Menulis Kejayaan FSPMI (2)

Waktu terus bergerak. Kemarin sudah menjadi kenangan. Hari ini kenyataan, dan esok segera datang. Begitupun dengan FSPMI, selalu bergerak. Sudah tak terhitung berapa banyak jiwa-jiwa ikhlas yang dinamis terus merangsak mengibarkan panji-panji kebesaran organisasi. Dan memang harus begitu, sebab organisasi yang didirikan untuk membela, melindungi, serta mempejuangkan hak dan kepentingan anggota ini menjadikan gerakan sebagai roh dari perjuangan. Bukan dengan retorika, sebab permasalahan kaum buruh tidak akan pernah selesai dengan hanya melalui kata-kata.

“Bung, tolong agar saya tidak sampai di PHK. Saya masih memiliki banyak hutang dan tanggungan,” senja itu seorang anggota dengan suara bergetar berkata kepada saya. Tidak sendirian, anggota tadi datang ke rumah bersama istri dan ketiga anak balitanya.

Tentu, sebagai pribadi, saya tidak bisa memberikan jaminan apa-apa. Satu-satunya harapan yang masih ada, bahwa FSPMI – secara organisasi – tidak akan tinggal diam. FSPMI akan selalu bersama setiap anggota dan siap sedia membela hak-hak mereka. Bagaimanapun, kita sudah menjadi satu keluarga. Keluarga Besar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia.

Jika kemudian banyak yang menjadi seperti orang gila, melakukan diskusi panjang dan pulang hingga menjelang tengah malam untuk sebuah kerja advokasi, saya kira itu karena Tuhan telah bekerja secara misterius untuk membantu kita.

Masih basah dalam ingatan saya, ketika akhirnya anggota tadi bisa terhindar dari PHK. Bahkan karena begitu senangnya, sekedar ucapan terima kasih pun lupa terucapkan. Dan memang, kami tidak mengharapkan imbalan apapun. Mungkin karena sudah terbiasa, hal-hal seperti ini tidak lantas membuat kita berhenti. Sebab kehancuran yang nyata akan segera tiba, jika segenap fungsionaris FSPMI sudah tidak lagi bersedia memperjuangkan perubahan yang lebih baik. Tidak lagi merasa penting untuk menjaga kewibawaan dan nama besar organisasi.

Pernahkah kita merenung, bagaimana perasaan keluarga para aktifis FSPMI di berbagai daerah yang karena aktivitasnya di serikat pekerja dikriminalisasikan? Saat mereka terancam masuk bui karena sebuah konspirasi jahat untuk membungkan suara kritis dan keteguhannya dalam berjuang? Saat mereka di stigma sebagai PKI karena militansinya di FSPMI? Saat golok di asah di depan mata saat mendirikan serikat pekerja di perusahaan yang dijaga para jawara?

Semua itu sudah kita lalui bersama. Suka dan dukanya. Pun apa yang saya tuliskan belumlah seberapa, sebab saya percaya ada jiwa-jiwa luar biasa di organisasi ini yang bahkan sudah menghibahkan hidupnya untuk kejayaan FSPMI. Orang-orang, yang meskipun rekam jejaknya mengesankan, namun tetap saja sunyi.

* * *

Jika kemudian hari-hari ini suara-suara tentang siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi di FSPMI dan SPA-FSPMI pasca kongres dan munas nanti semakin nyaring terdengar, saya sendiri berpendapat, itu baik adanya. Tidak usah diredam. Tidak perlu dihalang-halangi. Bukankah memilih dan dipilih adalah hak yang melekat pada setiap anggota organisasi? Jadi biarkan mereka memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya, toh anggota adalah pemilik kedaulatan tertinggi di organisasi ini.

Hanya, memang, menjadi tidak baik kalau kemudian kita menyerang secara pribadi. Kemudian kita membuat jarak, dengan menyebut ‘kita dan mereka’. Organisasi FSPMI yang kita cintai ini bukan hanya terdiri dari satu warna, dan oleh karenanya perbedaan adalah sebuah keniscayaan.

Kita susah bersama-sama. Maka ketika sedang senang pun, harus juga bersama-sama.

Kongres bagi saya adalah sebuah pesta besar bagi organisasi. Pesta demokrasi. Pesta aspirasi. Sebab apalah artinya menjadi besar, jika itu tidak memberikan manfaat bagi semua. Bukankah yang terbaik adalah yang paling banyak memberikan manfaat?

Betapapun, Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia lahir karena adanya sebuah kesadaran untuk mewujudkan serikat pekerja yang kuat, mandiri, bebas, demokratis, egaliter, konsisten, jujur, beradab, bertanggungjawab dan berkelanjutan serta merupakan mitra kerja dan dialog pada tatanan hubungan industrial dengan prinsip saling percaya, saling menghormati dan profesional untuk maksud mewujudkan ketenangan kerja dan ketenangan usaha dengan tujuan peningkatan kesejahteraan pekerja dan pertumbuhan perusahaan atau dengan pengertian lain mewujudkan masyarakat industri yang maju dan berkeadilan sosial sebagai percerminan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa serta pengabdian pada nusa dan bangsa Indonesia. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s