Prosesi Penetapan Upah Minimum

Pertamakali saya mengetahui Dewan Pengupahan yang sudah merekomendasikan upah minimum untuk tahun 2011 di Banten adalah Kota Cilegon. Saat itu, saya dan beberapa kawan pimpinan serikat pekerja/serikat buruh di Kab. Serang dalam perjalanan pulang dari Dialog Publik dan Launching Buku di Jakarta Design Center (JDC). Hari itu, kalender menunjukkan tanggal 14 Oktober.

Dalam rapat yang digelar di Rumah Makan Bintang Laguna, hari itu juga, rekomendasi UMK Cilegon tahun 2011 diputuskan 1.224.000. Ini artinya, UMK Cilegon meningkat 4,22 persen, atau naik 50.000 jika dibandingkan tahun lalu yang besarnya mencapai 1.174.000.

Beberapa hari kemudian, saya baru mendapatkan informasi jika UMP (Upah Minimum Provinsi) Banten direkomendasikan sebesar 1.000.000. Naik 44.700, jika dibandingkan dengan UMP tahun 2010 yang besarnya hanya 955.300.

Dan pada 6 November 2010 kemarin, dari berita yang saya baca dari Radar Banten, saya mengetahui UMK di Kabupaten ini diusulkan oleh Depekab sebesar 1.015.000. Naik 5%, dari tahun 2010 yang besarnya 964.00.

Saya memang memiliki keingintahuan yang sangat besar terhadap UMK-UMK di Kab/Kota di Banten. Mengapa? Sepertinya ada ketentuan yang tidak tertulis dan disepakati banyak pihak, bahwa UMK Serang harus lebih rendah dari UMK Cilegon dan Tangerang. Klausul yang mengatakan bahwa UMK ditetapkan dengan memperhatikan upah minimum di daerah sekitar, seolah menjadi vonis bahwa Serang harus tunduk dengan semua itu. Lebih rendah dari Cilegon dan Tangerang, serta lebih tinggi dari Pandeglang dan Lebak.

Diluar Kab/Kota di Provinsi Banten, saya juga memiliki selalu mengamati perkembangan upah minimum di DKI Jakarta, Bekasi, dan Kerawang. DKI Jakarta, sebagai Ibu Kota Negera, jelas menjadi magnet yang senantiasa menarik perhatian. Bekasi adalah sebuah nama yang melegenda – setidaknya buat saya – dengan militansi para aktivis Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Betapapun, FSPMI adalah sebuah organisasi Serikat Pekerja yang telah membesarkan saya. Oleh karenanya, saya memiliki ikatan emosional tersendiri dengan kota tapal batas ini. Sementara Kerawang, lebih karena saat saya duduk senagai anggota Dewan Pengupahan Kabupaten, pernah melakukan study banding di sini.


Dinamika UMK di Serang

Di Kabupaten Serang sendiri, rapat pleno dewan pengupahan baru akan dilakukan pada tanggal 8 – 10 November 2010 nanti. Dan sebagaimana yang sudah disepakati oleh Aliansi SP/SB Serang yang terdiri dari SPN, FSPKEP, KSBSI, KSPSI, dan FSPMI, dalam rapat tersebut akan dilakukan aksi pengawalan dengan mengerahkan sebagian anggota untuk mengawal jalannya rapat pleno Depekab.

Pada akhirnya, memang bukan seberapa besar UMK yang akan diputuskan nantinya. Namun seberapa besar kesungguhan kita untuk memperjuangkan besarnya UMK itu sendiri. Toh pada akhirnya, kita akan dipaksa menyerah dengan hasil survey KHL, yang kalaupun maksimal, tetap saja hasilnya minimum.

Catatan ini, setidaknya hendak saya dedikasikan kepada kawan-kawan, para pejuang keadilan, yang sedang melakukan aksi pressure mengawal proses penetapan UMK Serang 2011 dari tanggal 8 ini hingga 10 November 2010 nanti. Baik yang di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kab. Serang, maupun yang akan datang secara bergelombang di Anyer, di sebuah hotel berbintang, tempat dimana Depekab akan melakukan rapat pleno.

