Menulis Kejayaan FSPMI (3)

Masih lekat dalam ingatan saya, bagaimana saat pertamakali mendirikan FSPMI di tempat saya bekerja, PT. Sanex Qianjiang Motor Int`l, Tbk. Ketika itu, motor Cina sedang jaya-jayanya. Bung Mulyono (almarhum), yang dipercaya sebagai ketua PUK meminta saya menjadi Bendahara.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana awalnya, tiba-tiba diminta menjadi bendahara. Dalam rapat-rapat persiapan sebelumnya, bahkan saya sama sekali tidak dilibatkan. Diberitahu pun tidak. Belakangan saya mendapat jawaban, bahwa hal itu dilakukan teman-teman karena posisi saya yang saat itu sebagai staff PPIC dianggap lebih pro ke manajemen.

“Kita akan mendirikan serikat pekerja FSPMI di perusahaan ini.” Kata Bung Mulyono. Matanya tajam memandang kearahku. “Saya berharap mas Kahar bisa bergabung di kepengurusan,” lanjutnya.

“Apa itu FSPMI?”

“Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. Sebuah federasi yang didalamnya terdiri dari 5 serikat pekerja anggota: Serikat Pekerja Logam, Serikat Pekerja Elektronik-Elektrik, Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen, Serikat Pekerja Dirgantara, serta Serikat Pekerja Dog dan Galangan Kapal. FSPMI juga tergabung dalam konfederasi KSPI. Sedangkan di tingkat nasional, FSPMI menjadi anggota International Metal Federation yang memiliki anggota lebih di 100 negara.” Penjelasan panjang yang membuat saya terkagum dengan organisasi ini.

Mendengar penjelasan itu, saya langsung tertarik. Buat saya, sejak pertamakali mendengarnya, FSPMI adalah nama yang gagah. Nama yang indah. Meskipun masih hijau soal serikat buruh, tetapi setidaknya sejak saat itu saya sudah mulai belajar terlibat dan bergabung dalam barisan para pejuang sosial.

Selain Bung Mulyono sebagai ketua pimpinan unit kerja, ada Ipah Ema Jumiati sebagai sekretaris (sekarang dosen Universitas Tirtayasa). Ini adalah masa-masa yang sangat berat bagi kami. Awal tahun 2000-an, di Serang-Banten, mendirikan serikat buruh berarti harus siap kehilangan pekerjaan. Belum lagi, harus siap menghadapi intimidasi para preman, dengan ancaman bukan main-main. Pembunuhan. Benar, kejadian seperti ini tidak hanya ada di Serang. Di berbagai daerah, bahkan. Hanya, memang, kisah yang sedang saya ketengahkan ini adalah pengalaman kami. Saya percaya, kawan-kawan di daerah lain memiliki karakteristiknya tersendiri.

Mulyono adalah penjaga organisasi yang berani. Saya sempat berfikir, seandainya dibelah, dalam jantungnya terukir nama ‘FSPMI’. Tidak ada hal lain yang dibicarakan jika ketemu saya, selain bagaimana membesarkan FSPMI.

Dengan sepeda ontel (bukan motor), dia menyusuri Kampung Baru menuju Perumahan Cikande Permai, sempat Sekretariat Cabang FSPMI berada. Dan itu dilakukannya hampir tiap hari, sepulang kerja. Untuk ngirit ongkos, tak jarang saya ikut di boncengan belakang. Dan jika ingin cepat sampai, maka kami melalui jalan pintas dengan memotong lewat Tanjakan. Menuntun sepeda melalui pematang sawah, yang tidak bisa dilewati jika hujan turun karena licin dan berlumpur.

Jika ada satu orang pun yang berani melecehkan FSPMI, bung Mulyono selalu berdiri paling depan. Pernah satu ketika dia berkelahi, hanya karena tidak terima organisasi ini direndahkan. “Orang boleh menghina gue, tapi jangan hina organisasi ini,” katanya dengan mata merah menahan marah.

* * *

Sejak Hitachi dan Tamura tutup, FSPMI di Serang nyaris lumpuh. Saat itu hanya ada 5 unit kerja, dengan jumlah anggota yang terbilang kecil (hingga saat ini sebenarnya juga masih kecil). Jangankan untuk operasional, untuk sewa kantor saja, cost yang terkumpul dari ke-5 PUK itu tidak mencukupi.

Ketika situasi ini terjadi, Bung Wahyu menjadi ketua PC, dan Bung Mulyono adalah bendaharanya. Saya menjadi saksi, bagaimana kas PUK PT. Sanex Motor banyak mengalir untuk mendanai kegiatan-kegiatan pimpinan cabang.

Satu persatu PUK baru mulai bergabung. JRD GROUP menyatakan bergabung dengan FSPMI setelah menghadiri seminar yang kami selenggarakan di Kantin PT. Sanex. Hanjin menyusul kemudian, setelah kami mengadakan pelatihan di ruang kelas Yayasan As-Sanariyah. Hingga akhirnya, yang sebelumnya FSPMI tidak memiliki wakil di Depekab dan Tripartit, berhak memiliki wakil di kedua lembaga itu karena verifikasi keanggotaannya memenuhi syarat untuk itu.

“FSPMI di Serang harus besar, bung. Anggap saja kegiatan PC adalah kegiatan PUK, sehingga jangan merasa berat hati untuk mengeluarkan kas kita,” kata-kata ini masih saya kenang. Hingga sekarang. Kalimat itu yang terucap, tepatnya di Pantai Anyer, saat saya baru saja terpilih sebagai ketua PUK PT. Sanex dalam Musnik II. Tradisi ini berlanjut, hingga PT. Sanex bangkrut dan menutup pabrik.

Beberapa tahun lalu, saat mendapat kabar meninggalnya bung Mulyono, tentu saja kai terkejut . Padahal beberapa hari sebelum meninggal, dia masih menelpon saya dan menanyakan bagaimana kabar FSPMI di Serang. Ach, seandainya sosok bersahaja ini masih bisa menatap mentari, akan kukabarkan kepadanya bahwa saat ini FSPMI merayakan ultahnya yang ke-12.

* * *

Saya memang tidak ikut membidanai kelahiran FSPMI. Tetapi sebagai generasi kesekian dalam organisasi ini, saya tetap saja tidak bisa menerima jika FSPMI dinilai hanya dari kondisinya yang sekarang. Didalamnya ada sejarah panjang perjuangan. Pengorbanan dan air mata. Kebesaran FSPMI menyatu dengan sejarahnya itu. Mengabaikan mereka yang pernah berjasa kepada oranisasi ini, justru akan menciderai sejarah itu sendiri.

Juga bukan sifat kita, saya kira, yang membusungkan dada dan mengatakan, akulah yang paling berjasa bagi kejayaan FSPMI. Biarkan pengorbanan dan dedikasi itu mengudara bersamaan dengan kibaran bendera dan panji-panji kebesaran organisasi. Kita-lah yang akan selalu mengenang semua dharma dan bhakti itu. Sebab ketika nama FSPMI disebut, dengan sendirinya mereka ada didalamnya.

Beribu orang telah di PHK saat mendirikan FSPMI di perusahaan tempat mereka bekerja. Masihkah kita tega menari diatas luka mereka? (*)

Iklan

8 pemikiran pada “Menulis Kejayaan FSPMI (3)

  1. Salam Solidaritas FSPMI PT DELCO PRIMA PACIFIC.Sekarang kami bangkit!!!!!!!! kembali setelah sekian tahun konsolidasi di dalam tubuh fspmi PT DELCO PRIMA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s