Saya (nggak) Ingin Lembur

Bukan sekali dua kali saya mendengar kata-kata itu. Terlalu sering. Bahkan, beberapa kawan menggerutu saat produksi sepi dan tidak ada lembur sama sekali. “Nggak ada tambahan,” selalu itu yang menjadi alasan. Gaji pokok yang rendah, seolah menjadi pembenaran buat banyak orang untuk bekerja overtime.

Pada dasarnya, saya bisa memahami ini. Apalagi dalam sebuah survey kebutuhan pekerja/buruh yang diselenggarakan Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS) beberapa tahun lalu, rata-rata buruh pabrik berhutang antara 200 – 300 ribu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan lembur, mereka berharap kebutuhannya bisa terpenuhi.

Bicara tentang FSBS, banyak hal yang selalu berulang. Seringkali ketika mengadakan diskusi dan pelatihan, banyak peserta yang tadinya menyatakan akan hadir tiba-tiba membatalkan kehadirannya karena sedang lembur. Saya dengar, permasalaan ini juga sedikit banyak mengganggu konsolidasi di dalam serikat pekerja.

Kali ini, ketertarikan saya membahas kerja lembur setelah membacara tulisan di Facebook Hernowo Hasyim yang berjudul Kerja Lembur untuk Meningkatkan Produktivitas Sudah Ketinggalan Zaman?

Dalam tulisan itu, Hernowo hendak menyampaikan hasil wawancara Anne Ahira dengan Enny Hardjanto dalam sebuah video. Enny Hardjanto sendiri adalah seorang pebisnis, banker, juga coach dan konsultan yang luar biasa. Nah, dalam video itu ditunjukkan tentang konsep produktivitas yang telah berubah. Sebenarnya, berubahnya konsep itu sudah bisa kita rasakan saat ini. Menurut Enny, orang yang produktif adalah orang yang merasa senang dengan pekerjaannya dan bekerja secara sungguh-sungguh.

Data terbaru yang dikumpulkan Enny juga menunjukkan bahwa jika seseorang bekerja lembur dengan alasan untuk mengejar produktivitas, maka yang terjadi malah akan terjadi banyak penurunan. Kualitas hasil pekerjaan akan menurun (hingga kira-kira 10-12%), lalu produktivitas pun malah menurun (hingga 50%!).

Yang menarik, buat saya, tulisan itu di share oleh banyak kawan facebooker yang lain. Saya menangkap, kegelisahan ini juga melanda banyak orang. Kegelisahan akan beban kerja, yang nyaris tidak akan pernah ada habisnya. Kegelisahan, yang membuat banyak orang tidak bisa menikmati indahnya hidup, karena sebagian besar waktunya terkurung di dalam dinding pabrik.

Sebenarnya, penting nggak sih lembur itu?

Saya teringat pertanyaan di atas dari sebuah artikel di http://konsultankarir.com. Jawabannya bisa iya bisa tidak. Penting kalau memang diperlukan, tidak penting kalau memang kita bisa bekerja lebih efektif pada jam-jam office hours.

Masalahnya adalah, jika kerja lembur yang pada dasarnya bersifat sukarela ini berubah menjadi kewajiban. Dalam arti, beberapa perusahaan memberikan sanksi bagi pekerja/buruh yang tidak bersedia ikut lembur. Mewajibkan buruh-buruhnya untuk pulang larut malam, hampir setiap hari. Minggu pun diwajibkan masuk kerja. Manusiakan dijadikan mesin industri, yang hanya diberi kesempatan untuk makan dan istirahat ala kadarnya. Persetan dengan interaksi sosial, juga kebutuhan untuk bermanja-manja dengan keluarga.

Beberapa mengeluh lirih. Namun apa daya, mendapatkan uang lebih terkadang memang menggiurkan.

Namun, ada juga pekerja/buruh yang memang sengaja mencari-cari lemburan. Diceritakan seorang kawan yang menjadi kepala bagian, saat anak buahnya minta ijin untuk bekerja di hari Minggu, dan kemudian ia melarangnya. Yang terjadi kemudian anak buahnya mencapnya sebagai bos yang pelit. Dia mendengar sendiri omelan anak buahnya yang mengatakan, “Uang overtime nggak seberapa aja, kenapa sih mau kerja di hari Sabtu aja dilarang. Perusahaan nggak akan bangkrut deh kalau sekali-sekali kita kerja di hari Sabtu.“

Tanpa bermaksud menuduh bahwa mereka yang kerja lembur/overtime ingin mencari tambahan penghasilan, pada kenyataannya ada orang-orang yang memanfaatkan waktu lembur/overtime untuk menambah penghasilan, bahkan kadang-kadang dengan sengaja ‘menciptakan’ kerja lembur untuk tujuan ini. Misalnya dengan memperlambat kerja.

Hidup kita dalam sehari sudah dihabiskan di jalan (mengingat macetnya lalu lintas) dan di kantor/pabrik, tulis konsultankarir.com. Bukankah lebih baik kalau kita menciptakan kerja yang lebih efisien dan memakai office hours dan office days secara optimal. Sehingga kita tidak pulang terlalu malam sampai di rumah, dan masih bisa makan malam bersama keluarga, menemani anak-anak belajar, ngobrol dengan pasangan, dan bersantai sambil menonton TV. Bagi yang lajang, mungkin masih sempat nonton ke bioskop bersama teman – teman atau pacar, atau mengambil kursus bahasa di sore/malam hari, sehingga selain bisa meningkatkan kemampuan diri, juga bisa bertemu teman-teman baru?

Walaupun bekerja itu penting, untuk mencari nafkah ataupun sarana aktualisasi diri, sebaiknya kita juga harus bisa menikmati hidup. Jangan sampai uang yang kita kumpulkan bertahun-tahun tidak bisa kita nikmati, untuk pergi berlibur misalnya, hanya karena kita selalu kekurangan waktu, dan tidak pernah bisa menikmati jatah cuti kantor yang menjadi hak kita. Hidup yang sejahtera sebaiknya tidak hanya secara financial saja terpenuhi, tetapi juga bisa digunakan untuk menikmati pleasure time.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s