Serial Aktivis Buruh Serang (1): Belajar dari Heri Susanto

Jam 03.00 dini hari, di tahun 1997. Saya terkejut saat pintu rumah digedor orang dari luar. Ini mirip adegan penculikan para jenderal dalam film G30S PKI yang dulu sering diputar pada masa orde baru.

Dari luar, terdengar seseorang menyuruh saya untuk segera keluar. Suaranya kasar. Tidak bersahabat.

Ketika saya membuka pintu, pemilik rumah kontrakan yang saya tempati sudah menunggu. Ia meminta saya untuk segera melunasi uang sewa rumah yang tertunda beberapa bulan. Tidak lupa memberikan ultimatum, kalau hingga besok saya tidak segera membayar uang kontrakan, ia meminta saya untuk segera angkat kaki.

Betapapun, saat itu saya berusaha untuk tegar, namun nyatanya tetap saja terguncang. Betapa tidak, sepagi itu saya diteriaki dan dimaki-maki. Persis seperti dua sejoli yang digrebek hansip karena kumpul kebo. Apalagi saat itu, putra sulung saya belum genap berusia satu tahun.

Saya menganggur. Kehilangan pekerjaan. Jangankan untuk membayar rumah kontrakan, sekedar untuk memikirkan besok mau makan apa saja sudah kehabisan cara. Harapan saya serasa sudah sirna. Pintu seperti tertutup rapat, tanpa tahu dimana anak kunci untuk membukanya kembali berada.

“Yang membuat hati saya sakit, pada suatu pagi, di depan rumah sudah ditempeli pengumuman bahwa rumah ini dikontrakkan,” Sakit rasanya saat mengenang masa-masa itu. “Padahal saya masih berada di dalam rumah itu.”

Pernah saya begitu frustasinya, hingga hendak menjambret seorang gadis di Kawasan Industri Modern.

“Saya sudah mengikuti gadis itu sejak dari kejauhan. Ia berjalan sendiri. Melangkah pelan, dengan tangan kanan menenteng map yang saya duga berisi surat lamaran kerja. Dugaan saya, ia juga sedang mencari pekerjaan di kawasan industri itu. Saya mempercepat langkah, hingga jarak kami berdua semakin dekat. Dalam pikiran saya, saat benar-benar sepi, saya akan menjabret kalung emas yang melingkar di lehernya, dan lari sekencang mungkin. Pokoknya hari itu saya harus mendapatkan uang. Saat posisi saya sudah bisa menjangkau si gadis, tangan saya gemetar hebat. Rasa takut dan kebutuhan akan uang bersitegang untuk berebut pengaruh. Juga, saya ingat akan Tuhan. Mungkin karena saya tidak berpengalaman menjambret, sehingga terlalu banyak pertimbangan. Hari itu saya gagal total. Namun kegagalan dalam berbuat kejahatan, sesuatu yang pantas disyukuri bukan?”

Satu ketika, saya pernah pernah berjalan kaki sejauh 5 kilometer hanya untuk mendapatkan pinjaman 3 ribu rupiah untuk beli beras. Saat itu, saya ketemu nasi paling cepat hanya dua hari sekali. Selebihnya, sehari-harinya saya dan istri hanya makan singkong rebus yang dicocol garam. Sebuah kenangan yang tidak mungkin terlupa. Bahkan karena tidak mampu beli susu, anak saya yang pertama hanya saya kasih minum tajin.”

Sebenarnya, saya bukannya tidak ingin bekerja. Hanya, memang, semua lamaran kerja yang saya sodorkan ke perusahaan tidak pernah ada tanggapan. Saya tahu, bekerja di perusahaan bukanlah satu-satunya sumber rejeki. Itulah sebabnya, saya bekerja serabutan. Saya juga memiliki keahlian bermain bola volly. Setidaknya sekali dalam satu minggu, ia biasa diundang untuk memperkuat sebuah tim yang akan bertanding. Dari situ, saya bisa mendapatkan uang saku 20 ribu. Tetapi apalah arti 20 ribu, dalam satu minggu, bagi pria beristri dengan seorang anak seperti saya?

