Kamaludin

Kemarin, menjelang pukul 6 sore, saya tiba di Sekretariat FSBS. Belum ada yang datang, bahkan pintu masih terkunci rapat. Diluar, hujan yang turun sejak siang masih menyisakan gerimis. Akankah rencana pertemuan kali ini gagal karena peserta terhalang hujan?

Dalam kesendirian itu, saya sempatkan membuka arsip lama FSBS. Sebuah proceeding bertajuk Konferensi Buruh untuk Perubahan yang dilaksanakan tahun 2002 menarik perhatian saya. Ya, tahun 2002. Sebuah rekam jejak yang menarik untuk disimak kembali.

Beberapa kawan yang saya kenal baik, dan ikut dalam konferensi itu adalah Junaedi dan Chaerudin Saleh. Keduanya pernah menjadi Koordinator Program, pucuk pimpinan tertinggi di FSBS. Hingga sekarang, Junaedi masih menjadi sebagai Koordinator Keuangan dan Kesekretariatan (non aktif), dan Chaerudin Saleh sebagai Anggota Badan Pertimbangan.

Selain kawan dalam mewujudkan asa untuk sebuah perubahan, mereka sudah menjadi keluarga sendiri. Saling membantu jika ada diantara kami yang membutuhkan.

Ya, saya tidak hendak membicarakan tentang resolusi dari konferensi tahun 2002 itu. Sebab, saya tertarik untuk menulis tentang seorang kawan yang selama ini bersama dalam suka dan duka. Di FSBS, banyak kawan yang datang dan pergi. Hampir setiap pekan selalu ada wajah baru yang datang, lalu dengan cepat menghilang.

Namun, di jajaran pengurus, kebersamaan itu selalu hangat. Merekalah yang selama ini, sesungguhnya, menjaga gawang hingga FSBS tetap eksis hingga sekarang. Merekalah yang mau bersusah payah menggerakkan roda organisasi, kendati jalanan berliku dan dipenuhi lumpur, onak, dan duri.

Dan, sore ini, giliran Kamaludin yang mengundurkan diri dari kepengurusan FSBS. Sosok yang sehari-hari tinggal di Sekretariat FSBS ini berniat untuk melanjutkan kuliah di Sukabumi, kampung halamannya. Ia juga mengundurkan diri dari tempat kerjanya di PT. Chih Horng Metal Industries. Praktis, ia tidak bisa selalu bersama dalam dinamika perjuangan mewujudkan hubungan industrial yang adil.

Perihal pengunduran diri Kamaludin sesungguhnya sudah disampaikan kepada saya dalam sebuah pertemuan minggu lalu di sebuah Rumah Makan yang terletak di daerah Asem-Cikande saat kami mendiskusikan agenda Pemetaan Demokrasi.

“Saya akan melanjutkan kuliah, sembari nanti mencari kerja di Sukabumi,” ungkapnya dengan percaya diri.

Betapapun, saya hanya bisa mendukung niat hatinya yang sudah bulat itu. Sembari meminta, untuk sesekali menghadiri kegiatan-kegiatan FSBS. Jauh lebih penting, untuk selalu menjalin komunikasi.

Saya tahu, bukan hanya FSBS yang kehilangan sosok yang dikenal ringan tangan ini. Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kabupaten Serang, tempat ia bergabung dalam organisasi serikat pekerja, juga merasakan hal yang sama.

Ketika pada akhirnya Argo Priyo Sujatmiko, Isbandi Anggono, Heri Susanto, Sarnaja, dan Nursyaifudin datang, rapat sore itu dimulai. Di akhir acara, diisi dengan pelepasan sosok pejuang buruh yang selama ini setia mengawal setiap agenda kerja FSBS.

Di Sukabumi, selain hendak melanjutkan kuliah, Bung Kamal (begitu ia biasa disapa) berniat melanjutkan gagasan yang selama ini dikembangkan FSBS. Ia bercita-cita menumbuhkan kesadaran baru di tengah-tengah masyarakat di kampungnya.

“Darah juang di dadaku selalu menggelora bung Kahar,” katanya seraya menepuk pundak saya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s