Buruh Dalam Sergapan Globalisasi

Ini tentang globalisasi. Awalnya, meskipun sering mendengar kata-kata ini sering disebut-sebut, saya tidak begitu ambil peduli. Buat saya yang tinggal di kampung kecil bernama Jempling yang terletak di pinggiran Kawasan Industri Modern Cikande, globalisasi jelas bukan menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Pendek kata, globalisasi lebih sering disebut dalam ruang seminar daripada menjadi kesadaran masyarakat secara umum.

Namun, saat beberapa waktu lalu saya hadir menjadi pembicara dalam Dialog Publik tentang Aliansi Serikat Pekerja Lokal dan Launcing Buku Buruh Bergerak di Jakarta Design Center (JDC), Anwar `Sastro`dari Perhimpunan Rakyat Pekerja, yang duduk disamping saya beberapa kali menyinggung soal dampak globalisasi bagi pekerja/buruh.

Dan sejak itulah, dalam telinga saya selalu terngiang kata-kata globalisaisi. Ini bukan soal penting atau tidak penting ngomongin globalisasi, saat ia sudah merasuk jauh kedalam dan bukan lagi sebuah isu. Saya juga tidak pernah mengunjungi negara lain dan berdiskusi dengan mereka, sehingga bisa melihat langsung, apakah yang terjadi di negeri ini juga melanda negara lain.

Hanya saja, saat kita melihat gejala-gejala yang sudah menjadi rahasia umum, maka akan semakin jelas permasalahannya.

Secara sederhana, demokrasi bisa diartikan sebagai proses yang membuat jalinan keterhubungan antar negara, perekonomian dan masyarakat yang satu dengan yang lainnya menjadi semakin intensif (erat) sehingga menyebabkan terjadinya saling ketergantungan secara global.

Hal ini, setidaknya bisa dilihat dalam 3 dimensi. Sebut saja, globalisasi dalam dimensi politik, globalisasi dalam dimensi sipil dan budaya, serta globalisasi dalam dimensi ekonomi

Globlisasi dalam Dimensi Politik

Dalam dimensi politik, globalisasi terlihat dengan dilangsungkannya banyak Koferensi Internasional. Sebut saja:
– Konferensi mengenai Pembangunan dan Lingkungan Hidup
– Konvensi APEC, ASEAN, ILO, Sidang Umum PBB dsb.

Dikeluarkan sejumlah hukum Internasional, Konvensi atau Resolusi, misalnya: Konvensi di bidang tenaga kerja antara lain,
– Konvensi 87 (kebebasan berserikat) ;
– Konvensi 98 ( Hak berunding bersama);
– Konvensi 29 & 105 (kerja paksa);
– Konvensi 100 & 111 (diskriminasi pekerjaan

Dibentuknya Lembaga-lembaga Internasional antara lain:
– Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
– Organisasi Asean Free Trade Area (AFTA)
– Organisasi North-American Free Trade Agreement (NAFTA), dsb.

Diluar itu, kita juga mencatat adanya sejumlah masalah yang secara efektif hanya dapat ditangani melalui kerjasama internasional. Misalnya: Masalah pelanggaran terhadap HAM, Terorisme, Buruh migran, Polusi Asap, Pemanasan Global, HIV AIDS, Flu Burung, hingga semakin merosotnya cadangan air bersih\.

Globlisasi dalam Dimensi Sipil dan Budaya

Dalam dimensi sipil dan budaya, globalisasi terlihat dengan adanya: Pertukaran Informasi, Solidaritas Kaum Buruh, hingga munculnya organisasi-organisasi masyarakat sipil yang semakin lama semakin terkait satu sama lain dalam jaringan global. Untuk menyebut contoh, misalnya:
– IMF (International Metal Workers Federation)
– ACILS (American Councils For InternanationalLabour Solidarity)
– ICFTU (International Confederation of Free Trade Unions)
– OECD (Organisation for Economic Cooperation Development, dsb.

Globlisasi dalam Dimensi Ekonomi

Sedangkan dalam dimensi ekonomi, globalisasi bisa dilihat dengan adanya Perdagangan Internasional Barang dan Jasa; Volume dan velositas pergerakan modal internasional terus meningkat; Kenaikan investasi langsung; Migrasi tenaga kerja secara internasional; hingga Pengaruh perusahaan-perusahaan multinasional menjadi semakin besar.