“Hingga suatu ketika, beban saya sedikit berkurang ketika akhirnya istri saya diterima bekerja di PT. Tamura. Saya ingat, saat itu jatah makan siang yang diberikan pabrik selalu dibawa pulang oleh istri saya pada sore hari sepulang kerja. Di rumah, kami memakan jatah makan siang dari pabrik itu bersama-sama. Karena memang sudah tidak ada apa-apa…..,” lagi-lagi, Heri membagi kisah hidupnya yang mengharu biru.

* * *
Dalam Rapat Evaluasi Tengah Tahun FSBS (paling kiri)

Di atas, adalah sepenggal kisah hidup Heri Susanto. Pengalaman pahit saat menganggur itu, membuat Sekretaris Forum Solidaritas Buruh Serang ini begitu peka dengan permasalahan pekerja. Ia bahkan berharap agar tidak ada lagi PHK terjadi di negeri ini.

“Sedapat mungkin serikat pekerja harus memastikan, tidak seorang buruh pun kehilangan pekerjaan secara semena-mena,” ujarnya.

Pria yang sempat mengenyam study di politeknik Universitas Brawijaya selama 8 bulan ini mengawali jejaknya sebagai pekerja di PT. Kumbong Kontainer Industry pada tahun 1993. Di perusahaan ini, ia bertahan hingga tahun 1996. Pada tahun itu juga, ia mendapatkan pekerjaan di PT. Colonina (selama 5 bulan), dan pindah bekerja di PT. Gumindo Perkasa Industry. Keluar dari PT. Gumindo Perkasa Industry, menganggur selama setahun, hingga akhirnya diterima di PT. Shinta Woo Sung sebagai Satpam. Sampai sekarang, ia masih bekerja di perusahaan ini.

Saat pekerja/buruh PT. Shinta Woo Sung mendirikan serikat pekerja, sebenarnya Heri tahu. Namun, saat itu, ia belum terlibat secara langsung sebagai pengurus karena terkendala statusnya sebagai Satpam. Ia hanya mengamati perkembangan dari kejauhan. Baru setelah ia dipindahkan di bagian produksi, Heri diberi amanah menjadi pengurus.

Bagi Heri, permasalahan yang harus segera dipecahkan serikat pekerja adalah meningkatkan kesadaran buruh terhadap organisasinya. Sebab tanpa adanya kesadaran, kita sulit mengharapkan adanya partisipasi dari pekerja untuk terlibat dalam perjuangan ini.

Kesadaran itulah, yang mengantarkan langkah Heri untuk memperluas dharma bhaktinya untuk kemanusiaan. Ia tidak saja berkutat di unit kerja, dalam perusahaan. Tetapi juga meluas hingga ke level daerah, Kabupaten Serang.

Suka dan duka dilaluinya dengan tabah. Heri paham, dalam gerakan serikat pekerja, semuanya adalah pengabdian. Jangankan kekurangannya, keberhasilannya pun seringkali tidak mendapatkan apresiasi sebagaimana mestinya.

“Saya ini abdi masyarakat,” begitu Heri mengungkapkan tentang dirinya kepada saya. Itu, mengingatkan saya pada slogan pegawai negeri. Namun yang dimaksud oleh Heri bukan itu. Ini adalah sebenar-benarnya sebuah pengabdian. Karena memang ia tidak digaji atas itu semua.

Namun, bukankah orang yang paling baik diantara sesamanya adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat? Ini sekaligus untuk menepis persepsi, bahwa semua harus dinilai dengan uang semata. Bahwa masih banyak anak manusia, di sekitar kita, yang memberikan cahaya dalam diamnya.

============

Sekilas Tentang Heri Susanto

Bapak dari 4 (empat) orang anak ini lahir di Madiun 25 Desember 1972. Sebelum bekerja di PT. Shinta Woosung, ia pernah bekerja di PT. Kumbong Kontainer Industry (1993), PT. Colonina, dan PT. Gumindo Perkasa Industry. Saat ini, lulusan Politeknik Universitas Brawijaya ini menjabat sebagai Sekretaris Umum Forum Solidaritas Buruh Serang dan aktivis Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Serang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s