Jumlah Pengangguran di Banten Tertinggi se-Indonesia

Setelah beberapa waktu lalu saya menyoroti tentang pengangguran di Serang dan Cilegon, tiba-tiba datang sebuah data yang menghentak. Jumlah angka pengangguran di Banten, merupakan yang tertinggi se-Indonesia. Ini, tentu saja, sebuah ironi bagi provinsi yang mendeklarasikan dirinya sebagai gerbang investasi.

“Ada investasi saja masih banyak yang nganggur, apalagi jika tidak ada?” Sebuah pembenaran yang seringkali dilontarkan. Pernyataan ini, sekilas benar. Namun sesungguhnya, akar permasalahannya bukan disitu. Masalahnya adalah, angka-angka itu hanya menjadi menara pertumbuhan ekonomi bagi perusahaan-perusahaan besar. Sementara sektor informal, yang menjadi tumpuan perekonomian rakyat, selalu berada di bawah alas kaki.

Saya paham, hanya menuliskannya dalam blog ini tidak akan mengubah keadaan. Itulah sebabnya, melalui Forum Solidaritas Buruh Serang, dimana saya menjadi Koordinator Eksekutif, kami mulai mendiskusikan permasalahan ini. Serikat pekerja, tugas pokoknya adalah mempertahankan pekerjaan. Dalam konteks ini, pengangguran adalah musuh bersama yang musti diperangi.

Untuk itu, kami akan melakukan apa saja guna meningkatkan kapasitas masyarakat sehingga mampu menghidupi diri dan keluarganya. Termasuk bekerjasama dengan pihak-pihak terkait, untuk mengurangi pengangguran yang justru terjadi di sentra-sentra industri.

Betapapun, visi FSBS adalah; “Berkhidmat dalam bidang Hubungan Industrial, Pendidikan, Ekonomi Kerakyatan, Lingkungan Hidup, Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan.” Misi kami adalah “Pemberdayaan dan peningkatan Sumber Daya Manusia yang bertujuan meningkatkan wawasan dan kesejahteraan masyarakat dengan lebih menekankan kepedulian terhadap hubungan industrial, pendidikan, ekonomi kerakyatan, lingkungan hidup, kesehatan, dan sosial kemanusiaan.”

Berikut adalah artikel yang saya kutip lengkap dari Radar Banten tanggal 19 Oktober 2010. Dengan judul, Banten Tertinggi Pengangguran.

SERANG – Persentase pengangguran di Provinsi Banten menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2010 masih menempati urutan tertinggi se-Indonesia. Jumlahnya mencapai 627.828 orang atau 14,13 persen dari 4.442.543 angkatan kerja. Persentase ini hanya turun 0,84 persen dibandingkan angka pada Agustus 2009 sebesar 14,97 persen atau 652.462 orang.

“Harus diakui bahwa tingkat pengangguran terbuka Provinsi Banten masih menempati urutan tertinggi se-Indonesia. Ini memang tantangan bagi pemerintah daerah di Provinsi Banten,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Provinsi Banten Bambang Luarso kepada Radar Banten di ruang kerjanya, Senin (18/10).

Ia mengungkapkan, jumlah angkatan kerja pada Februari 2010 mencapai 4.442.543 orang, bertambah 95.303 orang dibandingkan Agustus 2009 sebesar 4.357.240 orang. Sementara jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2010 sebanyak 3.814.715 orang bertambah 109.937 orang jika dibanding Agustus 2010.

Sehingga, lanjut Bambang, dari jumlah angkatan kerja dikurangi penduduk yang bekerja didapat jumlah pengangguran sebanyak 652.462 orang pada Agustus 2009. Sedangkan jumlah pengangguran pada Februari 2010 sebanyak 627.828 orang. “Jika dibandingkan antara Agustus 2009 dengan Februari 2010, pengangguran hanya berkurang 24.634 orang,” ungkapnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, penyerapan jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2010 didominasi oleh sektor perdagangan sebanyak 984.513 orang atau 25,8 persen dari penduduk yang bekerja. Disusul kemudian oleh sektor industri yang menyerap sebanyak 863.269 orang atau 22,6 persen dari penduduk yang bekerja.

