Buruh Perempuan, Bicaralah….

Saya terkesima saat membaca data dari Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Serang, yang menyatakan bahwa jumlah buruh perempuan di di Kabupaten Serang lebih banyak dari buruh laki-laki. Perbandingannya cukup fantastis, dimana buruh perempuan mencapai 60.038 orang, sedangkan buruh laki-laki hanya 26.928 orang. Data ini, bisa jadi masih kecil jika dibandingkan dengan realita yang ada. Sebab masih banyak buruh yang bekerja di sektor informal tidak terdata. Belum lagi mereka yang berstatus kontrak dan outsourcing, yang keberadaannya tidak dilaporkan.

Terkait dengan buruh perempuan lebih banyak dari laki-laki, sebenarnya sudah sejak lama saya mengetahui. Namun, kali ini ada yang menghentak di dada saya. Bisa jadi, saya terprovokasi pernyataan Kepala Sub-Bagian Promosi dan Potensi Daerah Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Serang, Ruddy Mohammad Rahmanudin: Banyak wanita bekerja di pabrik karena beberapa faktor, di antaranya wanita cenderung tidak banyak protes, gajinya lebih murah, dan pekerjaanya lebih teliti. Sebagaimana yang dikutip Radar Banten, 4 Oktober 2010.

“Makanya jangan heran kalau wanita terlihat gampang mencari pekerjaan di pabrik dibandingkan pria. Sebab mayoritas perusahaan menginginginkan tenaga kerja wanita karena umumnya wanita lebih teliti,” kata Ruddy.

Saya tidak hendak mempersoalkan, perusahaan mau merekrut buruh perempuan atau laki-laki. Hanya saja, yang saya sesalkan, adalah alasan mereka saat merekrut buruh perempuan.

Alasan-alasan bahwa buruh perempuan relatif lebih mudah diatur, tidak banyak protes, penurut, bisa digaji murah. Buat saya, ini bukan sekedar persoalan diskriminasi. Ini adalah penghinaan atas kemanusiaan. Stigma dan propaganda yang sangat jahat. Apalagi jika kemudian, wanita yang tidak memenuhi unsur penurut dan mudah diatur, dianggap sebagai “wanita jalang”. Dianggap bukan wanita baik-naik!

Diskriminasi itu masih saja terjadi. Budaya patriarki itu masih saja menjauhkan kita dari terwujudnya hubungan (relasi) yang lebih adil.

Mendadak saya teringat, sejatinya tidak sedikit wanita yang mulai sadar akan hak dan kewajibannya. Teman-teman di Biro Perempuan Forum Solidaritas Buruh Serang, misalnya, belakangan mulai aktif mengkampanyekan hak-hak buruh perempuan dalam dunia kerja. Mereka juga terlibat dalam kerja-kerja jaringan, advokasi, dan riset.

Seorang teman, yang juga Ketua Yayasan Insan Karya Mandiri, Sukriah, dalam satu diskusi mengatakan bahwa saat ini sudah semakin banyak perempuan yang terlibat dalam kegiatan organisasi semakin banyak. Buat saya, ini adalah modal. Hingga pada gilirannya nanti, bagaimana menjadikan 60.038 orang buruh perempuan di Kabupaten Serang bisa terorgnisir dan bersikap kritis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s