Belajar dari Pelantikan Bupati Serang

Sebuah undangan ditujukan kepada Koordinator Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS). Pada intinya, dalam undangan yang berasal dari Ketua DPRD Kabupaten Serang itu, mengharap kehadiran dalam Pelantikan Bupati Kabupaten Serang masa bhakti 2010 – 2015 yang dilaksanakan pada 28 Juli 2010.

Sebagai Koordinator FSBS, segera terlintas dalam benak saya untuk tidak menghadiri undangan itu. Ada hal yang lebih penting, bagi saya, untuk sekedar menghadiri sebuah acara pelantikan. Bukankah yang substansial dari keberadaan seorang bupati adalah kinerja, bukan acara seremonial?

Saat hari minggu (26/7) menghadiri persiapan pemetaan demokrasi yang dilakukan di Sekretariat FSBS, saya mendengar, para Ketua DPC SP/SB se-Kabupaten Serang juga mendapat undangan serupa. Itulah sebabnya, setelah meminta pendapat dari beberapa pengurus FSBS, akhirnya saya menghadiri juga undangan itu. Beberapa kawan bahkan mendorong agar saya sendiri yang menghadiri undangan itu, kendati saya berencana untuk mendelegasikan kepada Sekretaris FSBS, Heri Susanto.

“Sebuah kesalahan besar, karena bersedia menghadiri pelantikan seorang bupati yang dianggap gagal mensejahterakan rakyat?” Tentu saja, sangat masuk akal jika anda hendak melontarkan kritik ini.

Di acara pelantikan, saya bertemu dengan beberapa aktivis buruh yang lain. Hafuri Yahya (Koordinator Aliansi SP/SB Serang), Isbandi Anggono (Ketua KC FSPMI Serang), Asep Danawirya (Ketua DPC KSPSI Serang), Amir Sanusi (Ketua KSBSI Serang), Argo P. Sujatmiko (Sekretaris DPC FSPKEP Serang), Pardiyo (Anggota Dewan Pengupahan), Atep (Ketua PB SBB Serang), dsb.

“Coba kalau hari ini kita melakukan aksi unjukrasa di tempat ini,” ujar Hafuri kepada saya, sesaat sebelum memasuki tempat pelantikan.

Saya sependapat. Terbesit dalam benak saya, bahwa sesungguhnya ini pun belum terlambat. Caranya? Melakukan aksi nekat dengan berteriak di tengah “sakralnya” acara pelantikan, agar bupati terpilih lebih berpihak kepada rakyat. Agar bupati lebih peduli dengan nasib kaum buruh. Apalagi jika aksi ini dilakukan juga oleh semua pimpinan SP/SB yang juga ikut menghadiri acara itu.

Hanya, memang, hal itu tidak terjadi. HA Taufik Nuriman yang berpasangan dengan Ratu Tatu Chasanah tetap saja dilantik tanpa ada hambatan yang berarti. Bisa jadi itu momentum istimewa bagi mereka – tidak bagi saya – mengingat hari itu Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, melantik adik kandungnya sendiri, Ratu Tatu Chasanah.

Dalam sambutannya, Gubernur Banten mengatakan bahwa penentuan dan penetapan lokasi pusat pemerintahan serta ibu kota Kabupaten Serang harus menjadi skala prioritas untuk segera direalisasikan oleh bupati dan wakil bupati periode 2010-2015. Hal ini sangat penting karena pusat pemerintahan yang digunakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang akan segera diserahkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Serang. Sementara itu, Pemkab Serang harus pindah ke lokasi yang baru sehingga secara otomatis ibu kota dan pusat pemerintahan berubah.

Selain itu, Gubernur Atut meminta bupati dan wakil bupati Kabupaten Serang periode 2010-2015 bisa memenuhi harapan-harapan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan, melakukan koordinasi dengan baik dengan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Banten.

Selepas acara, kami berdiskusi di sebelah alun-alun. Sambil menikmati Batagor, kami merumuskan agenda aliansi dan gerakan buruh Serang kedepan. Hal yang mendesak, adalah melakukan audiensi dengan Bupati dan Ketua DPRD Serang. Paling tidak, di awal periode kedua pemerintahannya, ia harus membuktikan janjinya untuk mensejahterakan rakyat.

Jarum jam terus berputar. Ia bahkan tidak hendak menunggu, sekalipun segenap permasalahan menyergap kita dari segala penjuru. Sebab beban hidup yang dialami masyarakat adalah sebuah realitas. Bukan omong kosong. Ketika mereka lapar, karena memang tidak ada yang bisa dimakan. Ketika mereka kehilangan pekerjaan, karena memang keamanan kerja sudah nyaris hilang. Ketika mereka sakit dan tidak sanggup lagi berobat, karena memang negera ini tidak memiliki jaminan sosial.

Pada akhirnya, justru di pinggir jalan di seputaran alun-alun inilah kami bisa menarik pelajaran dari momentum pelantikan ini. Bahwa element masyarakat, seperti halnya FSBS, harus lebih tajam menjalankan fungsi kontrol sosialnya.

Kami datang, juga kami menyaksikan dan mendengar. Sebuah sumpah jabatan yang terucap, untuk senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat. Jika ini diingkari, tentu saja, kami tidak segan untuk menagihnya kembali. Sebab kami melihat dengan mata dan mendengarkannya dari telinga sendiri. (*)

Catatan 4 Ramadhan 1431 H: Kahar S. Cahyono

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s