Dampak globalisaisi

Lantas, mengapa globalisasi menjadi sosok dan buah bibir? Itu tidak lain karena dampak yang ditimbulkannya. Berikut ini adalah beberapa dampak yang ditimbulkan:

o Terdapat tekanan yang tinggi untuk memperbaiki kinerja ekonomi secara terus menerus,

o Menciptakan kondisi ketimpangan sosial yang lebih dalam dan meluas,

o Persaingan tidak berlangsung pada kondisi yang sejajar atau sederajat,

o Peraturan yang tidak sama untuk setiap orang / wilayah,

o Meningkat persaingan diantara pelaku ekonomi: yaitu,dengan menghasilkan lebih banyak produk dalam waktu yang lebih singkat dengan harga yang lebih rendah tetapi dengan kwalitas yang lebih tinggi, serta meningkatkan flexiblelitas untuk beradaptasi dengan perubahan perubahan dalam pasar agar tetap bertahan dalam mendapatkan keuntungan.

Pertanyaan kita, selanjutnya, apa pengaruh semua itu terhadap pekerja/buruh? Setidaknya saya mencatat, ada 9 hal yang berimplikasi langsung terhadap pekerja. Dekat sekali. Bahkan, bisa jadi sangat dekat dengan anda.

1. Pekerja dilatih supaya lebih efesien kerjanya,yang gagal dipecat,
2. Pekerja dibayar dengan upah rendah,diberikan tunjangan sosial yang tidak memadai dan kondisi kerja yang memburuk,
3. Pekerja diganti dengan mesin,
4. Produksi disubkontrakan dan diserahkan untuk dikerjakan pihak luar (outsourcing pekerjaan),
5. Tempat produksi direlokasi ketempat lain yang menawarka biaya produksi yang lebih murah.
6. Pekerja harus bekerja lembur pada saat beban kerja tinggi,
7. Pekerja dikurangi (PHK) pada saat beban kerja rendah,
8. Kontrak kerja dibuat untuk jangka pendek (harian, bulanan atau setahun),
9. Pekerja tetap diganti dengan pekerja kontrak atau tenagakerja di outsourcing.

Bagi serikat pekerja, hal itu membawa konsekwensi sebagai berikut:
o Tekanan untuk terus mempertahankan upah dan kondisi ketenagakerjaan agar tetap rendah,
o Berkurangnya jaminan kelangsungan bekerja dan berkurang jaminan sosial,
o Melemahnya daya tawar SP/SB karena mayoritas buruh kontrak,
o Berkurangnya pekerja yang bergabung dengan SP/SB karena pekerja diberbagai tempat produksi yang berbeda saling bersaing satu sama lain untuk mendapatkan pekerjaan,
o Melemahnya solidaritas diantara pekerja/SP/SB akibat dari pekerjaan tidak jelas,
o Pekerja dan SP/SB semakin termajinalisasi.

Pada titik inilah, kita akan dengan mudah memahami, bahwa gerakan serikat buruh memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar. Besar, karena disamping harus memberikan penyadaran masyarakat, juga harus melakukan langkah-langkah konkret untuk mengantisipasi dampak tersebut.

Dan, semua itu harus dilakukan dengan segera. Kita tidak memiliki banyak waktu, sebab, saat ini pun sesungguhnya dampak buruknya sudah sedemikian nyata.

Kahar S. Cahyono
Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Kab. Serang
Koordinator Eksekutif Forum Solidaritas Buruh Serang

Iklan

Satu pemikiran pada “Buruh Dalam Sergapan Globalisasi

  1. AYO KITA Lawan Kriminalisasi PEMBELA & PEJUANG BURUH !!! BEBASKAN SEKARANG JUGA PUJIANTO, S.H. dan JAZULI dari Segala Tuntutan Hukum !!!
    Nyatakan dukungan Saudara sekarang juga di :
    1. Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia , Jl. Trunojoyo No. 3 Jakarta, Indonesia, 12110 http://www.polri.go.id http://www.facebook.com/DivHumasPolri

    2. POLDA JAWA TIMUR Jl. Ahmad Yani No. 166, Wonocolo ,Surabaya, Kode pos :60231,
    Telp.031 8290058,Faks 031 8290058 http://www.jatim.polri.go.id http://118.98.64.74/index.php

    3. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur di Jl. Jend. A. Yani No. 54-56, Surabaya Telepon (031) 8291066. http://www.kejaksaan.go.id/index.php atau http://www.kejati-jatim.go.id/index.php

    4. TRADE UNION RIGHTS CENTRE Jalan Mesjid III No. 1, Pejompongan, Bendungan Hilir Jakarta 10210, Indonesia Tel. +62 21 5703929, Fax. +62 21 5738912 Email: info@turc.or.id, Website: http://www.turc.or.id http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=100001301327605

    5. Jazuli Pc Pasuruan http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=100000111837716

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s