Serial Aktivis Buruh Serang (2): Belajar dari Argo Priyo Sujatmiko

”Sebelum memutuskan untuk hijrah ke Banten, saya bekerja di sebuah pabrik rotan yang terdapat di Mojokerto,” seperti inilah Argo menuturkan kisah hidupnya. Saat itu, ia baru saja keluar dari Fakultas Pertanian Universitas Jayabaya, Surabaya. Bukan karena telah berhasil meraih gelar sarjana. Tetapi karena drop out, karena merasa bahwa pertanian bukanlah dunianya. Argo keluar dari salah satu universitas swasta di Surabaya itu ketika baru semester 1.

Lelaki ini memang sulit dipahami. Betapa tidak, jika dirunut dari riwayat pendidikannya, seharusnya berada di fakultas pertanian adalah pilihan yang tepat baginya. Sebab pria yang dikenal sebagai Sekretaris DPC FSPKEP Kabupaten Serang ini lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas Pembangunan (setara SMA). Namun belakangan, ia mengatakan bahwa mengambil jurusan pertanian adalah sebuah keterpaksaan.
Atas bantuan bibinya yang seorang bidan, Argo bisa bekerja di pabrik rotan. Disana, meski baru masuk bekerja, Argo dipercaya memegang jabatan bergengsi. Sebagai Kepala Bagian QC. Saat itu tahun 1993.

Meskipun memiliki jabatan dan beberapa anak buah, namun tidak membuat Argo bertahan lama di perusahaan itu. Argo hanya bertahan selama enam bulan, karena belakangan memutuskan untuk mengundurkan diri. Ini terjadi karena Argo tidak terima dipersalahkan atas gagalnya eksport 3 (tiga) kontainer rotan, karena adanya kesalahan prosedur/standar QC.

Ia tahu, bahwa itu adalah kesalahannya. Namun, lelaki kelahiran 15 Desember 1973 ini memiliki alasan lain. ”Saat itu aku masih muda, sehingga tidak bisa mengontrol emosi. Meskipun semua itu seharusnya menjadi tanggungjawabku, namun aku tidak suka kalau dijadikan kambing hitam,” ujar Argo.

Meskipun sudah tidak lagi bekerja di pabrik rotan itu, namun Argo terlibat dalam pembentukan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Di rumahnya, ia memfasilitasi pertemuan beberapa kawan yang masih aktif bekerja untuk membetuk serikat. Sebuah pembalasan dendam? Entahlah, sebagaimana yang dituturkan Argo, ia mengaku sangat bergairah ketika berbicara tentang organisasi serikat buruh. Apalagi jika itu ditujukan untuk membela yang lemah. Baginya, hanya dengan memiliki serikat pekerja, seorang buruh bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan pemilik perusahaan.

Pada saat yang bersamaan, orang tua Argo tetap mendesak agar dirinya melanjutkan kuliah. Sang Paman, bahkan berjanji untuk menanggung seluruh biaya kuliah, asalkan ia bersedia masuk ke Fakultas Pertanian. Dan celakanya, persis di bidang itulah sesuatu yang sangat dibencinya. Ia sama sekali tidak bisa menjiwai bidang yang satu ini.
Sebaliknya, Argo memiliki pemikiran lain. Ia berniat untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. Memilih fakultas yang diinginkannya, meskipun dengan konsekwensi menanggung biaya sendiri.

”Ini sekaligus sebagai pembuktian, bahwa saya sudah dewasa. Bisa dan mampu mengambil keputusan sendiri,” begitu Argo memberikan alasan.

Dan keputusan itu diambilnya, tepat pada tahun 1994. Ia berangkat ke Serang – Banten, sebelum akhirnya diterima bekerja di PT. Colorindo. Argo bahkan meninggalkan rumah tanpa meninggalkan pesan yang jelas kepada keluarga akan hendak kemana. Ibunya menangisi keputusannya, tetapi tekad Argo sudah bulat.