Setiap sektor lapangan pekerjaan, kata dia, jika dibandingkan antara Agustus 2009 dengan Februari 2010 mengalami perubahan penyerapan tenaga kerja. Ia merinci, pada sektor pertanian dari 745.268 orang menjadi 717.535 orang atau turun 27.733 orang, sektor industri dari 843.718 orang menjadi 863.269 atau naik 19,551 orang, sektor bangunan/konstruksi dari 162.550 orang menjadi 153.951 atau turun 8.599 orang, sektor perdagangan dari 969.287 orang menjadi 984.513 atau naik 15.226 orang, sektor angkutan dan komunikasi dari 327.001 orang menjadi 354.674 orang atau naik 26.673 orang, sektor real estate dan jasa dari 614.479 orang menjadi 707.542 orang atau naik 93.063 orang, dan sektor lainnya dari 41.935 orang menjadi 33.231 orang atau turun 8.704 orang.

“Jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian per tahun terus mengalami penurunan. Pada Februari 2010 penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian sebesar 717.535 orang atau turun sebanyak 27.333 orang dibanding keadaan Agustus 2009 sebanyak 745.268,” ungkapnya.

Jika dibandingkan angkatan kerja dengan jenjang pendidikan, menurutnya, pengangguran didominasi lulusan diploma/sarjana sebanyak 25,33 persen, lulusan pendidikan menengah atas 15,30 persen, lulusan pendidikan menengah pertama 13,71 persen, dan lulusan SD ke bawah 11,39 persen. Dengan kata lain, jumlah orang yang bekerja didominasi pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah 1.741.745 orang atau 45,65 persen, sedangkan jumlah pekerja dengan pendidikan tinggi masih relatif kecil yaitu 282.970 orang atau 7,42 persen.

“Secara persentase, tingkat pengangguran terbuka yang tinggi justru berada pada lulusan tingkat pendidikan tinggi. Hal ini diduga karena lapangan pekerjaan yang tersedia belum mensyaratkan tingkat pendidikan,” ujar Bambang.

Status pekerjaan, kata dia, dapat diidentifikasi menjadi dua kelompok utama terkait kegiatan yakni ekonomi formal dan informal. Kegiatan formal terdiri dari mereka yang berstatus buruh tidak tetap dan buruh/karyawan. “Sementara kelompok kegiatan informal umumnya adalah mereka yang berstatus di luar buruh tidak tetap dan karyawan,” ujarnya.

Lanjut dia, penyerapan tenaga kerja pada sektor formal dibanding antara Agustus 2009 dengan Februari 2010 mengalami peningkatan, dari 1.696.139 orang menjadi 1.777.969 orang. Meski demikian, ia merinci, pada sektor formal ini pekerja buruh tidak tetap mengalami penurunan dari 103.554 orang menjadi 87.592 orang. Sementara pekerja sebagai buruh karyawan mengalami peningkatan dari 1.592.585 orang menjadi 1.690.377 orang.

“Pekerja yang berstatus buruh atau karyawan memiliki jumlah tertinggi dibandingkan dengan status pekerjaan yang lain yakni meningkat sebesar 97.792 orang selama periode Agustus 2009 sampai dengan Februari 2010. Hal ini menunjukkan secara langsung akan meningkatkan jumlah pekerja formal,” ujarnya.

Di tempat terpisah Dahnil Anzar, akademisi Fakultas Ekonomi Untirta, menilai, selain persentase pengangguran tertinggi se-Indonesia, angka pengangguran tertinggi ironisnya terjadi pada tamatan diploma dan sarjana sebesar 25,33 persen. “Ini bukti bahwa terjadi mismatch pendidikan di Banten dengan industri dan lapangan kerja,” ujarnya.

Meski angka pengangguran 2010 untuk kabupaten/kota belum dirilis BPS, kata Dahnil, berkaca pada angka pengangguran 2009 bahwa pengangguran lebih banyak terjadi di pusat pertumbuhan ekonomi, seperti Cilegon dan Tangerang.

Hal ini, menurut Dahnil, sebagai bukti bahwa investasi yang masuk ke Banten tidak mampu menyerap tenaga kerja secara maksimal. “Angka makro ekonomi Banten pada dasarnya cuma bubble alias gelembung yang substansinya kosong,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data BPS per Agustus 2009, perbandingan persentase pengangguran antar-kabupaten/kota di Banten yakni Pandeglang 10,98 persen, Lebak 13,42 persen, Kabupaten Tangerang 15,86 persen, Kabupaten Serang 14,45 persen, Kota Tangerang 15,57 persen, Cilegon 18,26 persen, dan Kota Serang 17,55 persen.

“Kondisi pengangguran ini mengindikasikan akan semakin tumbuhnya sektor informal di Banten karena sektor formal tidak mampu menyerap tenaga kerja. Membesarnya sektor formal akan berdampak negatif bagi makro ekonomi Banten, kecuali pemerintah daerah mampu memberdayakan sektor ini menjadi sumber pendorong laju pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. (run/yes/alt)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s