Menulis Kejayaan FSPMI (4)

Dalam satu kesempatan, saya pernah berdiskusi dengan seorang kawan yang pernah menjadi anggota serikat pekerja. Menurutnya, saat ini serikat pekerja sudah ‘dibajak’. Serikat Pekerja sudah tidak lagi menjadi alat untuk memperjuangkan kesejahteraan anggota dan keluarganya, tetapi serikat pekerja menjadi alat untuk kesejahteraan para pengurusnya.

Saya tidak segera menanggapi pernyataan itu. Sebagai pengurus serikat pekerja, tentu saja saya tersinggung. Saya diam, sebab saya merasa bahwa pernyataan itu bukan ditujukan kepada saya, jadi enjoy aja….

“Anda lihat, betapa banyak orang yang menjadi pengurus serikat pekerja untuk memperkaya diri sendiri? Bukannya mengabdi pada amanah, tetapi untuk mengejar gengsi dan popularitas pribadi?” masih kata kawan saya tadi.

Saya mencoba untuk menjadi pendengar yang baik. Saya bisa merasakan betapa sakitnya hati ini, saat harapan untuk mendapat perlindungan hanya bertepuk sebelah tangan. Saat surat pemutusan hubungan kerja berada di tangan, namun serikat pekerja yang ada justru tidak melakukan pembelaan. Saat belasan tahun bekerja di bagian produksi dengan status kontrak, namun serikat buruh tidak melakukan apa-apa. Saat cost terus ditarik, namun uang organisasi hanya digunakan untuk hura-hura dan ‘menggaji’ pengurusnya tanpa kerja nyata.

“Jika kenyataanya seperti itu, tidak menjadi anggota serikat pekerja juga tidak ada ruginya.”

Sebagai penulis, saya tidak ingin menutupi pandangan beberapa orang yang masih menilai negatif terhadap serikat buruh. Hanya, memang, saya ingin mengatakan disini, bahwa sikap buruk oknum pengurus serikat pekerja bukan alasan bagi kita untuk menjauhi serikat pekerja. Serikat pekerja hanya sebuah wadah, sedangkan kita adalah nyawa yang akan menggerakkannya. Jika kita menghendaki ke Utara, maka dia akan bergerak ke utara. Jika kita ke Selatan, dia juga akan mengikuti ke belakang. Tidak berlebihan jika saya mengatakan, untuk melihat bagaimana watak dan kebijakan serikat pekerja, lihatlah siapa saja yang duduk di dalamnya.

Saya tidak hendak mengatakan apa saja yang telah diperbuat oleh Federasi Serikat Metal Indoensia (FSPMI) dalam usianya yang ke-12 ini untuk kejayaan dan kesejahteraan masyarakat pekerja. Saya kira, kawan-kawan memiliki ingatan yang lebih baik dari saya terkait dengan capaian bersama kita. Apakagi, jalanan sudah mengabadikan seberapa kita konsisten. Matahari menyaksikan betapa kita tidak pernah ingkar janji.

* * *

Untuk sebuah pembuktian itu, saya teringat kawan seperjuangan. Sebut saja, Darto. Lelaki asal Lampung ini di PHK ketika mendirikan FSPMI di sebuah perusahaan di Serang – Banten. Memang, alasan PHK kepadanya bukan karena alasan mendirikan serikat pekerja. Melainkan sebuah alasan lain, yang sebelum terbentuk serikat pekerja selalu diabaikan oleh majikan di tempatnya bekerja.

Advokasi dilakukan. Aksi solidaritas, juga. Beragam cara dicoba. Termasuk dengan ‘mantra-mantra’ yang terdapat dalam pasal-pasal pelanggaran kebebasan berserikat yang ada di UU 21/2000. Nyatanya tidak memberikan pengaruh apa-apa.

Lamanya proses PHI, dan kebutuhan ekonomi keluarga yang mendesak untuk dipenuhi, membuat Darto mengangkat bendera putih. Menyerah. Saya dengar, saat ini sosok bersahaja yang pernah melewati malam-malam berdiskusi dengan saya dan teman-teman ini sudah kembali ke kampung halaman.

Saya masih mengingat sampai sekarang perkataan istrinya Darto, “seandainya suami saya tidak mendirikan serikat buruh, mungkin dia masih bisa bekerja hingga usia pensiun nanti.” Nadanya menyalahkan.

Betapa banyak kawan yang telah kehilangan pekerjaan ketika memperjuangkan eksistensi organisasi ini. Darto tidak sendirian, saya kira. Lagi pula, jalan PHK banyak ragamnya. Saya tidak mengtatakan bahwa gara-gara serikat pekerja banyak orang di PHK. Saya hanya mengingatkan, agar para elit FSPMI tidak jumawa dan lupa diri saat organisasi ini memasuki ultahnya yang ke-12.

Salam Solidaritas. Hidup FSPMI!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s