Tabungan Setahun untuk Mudik Sehari

Sumber: Radar Banten 29 Agustus 2010

Persiapan mudik sangat luar biasa. Tidak hanya sebulan dua bulan tapi berbulan-bulan. Bahkan beberapa perantau, banyak yang mulai memikirkan untuk bekal mudik selanjutnya sepulang dari mudik yang dilakoni beberapa hari lalu.

Namun beberapa perantau lebih memilih tidak mudik daripada harus mencari pinjaman ke sana kemari. Inilah fenomena mudik, yang unik, dan membudaya di masyarakat Indonesia.

Suryadi misalnya. Penjual bakso di Saptamarga, Unyur, Kota Serang ini, termasuk satu dari beberapa kaum urban yang mementingkan pulang kampung saat Lebaran. Namun pria berambut kriting ini mengungkapkan, tidak perlu memaksakan untuk pulang kampung.

“Mudik itu kan perlu uang, kalau tidak ada uang apa yang bisa diberikan sama kerabat di kampung. Mereka cuma tahu kita merantau itu kerja, tapi mereka tidak mau tahu kita kerja apa yang pasti menghasilkan uang,” ujar lelaki yang mengaku selalu menyempatkan pulang kampung setahun sekali meskipun bukan Lebaran.

“Karena saya punya anak juga di kampung, di sini cuma usaha. Saya pun punya rumah di kampung,” jelas Suryadi yang mengaku belum berminat memiliki rumah di Serang, meskipun usaha bakso yang dikelola sejak lebih dari empat tahun lalu mulai mapan di Serang.

Suryadi sepakat, untuk bisa mudik, ia mulai menyisihkan sisa hasil usaha atau keuntungan usaha untuk mudik. Ini sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti usahanya yang tiba-tiba stagnan dan sebagainya. Alasan lain supaya saat pulang kampung bekal yang dibawa lebih banyak.

Hal serupa dilakukan Yunita Ababil. Remaja asal Lampung yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tersebut mengatakan, mudik menjadi ajang pembuktian kesuksesan seseorang yang merantau. Oleh karena itu, wanita yang rela merantau ke Pulau Jawa untuk menjadi pembantu sejak tiga tahun lalu ini sudi membawa banyak bawaan saat mudik Lebaran.

“Repot sedikit nggak apa-apa, yang penting keluarga di kampung senang. Kadang barang yang dibawa sampai lima buah dalam ukuran besar, seperti kardus, tas berisi pakaian, dan oleh-oleh,” jelas Yuni yang setiap tahun dijemput sang ayah untuk membantu membawa barang bawaan berisi oleh-oleh.

Yuni mengaku, termasuk tipe orang yang rela tidak membelanjakan uang demi bekal mudik. Selama setahun bekerja, Yuni lebih memilih menabung gaji bulanan untuk dibelikan aneka pakaian dan makanan serta memberi orangtua dan kerabat saat Lebaran.

“Setelah Lebaran, tinggal cari lagi. Yang penting mudik tahun ini bisa membahagiakan orangtua,” jelas Yuni.

Setali tiga uang dengan Embay Hamdiah. Ibu tiga anak mengaku, tidak berani mudik jika tidak memiliki perhiasan. Embay sangat sepakat, mudik ajang pembuktian kesuksesan perantau. Ia pun menyempatkan diri meminjam perhiasan tetangga jika hendak mudik.

“Apalagi bagi yang merantaunya bertahun-tahun seperti saya, malu dilihat orang sekampung kalau setiap kali mudik tidak ada perubahan,” ujar wanita yang kesehariannya mengandalkan nafkah sang suami dari hasil berjual sayur keliling ini.

Berbeda halnya dengan Kiki Makiyah. Wanita yang berprofesi sebagai guru SMP ini mengaku, jika tidak memiliki bekal yang cukup, tidak perlu memaksakan untuk mudik. “Kita harus berpikir jenih juga, sebelum mudik harus punya persiapan uang untuk bekal setelah kembali dari mudik. Jangan sampai, habis-habisan mengeluarkan uang untuk mudik, tapi pas kembali lagi ke rumah uangnya habis dan akhirnya berhutang ke sana kemari,” jelas Kiki yang berdomisili di Serang.

Tahun ini Kiki berencana berlebaran di Serang. Bukan karena ia tidak memiliki bekal yang cukup untuk mudik, namun karena saat liburan tahun ajaran baru lalu ia sudah mengunjungi orangtuanya yang berada di Lampung. “Yang penting kan saat malam takbir kita bisa berkomunikasi lewat ponsel untuk meminta maaf, sepertinya ini lebih efektif,” pungkas Kiki. (zee/alt)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s