The Power of “Klik”

“Berbeda dengan aksi protes di dunia non-Internet yang perlu pengorganisasian intensif sebelumnya, aksi di Internet dapat terjadi secara organik,” beginilah kira-kira Roby Muhamad pernah menulis. Lebih lanjut, Roby menjelaskan, tentunya ini bukan berarti aksi yang terjadi secara spontan; banyak grup di facebook yang terbentuk spontan tapi tidak menjadi besar karena mungkin tidak cukup banyak orang yang merasa isu tersebut penting.

Selain pentingnya isu, masih menurut Roby, yang membuat gerakan sosial di facebook berpotensi semakin membesar, ada fitur facebook yang tepat untuk menjadi alat rekrutmen sebuah gerakan, yaitu wall , yang membuat kita bisa melihat saat teman kita menjadi anggota sebuah grup. Manusia adalah mahluk sosial yang selalu memperhatikan apa yang dilakukan orang lain di sekitarnya. Melihat banyak orang dalam jejaring kita sendiri bergabung dengan sebuah grup akan memberikan tekanan sosial untuk bergabung.

Mendapat invite dari teman untuk bergabung membuat kita pikir-pikir. Melihat sebuah grup beranggota besar (atau kerumunan massa besar) tidak otomatis membuat kita tertarik bergabung karena kita dapat menganggap kelompok itu berbeda. Tapi melihat teman kita sendiri berbondong-bondong bergabung, memberikan dorongan luar biasa untuk ikut. Wall di facebook memungkinkan kita melihat apa yang dilakukan teman-teman. Dan, jika banyak teman kita melakukan hal serupa, besar kemungkinan kita akan melakukan hal itu juga.

Dinamika ini konsisten dengan penelitian mengenai gerakan sosial yang menemukan bahwa, dalam banyak kasus, seseorang menjadi aktivis bukan karena kesamaan ideologi atau pandangan lalu bergabung dengan kelompok. Ia diajak temannya untuk bergabung ke kelompok dan baru menjadi aktivis ketika sudah menjadi bagian kelompok itu dan belajar mengenai isu yang diperjuangkan.

* * *

Belakangan, saya semakin banyak menemukan para aktivis – setidaknya yang saya kenal dengan baik – menggunakan facebook sebagai media untuk meneriakkan keprihatinannya. Untuk menyebut contoh, di area perburuhan misalnya, kita bisa menemukan nama-nama seperti Ridwan Monoarfa, Baris Silitonga, Obon Tabroni, dan sederet nama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Fenomena ini memang bukan hal baru. Ini sudah bergulir dan banyak dibicarakan sejak grup dan gerakan media sosial bertajuk ‘Koin untuk Prita’ memperlihatkan kekuatannya. Hasilnya gemilang, banyak masyarakat yang tersentuh dan bergabung dengan grup ini lalu mengumpulkan koin untuk membantu Prita. Gerakan yang juga menggeliat di Facebook adalah ‘Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto’ yang diinisiasi Usman Yasin

Beragam dinamika ada disini. Ada kontrol sosial, yang mengarahkan kritiknya secara tajam kepada pengambil keputusan. Namun, juga, ada yang gencar melakukan otokritik terhadap serikat buruh. Komunitas Pekerja Nikomas, misalnya.

Baris Silitonga, Pangkornas Garda Metal ini lain lagi. Ia menggunakan sarana facebook sebagai media untuk memobilisasi kelompok-kelompok penekan. Sinyal protes inilah yang kemudian mengejawantah dalam aksi lapangan. Karena dibicarakan terus-menerus, ia memantik perhatian khalayak. Setidaknya banyak orang yang kemudian ingin mengetahui lebih dalam, apa yang sesungguhnya terjadi.

The Power of “Klik”. Ini memperlihatkan bagaimana dengan sebuah aktivitas sederhana, meng-klik sebuah mouse untuk memberikan dukungan pada sebuah isu, memberikan dampak yang luar biasa bagi terciptanya perubahan. Sekecil apapun bentuknya. Ya, hanya dengan meng-klik, yang bahkan bisa dilakukan sambil tiduran.

Terlalu umum kalau saya mengambil contoh, apa yang pernah dilakukan oleh Barack Obama, baik ketika kampanye maupun setelah menjadi presiden AS, saat ia melakukan mobilisasi massa untuk mendukung kebijakan-kebijakannya. Betapa ternyata, selain untuk membentuk kelompok penekan maya, kita juga dapat menggunakan Internet sebagai alat untuk mengorganisasi gerakan sosial nyata di lapangan.

Dan, inilah ide Roby yang saya anggap menarik untuk dikaji lebih dalam. Grup di facebook, misalnya, dapat menarik orang-orang yang memiliki kesamaan pandangan dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Setelah grup menjadi besar dan anggotanya aktif berbagi pendapat, kita dapat mengkategorisasi anggota berdasarkan lokasi tempat tinggal. Selanjutnya kita membantu mereka membentuk kelompok-kelompok lokal sendiri yang bergerak dan membuat aksi di lokalitas masing-masing sehingga memobilisasi mereka yang tak terkoneksi ke Internet.

Aktivis yang melakukan aksi di berbagai tempat ini dapat menggunakan Internet untuk saling bertukar informasi sehingga mereka dapat belajar satu sama lain dan juga saling bertukar cerita melalui tulisan dan video yang membuat semangat tetap tinggi.

Memang, butuh waktu untuk menguji efektivitasnya.

3 thoughts on “The Power of “Klik”

  1. hidup itu sekedar interupsi…

    “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s