Ramai-ramai Berbicara Liburan: Apa Pentingnya?

Ini tentang obrolan beberapa orang di jam istirahat siang. Tema tahunan, tentang mudik, rencana liburan, hingga agenda belanja baju baru untuk anak-anak tercinta. Bersemangat sekali, bahkan melebihi agenda peningkatan amaliyah di bulan suci itu sendiri.

Yups, bisa saja anda memberikan penilaian bahwa itu adalah cara berfikir yang salah. Bahwa seolah perhatian pada hari raya jauh lebih besar dan penting ketimbang kecintaan pada Ramadhan. Taruh saja itu salah. Namun setidaknya, tulisan ini hendak menyajikan sepenggal realitas dalam keseharian kaum pekerja.

Saya tidak hendak berdebat soal itu. Sebaliknya, saya mencoba mengetahui akar permasalahan yang sesungguhnya dengan menelisik lebih dalam lagi, apa sesungguhnya yang membuat mereka jauh lebih bersemangat menyambut kehadiran lebaran? Liburan. Ya, jawaban inilah yang menjadi rahasia dari semangat mereka.

Lebaran = Liburan

Disamping menjadi “hari kemenangan”, lebaran adalah satu-satunya momentum bagi kebanyakan pekerja/buruh untuk bisa menikmati libur panjang. Diluar itu? Bukan main sulitnya. Bahkan, tidak jarang perusahaan yang “menyandera” hak cuti buruh-buruhnya dengan mengakumulasikan selama libur lebaran. Membuat mereka bekerja sepanjang waktu, bahkan kalau perlu lembur hingga larut, masuk kerja Sabtu dan Minggu.

Pada titik ini bisa dipahami, kalau kemudian liburan adalah sesuatu yang ditunggu. Menjumpainya seperti menang lotre. Tak peduli, tabungan selama setahun (jika ada) dan uang THR habis tak tersisa untuk merayakan agenda tahunan berjudul “mudik lebaran”.

Dibalik itu semua, ternyata liburan mampu menurunkan resiko timbulnya serangan jantung. Linda Hoopes dan John Lounsbury, peneliti Departemen Psikologi Universitas Tennessee menemukan ada suatu peningkatan dalam kepuasan hidup setelah liburan. Science Journal, W.J. Kaiser juga menemukan fakta, bahwa liburan ternyata dapat memberikan keuntungan bagi kehidupan keluarga.

Dilaporkan dalam An experiment in leisure (Science Journal, 1968), W.J. Kaiser menganalisa respon dari 390 pegawai pabrik baja yang melakukan liburan selama 13 minggu. Ia menemukan liburan ternyata dapat memberikan keuntungan bagi kehidupan keluarga. Para pekerja dilaporkan lebih tertarik dan berbagi kegiatan dengan pasangan dan anak-anak mereka

Tentu saja, itu jika kita menempatkan lebaran sebagai liburan. Dan bukan sebagai beban, yang membebani kita. Betapapun, pada saat yang bersamaan kita juga akan terbebani dengan kenaikan harga-harga.

Disinilah kita akan menemukan realitasnya. Bahwa ternyata, bayangan akan indahnya berlibur di lebaran nanti pada saatnya bukan lagi sebuah wacana. Ia mesti diwujudkan. Hanya, memang, apakah kita bisa menjalaninya dengan natural, dan tidak dipaksakan?

Bukan untuk berdiam diri

Pertanyaannya sekarang, apakah bulan Ramadhan ini akan berakhir sia-sia, sebagaimana bulan-bulan yang kemarin? Ramadhan selesai, larut dalam euforia hari raya, lalu setelah itu kembali dalam kehidupan yang biasa-biasa? Tentu tidak bukan? Itulah sebabnya, kita harus menjadikan bulan penuh berkah ini sebagai momentum untuk perubahan.

Dalam pandangan yang lebih tegas: belum saatnya bagi anak bangsa ini untuk bisa benar-benar berlibur. Mengapa? Bagaimana mungkin kita menyempatkan diri untuk mementingkan kesenangan diri sendiri, kalau disamping kita ada sahabat yang ternistakan. Ribuan buruh kontrak yang diputus kontraknya karena menghindari pemberian THR? Pembela hak-hak buruh yang dikriminalkan? Juga jutaan rakyat miskin yang tak mampu menyiapkan makanan berbuka seperti halnya kita?

Jika kita memandang bahwa Ramadhan sebagai bulan untuk lebih peduli, maka pada saat itu juga seharusnya perhatian kita terhadap dimensi sosial juga harus semakin tinggi. Perhatian kita juga harus tertuju pada hal-hal yang substansial. Bagaimana kemiskinan, masalah pendidikan, perbudakan gaya baru, dan kroni-kroninya harus segera disingkirkan dalam waktu yang sesingkat-singkat.

Kalau boleh meminta, ingin rasanya untuk bisa naik gaji tiap bulan dan berlibur 6 bulan dalam setahun. Dan itu tidak akan terjadi, jika kita hanya berdiam diri.

Catatan 2 Ramadhan 1431 H: Kahar S. Cahyono
https://kaharscahyono.wordpress.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s