Ketika Aku Jatuh Cinta (Mengenang 7 Tahun Usia Pernikahan Kita)

Hati saya tergetar ketika pulang kerja, di senja itu. Istri saya memperlihatkan foto-foto dirinya bersama Fadlan dan Haya, dua buah hati kami. Inilah kehebatan sebuah gambar. Hidup. Berbicara dalam diamnya.

Keceriaan terpancar jelas dari wajah-wajah penuh pesona tiga orang yang beberapa tahun ini selalu berada di samping saya. Kegembiraan yang lepas. Sebuah tawa yang tanpa rekayasa, membuat lelahku sehari itu sirna. Aku sangat mencintai keluarga kecilku ini, meski tidak melafadzkannya setiap hari.

Kepada Fadlan dan Haya, aku memang tidak sedekat umi-nya. Wanita bersahaja inilah – dengan kasih sayang seluas samudera – yang setia mendampingi tumbuh kembang keduanya. Tergambar jelas di pelupuk mata, bagaimana istriku ini mengajar di Raudhatul Athfat (RA) dengan menggendong anak kami, meski masih bayi. Mulanya hanya Fadlan, dan tiga tahun kemudian, menyusul Haya.

Aktifitas saya sebagai karyawan pabrik, memang tidak memiliki waktu sebanyak wanita yang kucintai ini dalam menemani anak-anak. Belum lagi kegiatan diluar, yang terkadang menyita perhatian.
“Ini yang mem-foto mas Fadlan lho, bi…,” ujar istri. Memperlihatkan senyum terindahnya.

Tahun depan, Fadlan, anak pertama kami ini akan menapakai kelas 1 SD. Saya seperti melihat cerminan diri saya saat melihat wajahnya. Apalagi saat ia terlelap dalam tidur. Sebahagia inikah saya, dulu.

Hari ini sudah masuk hitungan hari keempat di tahun 2011. Seperti juga di tahun-tahun sebelumnya, tidak ada perayaan tahun baru di keluarga kami. Bahkan, saat letupan kembang api membahana, saya sedang menulis sebuah novel. Istri dan anak-anak sudah tidur. Mereka sama sekali tidak tergoda oleh gegap gempita diluar sana.

Namun, foto-foto yang diperlihatkan istri saya di sore itu menyelipkan sebuah asa. Ada yang baru, dan itu adalah cinta. Ya, ada energi yang mendorongku untuk menginstall lagi kecintaan kepada anak-anak. Juga wanita hebat yang telah melahirkan mereka, istriku.

Ingin kukabarkan kepada dunia, sebelum semuanya menjadi terlambat, bahwa aku mencintaimu, Umi. Mencitai Fadlan, dan juga Haya, dengan sepenuh jiwa.

Saya sedikit jengah ketika membaca status di Fb, begitu romantisnya sepasang kekasih membuat puisi-puisi yang bernafaskan asmara. Kutahu mereka belum menikah, dan itu, oleh sebagian orang dianggap wajar. Buat saya, kepada istri dan anak-anak sendiri, kalimat cinta mesti diulang setiap hari. Kemesraan, akan lebih bermakna jika diluapkan ketika sudah berada dalam mahligai rumah tangga.

Itu juga pesan yang ada dalam buku Bicaralah Perempuan!!! Stop sudah kekerasan terhadap perempuan. Untuk tidak lagi menyakiti, untuk tidak lagi melukai.

Buku ini mengisahkan beragam kekerasan terhadap perempuan, bukan dengan cara yang cengeng. Namun dengan keyakinan, bahwa kemanusiaan dan harga diri semestinya tidak boleh tergadaikan. Buku ini, meski banyak berbicara tentang luka, penghiatanan, dan air mata; namun tidak hendak mengajak anda berlarut-larut dalam duka. Sebaliknya, berharap ini akan menjadi halilintar yang membangunkan banyak orang dari mimpi panjang. Kekerasan terhadap perempuan begitu nyata, sangat dekat, dan menuntut partisipasi kita semua tanpa harus berfikir lambat.

Hebatnya, setiap bagian dalam buku ini membawa pesan tersendiri. Kendati kebanyakan dari mereka adalah penyangga keluarga dan tidak punya cadangan hidup, tetapi bagi mereka perjuangan martabat manusia sebagai perempuan harus lebih penting. Mereka tidak takut lapar, tidak takut dipecat, tidak takut miskin.

Perjuangan bukan saja untuk mereka, tetapi mereka ingin yang lain tidak mengalami hal serupa. Proses pembuktian yang tidak rasional dan tidak ramah korban, posisi yang dilemahkan dan akses jaringan vertikal yang tak berbanding dengan pelaku, stigmatisasi dan penyalahan korban; semua dilampaui sebagai perjuangan. Inilah bentuk nyata korban yang jadi pembela.

Buku setebal : xvi + 218 ini bisa anda dapatkan dengan harga Rp 45.000,- plus ongkos kirim Rp. 10.000,- (Jawa) dan (Rp. 15.000 (luar Jawa). Bisa dipesan melalui inbox Fb Leutika Prio, atau kirimkan e-mail ke bicaralahperempuan@yahoo.co.id.

Iklan

2 pemikiran pada “Ketika Aku Jatuh Cinta (Mengenang 7 Tahun Usia Pernikahan Kita)

  1. Marilah kita mencapai kehidupan yang baru melalui proses keseharian yang sederhana, dan dalam hubungan yang penuh kebahagiaan bersama keluarga dan banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s