Inspirasi Itu…

Dari Mahadria, Serang, siang itu saya meluncur ke Tigaraksa untuk menghadiri evaluasi majalah Garis. Setelah kurang lebih seminggu berjibaku dengan deadline, hari ini edisi 06/VII/Juli-Sept/2010 memang siap didistribusikan. Selalu saja ada sensasi yang berbeda dalam setiap edisinya. Perasaan itu juga yang membuat saya merasa tersemangati, untuk bisa terus terlibat di dalamnya meski banyak agenda lain “menggempur” disana-sini.

Saya bersyukur bisa bergabung dalam sebuah tim yang sedemikian solid. Ada Mathilda (Pemimpim Umum) yang terbuka dan antusias dan Abdullah Bedu (Lay Out) yang sanggup bekerja cepat. Inilah yang membuat saya memiliki mimpi, bahwa suatu saat Garis akan menjelma sebagai Inspirator Perjuangan Buruh.

Terlibat dalam sebuah media yang tidak berorientasi pada profit, seperti halnya Garis, sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Setidaknya saya pernah menjadi Pemred Majalah Arsitek (Aspirasi Siswa Teknik), semasa SMK. Pernah terlibat dalam pendirian bulletin Ibnu Sabil (Majelis Ta’lim Ibnu Sabil), bulletin At-Tarbiyah (Institut Agama Islam Kelas Cikande), dan bulletin SPAMK News (PUK SPAMK-FSPMI PT. Qianjiang Sanex Motor Int’l, Tbk).

Senang saja dengan aktivitas itu. Tidak masalah meskipun terkadang harus mengongkosi sendiri penerbitan bulletin itu, seperti yang pernah saya lakukan bersama beberapa kawan dengan bulletin Ibnu Sabil dan At-Tarbiyah. Orang bilang itu hoby. Saya sih tidak terlalu pusing mendefinisikannya, asal saya senang menjalankannya, ya saya jalankan.

Belakangan, saya juga menjadi editor di Harian Oline Kabar Indonesia (HOKI) dan menjadi administrator website Trade Union Righs Centre (TURC). Di HOKI, bisa jadi saya adalah editor yang paling sering mangkir menjalankan tugas. Jadwal untuk melakukan editing pada hari Senin dan Kamis sering terlewat. Beberapa minggu ini, saya bahkan tidak lagi menjalankan tugas. Saya akui, ini sebuah kesalahan. Saya bernah berkomitment untuk menjalankan tugas-tugas itu, sepantasnyalah jika saya juga berkomitment untuk menjalankannya. Saya tidak hendak beralasan bahwa saya sibuk dan banyak pekerjaan. Mungkin akan lebih baik jika mulai saat ini, saya menjalankan apa yang dulu pernah saya sepakati.

Ach, Ramadhan ini membuat saya banyak merenungi kekurangan diri. Semoga saja tidak berhenti pada sekedar refleksi. Betapapun, untuk menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini, harus ada aksi. Harus ada langkah nyata, bukan sekedar kata yang berbusa-busa.

Kembali ke GARIS

Setelah beberapa bulan bergabung dengan Majalah Garis, yang terbesit dalam benak saya adalah membentuk komunitas penulis di kalangan pekerja/buruh. Mereka harus mendapat kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Mereka harus didorong untuk membuat “prasasti”, yang akan diingat oleh generasi-generasi yang akan lahir esok hari. Atau setidaknya mampu mengatakan pada dunia, apa yang sesungguhnya mereka alami. Diskriminasi, ketidakadilan, tanpa jaminan sosial….

Terpikir juga untuk membuat semacam buku antalogi: Curhat Kaum Buruh….

Ini Ramadhan kedua saya berada disana. Dalam beberapa diskusi dengan teman-teman di Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS) – komunitas yang selama ini mensupport langkah dan pemikiran saya – saya mengatakan akan berhenti sebagai Pemred GARIS. Saya hendak fokus dalam pengembangan basis gerakan. Dua tahun, waktu yang cukup untuk melangkah dan berbenah. Itulah sebabnya mesti ada orang lain yang berfikiran progresif dan maju untuk membesarkan Garis kedepan.

Joko Mumpuni, Direktur Andi Publisher, pernah mengungkapkan ciri-ciri penulis idealis. Diantaranya adalah:

1. Menulis tidak begitu memperhatikan kebutuhan pasar. Ia selalu menulis hal-hal yang menurut dia bagus dan berkualitas, tapi ia tak peduli apakah tulisannya itu laku (diterima oleh pembaca) atau tidak.

2. Tdak begitu suka pada campur tangan pihak lain. Apa yang ia tulis merupakan harga mati. Tidak boleh diutak-atik.

3. Imbalan finansial tidak begitu dipentingkan. Yang penting adalah kepuasan bathin atau hal-hal lain yang bersifat nonmateri.

4. Kesempurnaan sebuah karya lebih penting daripada produktivitas. Jadi, biarlah sebuah tulisan digarap dalam jangka waktu panjang. Yang penting kualitasnya bagus. Bisa jadi, penulis seperti ini hanya menerbitkan satu buku dalam waktu lima tahun.

Saya paham, tema-tema perburuhan tidaklah menjanjikan imbalan finansial yang berlebih. Lebih dari itu, dari awal kami hendak mendedikasikan gerakan menulis ini sebagai bagian dari perjuangan. Ia menjadi agenda kampaye, untuk mengungkapkan berbagai bentuk penyimpangan. Untuk meneriakkan, bahwa ada yang salah di negeri ini. Dan ini, bisa dilakukan dimana saja. Dengan media apa saja. (*)

Catatan 3 Ramadhan 1431 H: Kahar S. Cahyono
https://kaharscahyono.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s