Membaca Puisi Cintamu

Pagi, saat membuka e-mail, saya mendapati ada sejumlah pesan masuk. Diantaranya, ini yang menarik perhatian saya, adalah pesan dari facebook bahwa saya ditandai dalam sebuah catatan oleh Maimunah. Istri saya. Tentu saja ini menarik. Bagaimanapun juga, pesan dari orang terdekat selalu menggoda untuk diketahui isinya.

Tak berfikir lama, saya segera klik link menuju facebook itu. Sebuah puisi. Untuk saya, suaminya. Dan, saya merasa Jum`at pagi ini menjadi begitu bahagia. Sudah sangat lama, sejak beberapa tahun lalu, saya mendapatkan kembali sebuah puisi cinta.

Setidaknya, puisi ini membawa saya pada sebuah refleksi panjang akan perjalanan cinta kami. Ya, cinta. Tegas itu katakan, karena wanita inilah yang sejujurnya membuat saya tabah menghadapi badai. Dalam perkawinan saya yang relatif muda, saat usia saya menginjak tahun ke-22, namun telah merubah kami menjadi lebih dewasa dibandingkan bilangan umur itu.

Saya sibuk sekali, akhir-akhir ini. Apalagi menjelang akhir tahun, saat semua berlomba untuk dituntaskan, sebelum tahun berikutnya dating.

Namun, sesungguhnya saya selalu tersemangati. Ada janji, yang mesti hanya saya ucapkan dalam hati, untuk saya tepati.

Senyum istri saya, juga Fadlan dan Haya – dua buah hati kami – yang selalu memburu ke pelukan saat saya pulang ke rumah. Sebetapapun kesibukan itu, keluarga adalah segalanya. Pelajaran berharga yang selalu saya kenang.

Dan, perlahan, saya pun membaca puisi itu.

My Honey..
Pernah aku bilang pada jiwa
Apakah aku harus tetap bersabar menemui cinta
Andai nanti seribu dilema menghampiri jiwa
menghujam bak busur panah
Tetap bersikap manis meski kehidupan semakin pahit
Tetap menjadi wanita yang ridha disaat wanita lain murka

Ataukah sebaliknya…
Aku harus mencabut duri yang ada dikakiku
Lalu berlari bersandar pada pohon yang teduh

Jika hati telah diliputi rasa putus asa
Hati yang lapangpun menjadi sesak
Engkaupun tahu, kemana aku harus mengusir kesulitan itu
Hanya kepada Nya yang memberiku Kekuatan…
Karena ku tahu…
Jika kutaati hasrat – hasrat itu , justru dia memperbudakku

My Honey….
Smoga dirimu tetap mampu memegang amanat cinta, yang telah kita bina 7 tahun lamanya. Jujur usia itu masih teramat singkat untukku mendalami dalamnya hatimu, perasaanmu, egomu bahkan karakter yang melekat dalam dirimu. Aku yakin dirimu juga begitu terhadapku….

My Honey….
Sekuat – kuatnya perasaanku terhadap hentakan amarah, yang orang panahkan terhadap diriku, jujur…aku masih mampu bersabar, namun hati ini akan luluh lanta, hancur tanpa bekasnya, jika yang menyakiti hati ini adalah kamu…

My Honey…
Siramilahlah bunga di taman yang kita tanam dulu, agar semakin subur berbunga rindu, rindu bersama menuju kebahagian yang hakiki, lewat sepenggal cinta yang abadi, berjalan bersama menuju syurgawi.

My Honey..
Satu pesan untukmu
Jika nanti hadir dalam jiwa
Seorang bidadari yang menggoda hatimu
Maka, ingatlah 7 tahun yang lalu
Saat engkau merangkak mencari cinta
Begitupun orang – orang mencarinya dengan penuh usaha
Demi cinta seorang gadis lugu, yaitu aku…

Mengapa harus pergi berlalu
Jangan terlalu gampang mencampakkan sesuatu
Jika dimatanya masih ada cahaya untukmu
Teruslah mempertahankan cinta itu

Tetapi…
Jika kau tak dapat melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah
Lakukanlah apa yang bisa kau lakukan

Semoga rasa madu, tak pernah berubah menjadi rasa empedu.

Aku yakin, engkau dapat menjaga cintaku, layaknya aku yang selalu menjaga cintamu. Semoga kita tetap bersama mengarungi bahtera cinta, menuju cinta sejati dan cinta yang hakiki, yaitu cinta kita kepada Illahi…..

Dalam hati ini, aku masih memujamu….
layaknya seperti 7 tahun yang lalu
Wahai belahan jiwaku….

Yang selalu mencintaimu….
Gadis lugu yang 7 tahun dalam pelukanmu..

” Umi cantik itu katamu ”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s