Dibalik Buku “Buruh Bergerak”

bukuIni sudah agak lama. Tepatnya 14 Oktober 2010 yang lalu, saat saya menjadi pembicara dalam Diskusi Publik Aliansi Lokal dalam Gerakan Buruh Indonesia dan Launching Buku “Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang”. Kebetulan, saya adalah penulis dari buku “Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang”, yang diterbitkan oleh TURC itu.

Ini adalah buku pertama yang saya tulis. Senang, tentu saja. Sebab menulis buku adalah obsesi saya sejak lama. Saya kira, para penulis yang memiliki pengalaman melewati tahapan ini (melahirkan karya pertamanya), pasti juga merasakan apa yang saya rasakan.

Beberapa tahun lalu, saat tulisan saya untuk pertamakalinya menembus media nasional, saya membelikan gelang seberat 4 gram untuk istri saya. Saya ingin membuat tanda dari honor pertama saya dari menulis. Mengingat sudah puluhan kali naskah saya dikembalikan, dan ini adalah kali pertama saya mengecap manisnya buah dari perjuangan menulis.

Saya semakin tersemangati, dan mulailah tulisan-tulisan saya dimuat di berbagai media. Saya juga memenangkan beberapa lomba menulis. Dinantaranya adalah dengan menjarai pertama lomba menulis “Aku Cinta Bekasi”, yang menghadiahi saya uang tunai sebesar 10 Juta. dari sini saya akhirnya saya bisa membeli laptop dan menyambungkannya dengan jaringan internet menggunakan IM2 Unlimited, di rumah. Dari aktivitas menulis juga, biaya internet itu terbayar setiap bulan.

Sayangnya. Belakangan ini, saya tidak se-produktif dulu lagi dalam menulis. Bukan berarti saya berhenti dari aktivitas menulis, hanya saja, jumlah tulisan yang saya hasilkan menurun tajam.

Setelah saya evaluasi, ternyata waktu, tenaga, dan pikiran saya banyak tersita dalam kegiatan-kegiatan organisasi serikat pekerja. Sebagai Koordinator Eksekutif Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS), juga Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), dan Sekretaris Aliansi Serikat Pekerja Serikat Buruh Serang (ASPSB), dibutuhkan konsentrasi lebih besar untuk bisa fokus saat berada di depan komputer. Belum lagi, selama 8 (delapan) jam dalam sehari, saya juga adalah seorang buruh di sebuah pabrik.

Pada saat yang sama, saya tidak kuasa menolak dorongan yang terus meletup dalam jiwa saya untuk terus menulis. Ada perasaan rileks, jika apa yang ada dalam pikiran saya bisa tersalurkan dalam kata-kata.

Mengingat aktivitas saya yang kebanyakan berada di zona gerakan sosial, ya sudah, saya tulis saja apa yang saya lakukan dan amati di ranah itu. Toh bukan sebuah dosa, jika seorang aktivis sosial, adalah juga seorang penulis. Setidaknya ini bisa saling menjadi arena untuk bertukar informasi, dan saling belajar satu dengan yang lainnya. Tentu saja, saya juga tidak setuju jika kita menulis tentang apa yang tidak pernah kita lakukan.

Maka, ketika ada beberapa kawan yang mengkritik saya di Facebook, bahwa saya hanya “omdong” (omong doang), hanya berbicara di dunia maya dan tidak melakukan aksi nyata, saya cuma tersenyum. Sakit hati? Tidak sama sekali. Saya paham benar, bahwa kami hanya dipertemukan di dunia maya. Wajar jika tidak saling memahami realitas yang terjadi dalam keseharian masing-masing.

Menumbuhkan Minat Baca di Kalangan Pekerja

bacaSaya ingin, budaya baca-tulis juga tumbuh dikalangan pekerja/buruh. Melalui Forum Solidaritas Buruh Serang, kami juga menggagas berdirinya Rumah Baca Solidaritas. Meskipun juga, harus diakui bahwa perjalanan Rumah Baca Solidaritas ini masih tertatih-tatih.

Ada beberapa faktor. Untuk menyebut beberapa diantaranya, adalah soal minimnya koleksi buku yang tersedia, SDM pengelola Rumah Baca, juga minat baca para pekerja/buruh yang harus terus menerus dijunjung tinggi. Sebab jika semangat itu tidak dijaga, gairah untuk membaca juga langsung turun di level terendah.

Buat saya, kedekatan antara saya dengan mereka yang membuat aktivitas menulis buku adalah sebuah keniscayaan. Mereka tahu keseharian saya, dan oleh karenanya, mereka yakin juga bisa melakukan apa yang saya lakukan. Dalam hal ini, ada contoh kasus yang bisa diindera dengan nyata.

Buku “Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang” menjadi salah satu pemantik semangat dalam menulis. Kini, beberapa kawan sudah mulai menuliskan beberapa pengalamannya. Sesuatu yang sebelumnya, bahkan tidak pernah dilakukan. Sederhana memang, tetapi ini adalah kemajuan yang layak mendapat apresiasi.

Saya punya mimpi, akan semakin banyak para aktivis sosial dan pemimpin buruh yang menuliskan pemikiran dan pengalamannya. Jangan pernah termakan oleh stigma bahwa buruh itu bodoh dengan raport merah soal literasi. Mereka hebat sebenarnya. Jika saja ada yang mendampingi dan mengarahkan. Terbukti, beberapa kali acara pelatihan menulis dan bedah buku yang dilakukan FSBS selalui ramai diikuti teman-teman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s