Ayo Peduli Penetapan UMK

Hari ini, sudah delapan hari memasuki bulan Oktober. Bulan tua. Setidaknya tinggal tersisa November dan Desember, kita masuk ke tahun 2011. Ini berarti, kalaupun ada agenda di tahun 2010 yang belum selesai, masih ada 2,5 bulan untuk segera menuntaskan.

Setiap bulan membawa konsekwensi. Sebab, selalu ada saja hal-hal rutin yang mengikuti. Mei, misalnya, ada hari buruh dan pendidikan. Agustus ada peringatan kemerdekaan. Pun demikian dengan bulan-bulan yang lain.

Lantas, ada apa di bulan Oktober. Penetapan Upah Minimum Kabupaten. Ya, beberapa hari ini, saya mulai sering mendengar pembicaraan beberapa kawan pengurus serikat pekerja terkait dengan UMK. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, dalam sebuah perbincangan santai di Sekretariat FSBS. Saat itu, hadir Isbandi Anggono (Anggota Dewan Pengupahan Kabupaten Serang utusan FSPMI) dan Argo Priyo Sujatmiko (Anggota Dewan Pengupahan Kabupaten Serang utusan FSPKEP).

Saat itu, saya menanyakan sampai seberapa jauh pembahasan UMK 2011. Juga tentang perkiraan keduanya, terhadap besaran UMK 2011. Dan dari sanalah diskusi mulai mengalir. Beradu argumentasi, juga menyampaikan beberapa terobosan. Dan seringkali, ide-ide segar justru keluar dari obrolan santai seperti ini.

Sebagai orang yang juga pernah menjadi anggota Dewan Pengupahan Kabupaten, setidaknya saya tahu arus besar pembahasan UMK. Hanya, sayang, terkadang pembahasan itu selalu terfokus pada hasil survey, dimana item-itemnya cenderung terdegradasi. Setidaknya, bagi saya, sulit untuk mengatakan bahwa item-item yang dijadikan acuan untuk survey harga bisa disebut layak sebagai pemenuhan “kebutuhan hidup layak!”

Itulah sebabnya, kita harus keluar dari paradigma penetapan UMK yang tertuang dalam regulasi. Hasil keputusan Dewan Pengupahan, semestinya kita maknai tidak lebih dari sekedar rekomendasi. Sebagai usulan, yang dapat saja kita abaikan.

Nah, kita, sebagai penerima upah dan merupakan kelompok terorganisir dalam gerakan serikat buruh, semestinya juga mempunyai hak untuk mengajukan rekomendasi yang bisa jadi berbeda dengan rekomendasinya Depekab. Mengapa tidak? Sebab, betapapun besar dan kecilnya upah itu, kita yang merasakan.

Dari pertemuan itu, akirnya kami sepakat, bahwa FSBS harus segera menginisiasi untuk menyelenggarakan semacam Sarasehan Depekab. Secara teknis, acara itu dilakukan untuk mempertemukan seluruh anggota Depekab dari unsur buruh, dan perwakilan dari tiap-tiap SP/SB. Pertemuan ini harus terbuka untuk pekerja/buruh di Serang. Dan pada akhirnya, tidak bisa tidak, setiap anggota Depekab ini harus memperjuangkan aspirasi kaum buruh.

Tidak masalah jika pun kita harus mengkritisi teman sendiri. Sekalipun mereka adalah pemimpin DPC. Jangan biarkan pengurus serikat buruh menjadi oligarkhi, karena sesungguhnya roh perjuangan kita adalah pada kekuatan massa. Bukan terletak pada satu dua orang, sebetapapun hebatnya mereka. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s