Melampaui KHL

Dalam hal ini, saya sependapat dengan komentar Obon Tabroni di Facebook saat mengomentari catatan saya, bahwa gak ada korelasi upah = KHL. Tema kampanye kami, Upah Layak 2011: Bukan Janji, Bukan Wacana, Tapi Aksi Nyata. Ini lebih kepada ajakan, agar semua element pekerja/buruh menjadi peduli dan ikut bergerak bersama. Dalam beberapa kesempatan, kami bahkan secara tegas menyebut, UMK harus Melampaui KHL.

Hanya, memang, dalam hitung-hitungan Forum Solidaritas Buruh Serang, 100% KHL adalah sebuah keniscayaan. Karena sudah beberapa tahun ini, UMK Serang memang sudah 100% KHL.

Pada satu sisi, keyakinan seperti ini sebenarnya juga “menyesatkan”. Sebab kemudian selalu digunakan sebagai pembenaran. Pertanyaannya, kalau suatu saat KHL lebih rendah dari upah minimum, apakah UMK juga akan turun?

Bahwa upah minimum hanya diperuntukkan bagi pekerja lajang yang mempunyai masa kerja dibawah satu tahun, tidak boleh sedikitpun mengendorkan semangat untuk memperjuangkan upah layak yang sedang kita lakukan. Banyak fakta yang bisa dibeberkan, bahwa semua itu tidak lebih dari “akal-akalan”. Apalagi jika mencermati praktek fleksibilitas tenaga kerja, kita bisa dengan mudah mendapati pekerja/buruh yang bahkan memiliki masa kerja.

Saya paham, itu akan sangat sulit. Apalagi, yang sekarang santer terdengar, angka kemiskinan di Kabupaten Serang, masih sangat tinggi. Dari hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) selama 2010, tercatat sebanyak 486.270 jiwa atau sekitar 34,73 persen dari 1,4 juta penduduk Kabupaten Serang masih tergolong miskin. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Serang Banten, Memed Muhammad, bahkan mengaku telah membentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Serang berdasarkan Permendagri No 42/2010 untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya. “Tim tersebut bertugas memetakan angka kemiskinan dan mengkoordinasikan program penanggulangan kemiskinan agar tidak tumpang tindih,” kata Memed, Senin (1/11).

Beberapa minggu yang lalu, bahkan santer terdengar kabar bahwa pengangguran di Kab. Serang masih cukup besar. Ada sekitar 119.600 orang di Kab. Serang menganggur. Yang menarik, tidak sedikit warga yang menganggur berasal di daerah-daerah industri, seperti Cikande dan Kibin.

Data di atas seperti hendak mengatakan, mereka yang sudah bekerja di dalam pabrik jangan macam-macam. Jumlah orang yang menganggur, bahkan lebih banyak dari total karyawan yang ada di Kab. Serang.i

Situasi ini yang beberapa kali dicoba untuk dibenturkan. Tuntutan atas upah layak untuk buruh, dianggap tidak sensitif terhadap masyarakat luas. “Kalau perusahaan tutup dan mem-PHK banyak karyawan karena tidak mampu membayar upah yang mahal, siapa juga yang rugi?” Kalimat lain yang lebih terkesan mengintimidasi.

Melalui Dialog Publik dan juga Penggalangan Dana Advokasi UMK 2011, sebenarnya teman-teman di Kab. Serang hendak mengkampanyekan di tengah-tengah masyarakat, bahwa asumsi upah yang tinggi akan membuat perusahaan tutup adalah sebuah kesalahan berfikir. Penyadaran ini menjadi penting, jika mengingat mayoritas penduduk Kabupaten Serang bergerak di bidang pertanian, atau sebanyak 33,92 % dengan lahan persawahan seluas 54.145,40 hektar. Menyusul berikutnya adalah Sektor Perdagangan/ Hotel/Restoran 19,27%, Sektor Industri 13,22%, Sektor Jasa 15,16%, Sektor Angkutan & Komunikasi 3,20%, dan Lain-lain (Sektor Konstruksi,Pertambangan & Galian, Keuangan,Listrik & Gas dll.) 15,99%.

Dari data ini, rasanya bisa dipahami jika buruh memang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Itulah sebabnya, buat gerakan serikat buruh di Serang, harus ada action untuk benar-benar diperhatikan.

