa dibeli secara online DISINI. Atau jika masih kesulitan, silahkan kirim e-mail ke: bicaralahperempuan @ yahoo.co.id.

Hal lain, yang membuat Bicaralah Perempuan lekat di hati saya, karena ini adalah untuk pertamakalinya saya menerbitkan buku melalui self publishing. Dan juga, ini adalah proyek sosial. Berapapun royalty yang kami dapatkan nanti, akan disumbangkan kepada Biro Perempuan FSBS untuk kegiatan-kegiatan permbedayaan pekerja/buruh perempuan di Kabupaten Serang. Bukan soal nominal, tetapi sebuah kebahagiaan bisa memberikan sumbang sih untuk membangun sebuah peradapan. Untuk memanusiakan manusia.

Sebagai pengalaman pertama dalam self publishing, tentu ini memberikan kesan mendalam. Setidaknya, self publishing telah membuka jalan untuk berbicara apa adanya. Untuk berkreasi sepenuh hati, dan juga, menjadi diri sendiri. Seperti namanya, Bicaralah Perempuan, dia menjadi apa adanya. Dekat, dan dituturkan dengan hangat. Orisinil.

Dukungan dari Forum Solidaritas Buruh Serang dan Komnas Perempuan – yang mensupport Bicaralah Perempuan – menjadi semacam ‘garansi’ bahwa buku ini memang memiliki ‘nilai’.

Bicaralah Perempuan menjadi tonggak penting dalam hidup saya. Saya pernah menjadi Pemimpin Redaksi sebuah majalah, pernah menerbitkan beberapa buku, pernah aktif menulis di media massa, tetapi kemudian dalam rentang waktu yang lama tidak menulis. Ketika Bicaralah Perempuan terbit, inilah saat-saat saya merasa menemukan kembali sesuatu yang pernah saya tinggalkan. Beragam kisah mewarnai perjalanan hidup seorang anak manusia, dan begitu dahsyatnya ketika kisah-kisah itu diabadikan

Tentu saja, saya juga banyak belajar dan terinspirasi dari para penulis berbakat yang ikut menulis dalam Bicaralah Perempuan. Saya merasa sangat istimewa bisa berada di tengah-tengah mereka. Kebanyakan dari mereka sudah menerbitkan buku, baik antologi maupun tunggal. Beberapa diantaranya, menjadikan Bicaralah Perempuan sebagai buku pertama mereka. Lepas dari semua itu, sesungguhnya saya semakin sadar, bahwa siapapun berhak menulis. Menjadi penulis. Jalan terbuka untuk itu.

Tidak berlebihan, jika Pram pernah berkata, bahwa menulis bekerja untuk keabadian. Bagimana dengan anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s