Peran Serikat Buruh dalam Globalisasi

Pada akhirnya, saya hendak mengatakan, bahwa globalisasi adalah keniscayaan. Hari ini yang dibutuhkan peningkatan kemampuan, agar kita cukup kuat bersaing di arena globalisasi. Tanpa itu, bangsa ini hanya akan berada di pinggiran. Ada keseriusan dan sikap politik yang tegas, untuk mengurangi dampak buruk yang diakibatkannya.

Ibarat air bah, percuma rasanya kalaupun kita menghalangi kehadirannya. Sebab, kehadiran globalisasi didorong oleh; (a) Berakhirnya konfrontasi antara blok barat dengan blok timur (Kapitalisme vs Komunisme); (b) Paradigma neo liberalisme (Penganut neo liberalisme berpendapat bahwa pasar terbuka dan persaingan ekonomi merupakan cara terbaik untuk menciptakan kekayaan dan kesempatan setiap orang; (C) Meningkatnya liberalisasi ekonomi; (d) Teknologi-teknologi baru memfasilitasi logistik transportasi dan informasi; (e) Munculnya negara-negara industri baru dalam perekonomian global (Singapur, Korea Selatan, Cina, India, Afrika Selatan, dsb.); dan (f) Peran aktif organisasi perdagangan dunia (WTO), Internasional Moneter Fund (IMF) dan Bank Dunia.

WTO: Berperan mefasilitasi liberalisasi perdagangan dengan mengurangi hambatan-hambatan perdagangan dan juga mempunyai mandate dalam hal perdagangan barang dan jasa, hak intelektual, persaingan, perundang-undangan dan isu lainnya.

IMF: Berperan untuk menstabilkan mata uang suatu negara dengan pinjaman pada saat mata uang yang bersangkutan kehilangan nilainya sehingga perekonomian negara tersebut beresiko ambruk.

Bank Dunia: Berperan memberikan pinjaman kepada pemerintah untuk tujuan-tujuan pembangunan apabila pemerintah tidak dapat meminjam uang dari pasar modal swasta karena pemerintah tidak mempunyai kredibilitas keuangan yang diperlukan.

Lantas apa yang bisa dilakukan gerakan sosial, khususnya serikat buruh? Tentu banyak sekali. Betapapun, kapitalisme adalah musuh abadi dalam gerakan sosial. Diantara yang bisa dilakukan adalah;

• Mengembangkan dialog dan kemitraan diantara pemerintah, parlemen, pengusaha, serikat pekerja, Akedemisi, LSM serta pihak-pihak terkait lainnya,
• Membangun solidaritas buruh ditingkat lokal, nasional dan international,
• Memperluas “relasi power “ dan partisipasi politik,
• Meningkatkan perlindungan yang lebih baik bagi pekerja dan Serikat Pekerja dalam sistim hubungan industrial,
• Menekan/mendorong peran negara dalam mengimplementasikan hak-hak pekerja dan sistim jaminan sosial nasional.

Solidaritas di Tingkat Lokal

Dalam hal membangun solidaritas, saya teringat akan Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS). Sebuah element ketenagakerjaan di Kabupaten Serang, yang salah satunya berperan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat. Lebih khusus lagi, masyarakat pekerja/buruh.

Saya sadar, kerja-kerja pemberdayaan tidak akan bisa dilakukan sendirian. Ini mesti melibatkan semua pihak. Siapapun dia, selama memiliki komitment untuk kehidupan yang lebih baik. Dan, sebagai Koordinator Eksekutif FSBS, bersama kawan-kawan saya sudah membulatkan tekad untuk melakukan penguatan terhadap masyarakat di pinggiran kawasan industri. Gagasan yang sekarang coba dikembangkan adalah, dengan membangun entreprenur community.

Ini mendesak. Sebab, survey BPS yang dirilis baru-baru ini, menempatkan Banten sebagai nomor satu pengangguran se-Indonesia. Ini sangat memprihatinkan. Namun juga, menjadi lentera dan menumbuhkan kesadaran bagi jiwa, bahwa memang kita harus berlari lebih kencang untuk menyusul ketertinggalan.

Doakan saja….,

Oleh: Kahar S. Cahyono
Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kab. Serang
Koordinator Eksekutif Forum Solidaritas Buruh Serang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s