Catatan Menjelang Terbitnya Buku Bicaralah Perempuan

Bicaralah Perempuan!!! Sebuah judul yang menghentak. Ia seperti sedang mengarahkan langsung telunjuknya kepada kita. “Jangan hanya diam,” begitulah kira-kira pesan yang hendak disampaikan.

Ya. Kebanyakan dari kita, seringkali menyikapi diskriminasi berbasis gender dan kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan tanpa tindakan apa-apa. Dan akibatnya, meskipun berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan kerap ditemukan di tengah masyarakat, tetapi tak banyak yang ambil peduli terhadap persoalan ini. Apalagi untuk ikut serta dalam menangani kasus kekerasan itu sendiri.

Buku ini, hendak berbagi kepada anda tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Tentu dengan sejuta harap, setelah membaca buku ini, ada secercah semangat dan inspirasi agar masyarakat menjadi sadar dan waspada.

Tak berlebihan, jika kemudian tersimpan asa, ”Bicaralah Perempuan!!!” menandai tumbuhnya kepedulian kita semua terhadap berbagai kekerasan dan diskriminasi.

Proses Kelahiran

Meski Bicaralah Perempuan banyak mengungkap soal luka, penghiatanan dan air mata, tetapi tidak hendak mengajak anda berlarut-larut dalam duka. Berharap ini akan menjadi halilintar, yang membangunkan banyak orang dari mimpi panjang. Kekerasan terhadap perempuan begitu nyata, sangat dekat, dan menuntut partisipasi tanpa harus berfikir lambat.

Dalam semangat itulah buku ini hendak dilahirkan. Dari rahim gerakan serikat buruh di Kabupaten Serang – Provinsi Banten, dalam spirit dan bagian tak terpisahkan dari Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang sudah dilaksanakan bersama-sama Komnas Perempuan. Di tangan para penulis yang tersebar di berbagai pelosok negeri, buku ini hendak berbagi daya, bukan sekedar berbagi cerita.

Saya mencatat, diskusi tentang substansi buku ini sudah mulai hangat sejak peluncuran Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, 25 Nopember 2010 di Sekretariat FSBS. Dalam diskusi malam hari saat lampu mati dan hanya diterangi nyala lilin, kami memang lebih banyak mengulas tentang diskriminasi yang terjadi pada perempuan-perempuan penderita HIV/AIDS.

Namun ketika beberapa kali Bicaralah Perempuan disebut, itu seperti ditujukan pada diri saya. Seperti hendak memaksa kepada saya untuk mengatakan kebenaran secara apa adanya. Untuk tidak menjadi pecundang. Sebab kelemahan yang paling sempurna adalah, saat kita membiarkan kedzaliman ada di depan mata tanpa ada niat sedikitpun untuk memberikan perlawanan.

Setelah peluncuran kampanye malam itu, Bicaralah Perempuan memasuki tahapan paling serius. Sebuah tim dibentuk untuk melakukan penelusuran, dan mengungkap berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan berbasis gender dalam perburuhan. Setidaknya di kawasan-kawasan industri yang teradapat di Kabupaten Serang. Pada saat yang sama, berbagai cerita masuk dari berbagai penjuru. Bandung, Surabaya, Semarang, Yogja, Bekasi, dsb. Tak ketinggalan, beberapa kawan yang berada diluar negeri juga berbagi cerita. Inilah yang kemudian menghasilkan 16 nama, dimana tulisan-tulisan mereka bisa anda temui dalam buku ini.

Diskusi di Hotel Le Dian, yang difasilitasi Komnas Perempuan, menjadi tahapan penting berikutnya. Disini, kami berbagi cerita tentang diskriminasi dan kekerasan berbasis gender terhadap buruh perempuan. Kawan-kawan dari Cilegon, Serang, Tangerang, dan Komnas Perempuan hadir. Suasana akrab terjalin, kebersamaan yang begitu dekat, begitu hangat.

Di hari ke-dua, tepatnya 7 Desember 2010, peserta secara khusus membahas kerangka dasar dari Buku Bicaralah Perempuan. Semua peserta memberikan sumbang saran, menyampaikan mimpi-mimpi mereka ketika tiba saatnya Bicaralah Perempuan bermanifestasi dalam bentuk buku.

Bicaralah Perempuan merupakan hasil karya bersama. Prosesnya sarat dengan filosofi “sapu lidi”. Kebersamaan, yang berakhir indah. Itulah sebabnya, ia layak didengar. Oleh siapapun yang mencintai keadilan. Yang mendamba sebuah dunia penuh ketentraman tanpa kekerasan.

Saat ini, Bicaralah Perempuan sudah berada di dapur penerbit. Ini artinya, gemuruh kehadirannya akan segera teman-teman rasakan. Ya, mudah-mudahan keberadaan buku ini membawa kebaikan. Apalagi, memang, sejal awal ditujukan untuk itu.

Jika saatnya tiba, saya berharap anda semua menjadi bagian dari pembaca buku ini. Betapapun, apa yang mereka bicarakan, layak untuk didengar dan menjadi bahan perenungan bersama.

==================================

PARA PENULIS

– Aku Hanyalah Korban (Melati Premasita)
– Jadi Siapa Bilang Kalau Luka (Dian Nafi)
– Ketidakberdayaanku (Faujiah Lingga)
– Labirin Luka Suryati (Jaladara)
– Demi Sebuah Harga Diri (Miyosi Ariefiansyah)
– Kisah Fitri (Ariyanti)
– Si Buta yang Tak Berdaya (Dian Prihati)
– Bangkitlah Wahai Perempuan (Yuli Riswati)
– Bicaralah Perempuan (Nessa Kartika)
– Me Vs My Bos, (Selvy Erline S)
– Pembantu-pembantu Ibu Yuki (Resti Nurfaidah)
– Hak Buruh atas Eksploitasi dan Harga Diri Mereka (Khoirul Walid)
– Harga Seorang Wanita (Futicha Turisqoh)
– Menjadi Perempuan Hebat (Rosa Listyandari, S.S.)
– Diam di Tengah Siksaan (Susanah Sutardjo )
– Sesak perempuan Terinjak (Okti Lilis Linawati)
– Cerita dari Serang – Banten (Kahar S. Cahyono, Argo P, Sujatmiko, dan Murah Asih)
– Puisi-puisi (Abu Gybran)
– Puisi-puisi (Assyafa Jelata)
– Puisi-puisi (Ana Westy)

Iklan

2 pemikiran pada “Catatan Menjelang Terbitnya Buku Bicaralah Perempuan

  1. pak, kalau mau jadi aktivis anti kekerasan dlm RT, gimana caranya ya? daftarnya bagaimana? maaf Pak, saya kurang info 😀

    makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s