Setelah 2 (dua) tahun bekerja, untuk pertamakalinya Argo pulang ke kampung halaman. Argo mengenang, saat itu kepulangannya disambut bak anak hilang yang baru ditemukan. Betapa tidak, saat itu komunikasi tidak semudah sekarang. Alat komunikasi yang paling memungkinkan adalah melalui surat. Dan itu membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sekedar berkirim pesan.

Tahun 1997, Argo memenuhi janjinya untuk kuliah sambil bekerja. Ia masuk ke fakultas hukum sebuah universita swasta di Tangerang. Saat itu, yang terpikir dalam benaknya hanyalah kuliah. Meskipun tanpa ada visi yang jelas.

Jadilah, setiap hari Argo pulang-pergi Serang – Tangerang. Siang hari, ia berada di dalam pabrik. Dan sepulang kerja menuju ke kampusnya, hingga pukul 10 malam. Sebuah aktivitas yang menuntut kesabaran dan kerja ekstra.

Meskipun demikian, kuliahnya tidak sia-sia. Sebab pada saat yang sama, ia dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Bidang Advokasi di PUK PT. Colorindo. Sedikit banyak, ilmu hukum yang dipelajarinya di bangku kuliah sangat membantu. Siapa sangka, bahwa kelak semua itu menjadi awal bagi kiprahnya di dalam gerakan buruh.

* * *

Tahun 1998, krisis melanda negeri ini. Semua terkena imbasnya, tidak terkecuali bagi pekerja/buruh.

”Saat itu terjadi penurunan mata uang rupiah,” Argo mengenang. Atas dasar itu, serikat pekerja di PT. Colorindo melakukan perundingan kenaikan upah untuk menyesuaikan inflansi. Apalagi, sebelumnya sudah ada kesepakatan melalui Perjanjian Kerja Bersama (PKB), bahwa saat terjadi devaluasi, maka upah akan ditinjau ulang.

Singkat cerita, perundingan ini mengalami jalan buntu. Karena merasa tidak ada jalan keluar, para pekerja melakukan mogok kerja.

Pemogokan itu berhasil memaksa perusahaan untuk berunding kembali bersama serikat pekerja. Ironisnya, dalam perundingan tripartit yang difasilitasi Depnaker Serang menemui jalan buntu. Bahkan, dalam anjuran yang dikeluarkan Depnaker Serang, buruh dikalahkan. Meski mengaku sempat melakukan demonstrasi ke Depnaker Serang, serikat pekerja lantas membawa kasus ini ke P4D (Panitia Penyelesaian Perselesisihan Perburuhan Daerah), di Bandung.

Lagi-lagi, putusan P4D memenangkan pengusaha. Serikat pekerja berencana menaikkan permasalahan ini ke P4P. Tetapi, pihak pengusaha mengajak damai. Sebagai gantinya, perusahaan mengajak para pekerja untuk rekreasi, memberikan seragam dan bantuan modal untuk koperasi karyawan. Meskipun tuntutan awal tidak terpenuhi, namun pekerja sudah merasa terhibur dengan apa yang diberikan perusahaan.

Memasuki tahun 1999, pengusaha melakukan pengurangan tenaga kerja dengan mem-PHK karyawan tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada pengurus serikat pekerja. Tentu saja, kebijakan ini menyulut ketegangan baru antara serikat pekerja dan pengusaha.

Hingga satu ketika, serikat pekerja memutuskan untuk melakukan mogok kerja. Sebuah pemogokan yang tiba-tiba. ”Hari ini diputuskan, besok mogok!” ujar Argo. Meskipun banyak pihak yang meminta agar membatalkan rencana pemogokan ini, namun serikat pekerja tak bergeming.

Inilah awalnya. Di tengah pemogokan, terjadi insiden pemukulan oleh karyawan kepada pimpinan perusahaan. Menurut penuturan Argo, insiden ini sebenarnya dipicu oleh tindakan salah seorang pimpinan perusahaan yang mengeluarkan senjata api. Tidak terima melihat seorang pimpinan perusahaan menodongkan senjata api, ratusan buruh yang sedang mogok melakukan penyerangan kepada pimpinan perusahaan.
Sebagai tindak lanjut dari peristiwa ini, seorang pengurus dan lima orang anggota serikat pekerja dijadikan tersangka terkait dengan kasus penyerangan.