Mengenal Serang

Serang merupakan salah satu dari enam kabupaten/kota di Provinsi Banten, terletak di ujung barat bagian utara Pulau Jawa dan merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa dengan jarak sekitar 70 km dari Jakarta, Ibukota Negara Republik Indonesia. Berbatasan dengan Laut Jawa, dan Kota Serang di utara, Kabupaten Tangerang di timur, Kabupaten Lebak di selatan, serta Kota Cilegon di barat.

Berdasarkan hasil sensus tahun 2000, penduduk Kabupaten Serang berjumlah 1.631.571 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 959 jiwa/Km2. Tahun 2007 Serang dimekarkan menjadi dua daerah tingkat II dengan pembentukan Kota Administratif Serang sebagai ibukota Provinsi Banten.

Ditinjau dari struktur mata pencaharian, sebagian besar penduduk Kabupaten Serang bergerak di bidang pertanian sebanyak 33,92 % dengan penggunaan lahan sebagian besar untuk persawahan seluas 54.145,40 Hektar.

Kegiatan perekonomian Kabupaten Serang ditunjang oleh berdirinya kawasan-kawasan industri yang terbagi ke dalam zona industri Serang Barat dan zona industri Serang Timur. Hingga tahun 2000 kontribusi sektor industri pada perekonomian Kabupaten Serang masih dominan. Dominasi lapangan usaha sektor industri pada struktur ekonomi makro Kabupaten Serang terletak pada perusahaan-perusahaan industri besar dan menengah serta industri kecil informal dan skala rumah tangga.

Di sektor industri, terdapat dua zona industri yaitu Zona Industri serang Barat dan Zona Industri Serang Timur. Zona Industri Serang Barat terletak di Kecamatan Bojonegara, Puloampel dan Kramatwatu dengan luas total 4,000 Ha berada di sepanjang pantai Teluk Banten untuk pengembangan industri mesin, logam dasar, kimia, maritim dan pelabuhan. Sudah beroperasi 64 perusahaan seperti Industri Gunanusa Utama Fabricators dan Berlian Sarana Utama.

Sedangkan Zona Industri Serang Timur terletak di Kecamatan Cikande dan Kragilan dengan luas kawasan industri 1.115 ha. Terdapat beberapa kawasan industri seperti Nikomas Gemilang, Indah Kiat dan Modern Cikande.

Data resmi yang ada menunjukkan, bahwa di Kab. Serang jumlah pekerja wanita mencapai 60.038 orang, sedangkan laki-laki hanya 26.928 orang (sektor formal). Kalaupun itu digabungkan, tetap saja jumlah pekerja di Kab. Serang tidak lebih dari 100 ribu orang. Dalam situasi seperti inilah kami berjuang. Di tengah situasi terbaikan, karena dianggap tidak signifikan.

Selain sektor industri, kabupaten Serang juga memiliki potensi dibidang pertanian seperti kelapa dan melinjo yang menjadi khas Banten. Di sektor kelautan potensi yang ada berupa ikan bandeng,udang windu, rumput laut dan perikanan tambak. Sektor pariwisata juga memiliki potensi yang cukup besar. Hal ini mengingat terdapat lokasi wisata berupa Pantai Anyer dan awasan Heritage BAnten lama. Daya tarik wisata lain adalah Mercusuar, Karang Bolong dan Anyer Kidul, Rawa Dano, Cagar Alam Pulau Dua, Pemandian air Panas Batukuwung, serta air terjun.

Pendek kata, Kabupaten Serang memiliki potensi yang luar biasa, sebenarnya. Dan sepantasnya, jika masyarakatnya berharap banyak, bisa hidup sejahtera didalamnya. Tetap semangat, sebab jalan yang sedang kita lewati adalah benar dan konstitusional. Sebab, seluruh rakyat Indonesia berhak hidup layak dan sejahtera di negeri yang berjuluk Zamrud di Khatulistiwa ini!

Salam Solidaritas,

Serang, 8 November 2010
Catatan Kahar S. Cahyono
Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Kab. Serang
Koordinator Eksekutif Forum Solidaritas Buruh Serang

:: Catatan ini terlambat di-upload karena sebuah kesibukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s