Kado Ulang Tahun Provinsi Banten

JITanggal 4 Oktober kemarin, Banten merayakan ulang tahunnya yang ke-10. Masih belia, jika dilihat dari segi usia. Namun, rentang waktu 10 tahun berdiri sebagai provinsi otonom yang terpisah dari Jawa Barat, 10 tahun adalah periode yang cukup lama. Ya, kita bisa mengkalkulasi sendiri. Sejarah apa yang bisa ditorehkan dalam rentang waktu tersebut.

Saya menginjakkan kaki di tanah Banten, satu tahun setelah provinsi ini berdiri. Dan sejak saat itu, saya berdomisili dan beraktivitas di Banten. Berinteraksi dengan masyarakat Banten. Menjadi buruh di Banten. Bergabung dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), pernah menjadi Ketua Konsulat Cabang Kabupaten Serang di organisasi serikat buruh ini, membela dan mengadvokasi ribuan buruh yang ternistakan hak-haknya di tanah para Jawara. Pendek kata, aktivis saya yang berdampingan erat dengan masyarakat Banten, membuat saya seperti berada di kampung halaman sendiri. Inilah sesungguhnya, yang ikut mengobarkan kecintaan saya pada Indonesia, negeri Bhinneka Tunggal Ika.

Tanggal 4 Oktober kemarin, Provinsi Banten merayakan ulang tahunnya yang ke-10. Kemajuan apa yang sudah didapat?

Jari-jemari saya terhenti cukup lama di atas keyword ketika sampai pada kalimat ini. Ya, perubahan apa yang sudah dicapai Banten, sebagai provinsi, dalam sepuluh terakhir?

Terlalu naif jika mengatakan bahwa Banten tidak mengalami kemajuan. Namun, sejujurnya, saya kesulitan untuk menyebut apa saja kemajuan itu. Hingga hari ini, misalnya, saya masih asing dengan desain pembangunan di Banten. Ya, hendak dibawa kemana provinsi yang sesungguhnya sangat potensial ini.

Mengutip pernyataan tokoh masyarakat Banten, Muchtar Mandala, saat ini visi pembangunan Provinsi Banten belum terarah dan terlalu fokus pada pembangunan infrastruktur di perkotaan, sehingga ketertinggalan dan kesenjangan terjadi di daerah pelosok.

“Begitu banyak gedung megah berdiri di pusat kota, misalnya Kota Serang, termasuk gedung pemerintahan. Namun sedikit orang yang tahu bahwa tertinggal di luar Kota Serang sangat tampak terjadi,” kata Muchtar dalam sebuah diskusi di Kebon Kubil, Cipocok Jaya, yang digelar Forum Cendekia Banten (Radar Banten, 4 Oktober 2010).

Dokumen RPJMD, kata dia, sekitar 70 persen berisi pendahuluan, 10 persen perencanaan, dan sisanya data penunjang. Tidak ada konsentrasi strategi perencanaan sampai pelaksanaannya. “Leader saat ini hanya untuk menjaga citra, kerjanya adalah meresmikan ini dan itu saja,” ujarnya.

Namun, dibalik itu semua, tetap saja saya terkesima dengan klaim Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah yang saat memaparkan berbagai keberhasilan dalam pemerintahannya dalam Rapat Paripurna Istimewa Hari Ulang Tahun Provinsi Banten ke-10 di gedung DPRD Banten

Keberhasilan yang diungkapkan Atut antara lain, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) yang pada 2001 sebesar 3,95% menjadi 5,64% pada semester I 2010. LPE ini, kata Atut, berada di atas rata-rata nasional dengan pendapatan perkapita 13,6%.

“Meningkatnya LPE ini dipengaruhi oleh iklim investasi yang semakin baik. realisasi investasi, baik PMA (penanaman modal asing-red) maupun PMDN (penanaman modal dalam negeri-red) menduduki peringkat ketiga secara nasional pada tahun 2008/2009 dari 33 provinsi,” jelas Atut dengan suara yang agak serak seraya disambut tepuk tangan yang hadir.