Tuntutan pun bergeser.

Kini serikat pekerja disibukkan dengan melakukan advokasi terhadap anggotanya yang terancam hukuman penjara. Pada medio inilah, Argo mengaku bertemu dengan teman-teman dari BPB LDD (Biro Pelayanan Buruh Lembaga Daya Dharma), yang kemudian memperkenalkannya dengan LBH Jakarta. Di LBH, Argo mengenal nama-nama seperti Surya Tjandra, yang kemudian mendirikan Trade Union Right Centre (TURC) dan mejadi Direktur Eksekutif di pusat advokasi dan studi hak-hak buruh itu.

Melalui LBH Jakarta, serikat pekerja balik mengadukan pimpinan perusahaan terkait dengan pistol yang dikeluarkannya saat aksi mogok kerja berlangsung. Kedudukan imbang, 1 : 1. Kasus ini akhirnya berakhir damai.

* * *

Matang di tingkat unit, itulah yang terjadi pada diri Argo Priyo Sujatmiko. Selama proses itu berlangsung, ia menjadi tokoh kunci. Apalagi, di unit kerja, ia menjadi pengurus di bidang Advokasi. Posisinya yang saat itu sedang kuliah juga dipandang oleh kawan-kawan sebagai nilai lebih.

Atas pengalaman itulah, tidak berlebihan jika kemudian tanpa ragu ia diberi kepercayaan sebagai Sekretaris DPC FSPKEP Kabupaten Serang. Saat ini, ia juga duduk sebagai anggota Dewan Pengupahan Kabupaten Serang dan Koordinator Advokasi Politik dan HAM Forum Solidaritas Buruh Serang.

Untuk dirinya, Argo harus membayar mahal atas apa yang dicapainya saat ini. Karena kesibukannya di serikat pekerja, kuliahnya terbengkalai. Ia drop out pada tahun 2000, padahal tinggal menyusun skripsi.

”Saya tidak memiliki waktu untuk kuliah sejak kasus itu mencuat,” Argo mengenang. ”Waktu saya habis untuk diskusi tentang serikat dan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, seperti DPP dan LBH.”

Tahun 2008, Argo kembali duduk di bangku kuliah, setelah 8 tahun tertunda. Beruntung, pihak universitas mengijinkannya untuk melanjutkan, meskipun harus mengulang beberapa semester. Tetapi, untuk kedua kalinya harus berhenti di tengah jalan. Memasuki tahun 2009, saat teman-teman buruh di Serang memintanya maju sebagai salah satu caleg, lagi-lagi ia kesulitan untuk membagi waktu. Dan, ia memilih untuk berhenti kuliah.

Totalitas. Itulah yang dilakukan Argo di dalam serikat pekerja. Saya mengenalnya sebagai sosok yang penuh antusias dan tidak setengah-setengah melibatkan dirinya dalam gerakan. Hampir semua kegiatan dia ikuti, seolah memiliki energi yang berlipat-lipat untuk mengerjakan itu semua.

Ia tidak nampak menyesali keputusan yang sudah diambilnya. Tentang waktu yang banyak terbuang, tentang kuliahnya yang berantakan. Kepada saya, Argo mengungkapkan, bahwa ilmu yang didapat dari serikat pekerja jauh lebih banyak dan lengkap.

”Bahwa tugas berat pimpinan buruh adalah memberikan pemahaman kepada anggotanya tentang peran dan fungsi serikat pekerja. Serikat pekerja itu pada dasarnya benda mati, dan kita, para pengurusnya adalah nyawa yang menggerakkannya. Jadi, seharusnya budaya otokritik juga penting untuk dikembangkan. Ada saatnya evaluasi ke dalam, apakah memang pengurusnya sudah mengurus organisasi dengan benar.” Kalimat panjang yang selalu saya kenang dari sosok bersahaja ini.

Kerisauannya adalah soal regenerasi. Soal keberlanjutan gerakan. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s