Jangan Serahkan UMK 2011 di Meja Perundingan Dewan Pengupahan: Maju dan Teruslah Bergerak!

Selepas menghadiri Dialog Publik Aliansi Lokal dalam Gerakan Buruh Indonesia dan Launching Buku Buruh Bergerak di Jakarta Design Center (14/10), saya meluncur ke Plaza Semanggi. Di Plaza Semanggi, sebelumnya saya telah membuat janji ketemu dengan Sukma Widyanti, Researcher/Lecturer Sosiologi Universitas Indonesia, yang juga Sekretaris Jenderal Pergerakan Indonesia. Ceritanya, mbak Sukma (begitu saya memanggil) ini sedang mengadakan penelitian tentang gerakan sosial di Banten.

Bersama saya hari itu adalah para tokoh kunci gerakan serikat buruh di Serang. Antara lain, Isbandi Anggono (Ketua Konsulat Cabang FSPMI Serang), Argo Priyo Sujatmiko (Sekretaris DPC FSPKEP Serang) Asep Danawiria (Ketua DPC KSPSI Serang), Amir Sanusi (Ketua DPC KSBSI Serang), dan Sohari (DPC SPN Serang). Setidaknya, sepanjang perjalanan, kami bisa berdiskusi entang isu-isu terkini ketenagakerjaan.

Selesai dari Plaza Semanggi jam 6 sore, dan kami segera meluncur ke Serang. Nah, di perjalanan pulang inilah kami mendapatkan kabar, kalau Dewan Pengupahan Kota (Depeko) Cilegon sudah menyepakati upah minimum tahun 2011 sebesar 1.224.000. Dengan demikian, UMK 2011 di Cilegon hanya naik sebesar 4,22 persen.

Meskipun usulan dari Depeko itu harus disampaikan ke Walikota, kemudian disampaikan ke Gubernur untuk ditetapkan, namun rasa-rasanya angka 1.224.000,- sudah menjadi harga mati. Apalagi belakangan saya mendengar, Ketua DPC Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Cilegon, Siti Nur’azizah, mengaku dapat menerima kesepakatan ini. “Mudah-mudahan semua pihak juga bisa menerimanya,” ujarnya. Berdasarkan analisanya, besaran UMK ini telah sesuai karena berdasarkan survey KHL sebanyak tujuh kali. “Survey ini sudah bisa dijadikan dasar menentukan UMK,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Sekjen Apindo Cilegon Andi Seto. “Surveynya kan sudah sampai tujuh kali dan besaran juga sudah sesuai dengan KHL, jadi sudah tepat untuk ditetapkan menjadi UMK 2011,” ungkap Andi Seto, seperti dikutip Radar Banten (15/10).

Saya kira, kita masih bisa berdebat soal besarnya upah minimum di Cilegon ini. Dengan semata-mata mengatasnamakan bahwa nilai itu sudah 100 persen KHL, buat saya adalah sesuatu yang dipaksakan. Lalu dimana pertimbangan atas besarnya inflansi dan pertumbuhan ekonomi? Upah sudah terpenjara oleh regulasi yang kemudian dipolitisasi, bukan atas pertimbangan ekonomi, dimana dengannya seorang manusia akan menggantungkan hidup dan kehidupannya.

Bisa jadi, setidaknya di Banten, Cilegon masih akan menduduki kasta tertinggi dari sisi besarnya upah minimum. Namun apalah arti semua itu, jika besarnya upah tidak lagi mampu menutup kebutuhan hidup real para pekerja/buruh.

Dalam beberapa hal, saya lebih sepakat perjuangan upah tidak semata dilakukan di meja perundingan anggota dewan pengupahan. Tidak selalu mengacu kepada kata-kata berbalut madu ”Kebutuhan Hidup Layak” yang sesungguhnya adalah racun mematikan itu. Ada saatnya untuk keluar jalur, dan menggunakan cara-cara gerakan serikat buruh. Bukan cara-cara birokrasi. Lihatlah bagaimana tahun lalu teman-teman di Tangerang yang rela menjadi martir dengan menutup jalan tol untuk sekedar menaikkan upah minimum.

Apa makna kenaikan 4,22 persen bagi Kabupaten Serang, juga daerah lain di Provinsi Banten?

Betapapun, Cilegon berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang. Dan disadari atau tidak, besarnya upah minimum ini akan berpengaruh pada daerah sekitar. Ada anggapan – meskipun argumen ini sangat lemah – bahwa upah minimum di Serang harus lebih rendah dari Cilegon.

”Kalau Cilegon saja hanya 1.224.000, lantas berapa UMK Serang?” Pertanyaan ini semakin ramai dibicarakan. Seolah sudah menjadi ”kutukan”, bahwa UMK Serang memang harus lebih rendah dari Cilegon. Atau, barangkali tahun ini sejarah akan mencatat lain.

Saya tidak punya data cukup untuk menanggapi terlalu jauh besarnya upah minimum Cilegon. Hanya saja, kepada kawan-kawan, saya selalu mengingatkan bahwa berapapun besarnya upah minimum, yang merasakan adalah kita sendiri. Individu. Untuk itu, seharusnya perjuangan upah minimum adalah perjuangan bersama. Jangan menyerahkan nasib anda di meja perundingan dewan pengupahan.

Maju dan teruslah bergerak!

Oleh: Kahar S. Cahyono
Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Serang
Koordinator Eksekutif Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS)

Baca juga:
Ayo Peduli Penetapan UMK

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s