Capaian pembangunan juga, kata dia, digambarkan dengan indeks pembangunan daerah (IPD) yang diukur berdasarkan tiga komponen, yakni keberdayaan pemerintah daerah, pengembangan wilayah, dan keberdayaan masyarakat.

Indeks pembangunan manusia (IPM), menurut Atut, pada 2001 sebesar 65,3, telah mengalami peningkatan menjadi 70,06 pada 2009. Kenaikan ini, kata dia, telah menempatkan Banten di atas IPM nasional.

Pada bidang pendidikan, Atut mengklaim indeks pendidikan telah meningkat dari 80,1% pada 2002 menjadi 81,7% pada 2009. Demikian pula pada indeks kesehatan masyarakat, pada 2002 sebesar 62,3% naik menjadi 66,8 pada 2009. Sementara indeks daya beli, kata Atut, dari 57,5% pada 2002 menjadi 61,3 pada 2009. Perkembangan kondisi makro ekonomi di atas, lanjutnya, berimplikasi terhadap menurunnya tingkat kemiskinan.

Hal lainnya yang diungkapkan Atut adalah, dalam rangka meningkatkan rasio elektrifikasi dan mewujudkan visi Banten Terang, Pemprov Banten telah melaksanakan pembangunan gardu induk bekerjasama dengan pihak PLN di wilayah selatan dan program pembangunan lisdes (listrik masuk desa) yang diberikan kepada masyarakat secara gratis. Dari 2003 hingga tahun 2010, kata Atut, program lisdes telah menerangi 101.954 rumah secara gratis.

“Dengan upaya tersebut, sampai dengan 2009, rasio elektrifikasi telah mencapai 74,7 persen, berada di atas rasio elektrifikasi nasional 66,3 persen,” ungkapnya.

Sementara, untuk mengurangi meningkatnya laju pengangguran, kata Atut, Pemprov Banten berupaya melakukan pola pendekatan edukatif, yaitu menyerasikan program pendidikan dan pelatihan keterampilan dengan dunia usaha. Di samping itu, lanjutnya, Pemprov telah melakukan berbagai upaya menanggulangi kemiskinan melalui tiga klaster program, yaitu klaster pertama dengan bantuan dan perlindungan sosial melalui program raskin, program keluarga harapan, jamkesmas dan jamkesda, serta bantuan beasiswa.
Klaster kedua, lanjutnya, dengan pemberdayaan melalui dukungan dan pelaksanaan program nasional PNPM Mandiri serta klaster ketiga adalah pemberdayaan usaha mikro dan kredit usaha rakyat.

“Berbagai capaian pembangunan ini merupakan hasil kerja keras Pemprov Banten bersama pemerintah kabupaten/kota, serta sumbangsih dari seluruh stakeholder dan masyarakat Banten,” ujarnya. (*)

Foto diambil dari SINI

Iklan

2 pemikiran pada “Kado Ulang Tahun Provinsi Banten

  1. Bnarkah seperti itu? Mungkin saja benar, kalau kita hanya melihat satu sisi saja memang ada kemajuan tapi mari kita tengok lebih dalam ke kehidupan masyarakat ini. Megahnya kawasan pemerintahan provinsi banten tidak serta di barengi dengan pembangunan wilayah penyangganya yaitu d kecmatan curug kota serang, coba anda jalan2 kesana d dekat KP3B tersebut masih ada penduduk yang tinggal d gubug reot dan belum mempunyai fasilitas MCK, apa yang seperti ini keberhasilan?

    1. Keberhasilan pembangunan itu adalah klaim Gubenur Banten dalam Rapat Paripurna Istimewa Ulang Tahun Banten di DPRD Banten. Seperti saya sampaikan di awal, justru saya nyaris tidak menemukan adanya kemajuan pembangunan di Banten. Kalaupun ada, itu hanya angka. Realitanya, sebagian besar penduduk di pedesaan dan pesisir tetap saja tersingkirkan. Tidak usah jauh-jauh, di pinggiran kawasan industri Modern Cikande Industrial Estate pun, pemandangan yang anda sebutkan masih kita jumpai. Pembangunan tanpa visi – mengutip pernyataan Muchtar Mandala – adalah kado ulang tahun Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s