Bukan Bulan untuk Bermalas-malasan

Ramadhan telah datang. Saya bisa mencium semerbak harum kehadirannya. Alhamdulillah, kerinduan ini tidak bertepuk sebelah tangan. Tentu saja, saya harus bersyukur karenanya.

Inilah bulah ketika Rasululah SAW menerima wahyu untuk pertamakalinya (surat al Alaq). Tepatnya di goa Hiro yang terdapat di gunung Rahmah yang berjarak dua mil dari kota Makkah. Inilah yang kemudian disebut sebagai cikal-bakal turunnya al Quran di bulan Ramadhan.

Inilah bulan ketika kaum Muslim memenangkan perang Badar. Pertempuran pertama yang dilakukan kaum Muslim setelah mereka bermigrasi (hijrah) ke Madinah melawan kaum Quraisy dari Mekkah. Pertempuran berakhir dengan kemenangan pihak Muslim yang berkekuatan 313 orang melawan sekitar 1000 orang dari Makkah.

Inilah bulan ketika Rasulullah saw keluar bersama 10 ribu pasukan perang dari kaum Muhajirin dan Anshar menuju Makkah untuk membebaskannya dari kemusrikan. Faktor keberangkatan beliau disebabkan penyerangan yang dilakukan kabilah Bani Bakar sekutu kaum Quraisy terhadap sekutu Rasulullah saw kabilah Khuza’ah yang berarti pelanggaran terhadap perjanjian Hudaibiyah yang telah disepakati antara kaum Quraisy dengan Rosulullah saw. Usaha ini berhasil dengan gemilang tanpa melalui peperangan. tatkala Fathul Makkah itu Rasulullah saw berdiri dihadapan kaum musyrikin Makkah seraya berkata, ” Menurut kalian apa akan saya lakukan sekarang ?” Mereka menjawab, ” Kebaikan, karena engkau adalah saudara yang baik berasal dari keturunan baik, jika engkau memaafkan kesalahan maka itu harapan kami, akan tetapi jika engkau membalas dendam maka itu sangatlah wajar karena kami pernah berbuat jahat kepadamu. Akhirnya Rasulullah saw bersabda, ” Pergilah, sekarang kalian bebas, aku hanya ingin mengatakan apa yang pernah dikatakan saudaraku Yusuf ; tidak ada celaan bagi kalian, semoga Allah mengampuni kalian sesungguhnya Dia maha pengasih.”

Inilah bulan ketika perintah Khalifah Fatimi panglima Jauhar Ash Shiqili meletakan pondasi pertama pendirian Jami’ (Masjid) Al Azhar. Pada tahun 378 H fungsi masjid ditambah menjadi suatu Universitas dengan dilakukan pembentukan staff pengajar yang pembahasan utamanya adalah permasalahan hukum-hukum keislaman. Sepanjang masa, Al Azhar selalu menyambut gembira kedatangan para pelajar yang berkeinginan belajar di sana. Segala fasilitas disediakan seperti tempat tinggal, kebutuhan hidup, bahkan halaqah (kelompok belajar) ilmu-ilmu keislaman yang beragam sehingga para penuntut ilmu dapat memilih halaqoh yang dikehendakinya.

Puasa, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga

Tentu saja, masih banyak lagi peristiwa bersejarah yang diukir umat ini, tepat pada bulan Ramadhan. Uniknya, hampir semua peristiwa itu tidak terjadi dengan serta merta. Bukan sekedar keajaiban. Lebih dari itu, ia merupakan buah dari kerja keras serta usaha yang tak mengenal putus asa.

Seberapa besar kesiapan kita untuk menyambutnya?

Maka, terdengar aneh jika ada yang mengatakan bahwa Ramadhan menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Menjadi alasan untuk mengendorkan semangat dan daya juang dalam sebuah ikhtiar melakukan perbaikan.

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Kalimat yang indah, tentu saja. Dalam redaksi lain, tentu saja, mereka yang melakukan karya nyata nilai ibadahnya jauh berbeda. Pilihannya kemudian, memilih tidur dan bermalas-malasan? Atau justru menjadikan bulan berkah yang hanya sebulan ini menjadi ladang amal dengan melakukan apa yang bisa kita kerjakan untuk sebuah kebaikan.

Tentu saja, saya berdo`a agar diberi kemudahan oleh Allah SWT. Untuk tidak terjebak dalam aktivitas yang tidak memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, saya bisa lebih bersemangat, seperti hari-hari kemarin dalam menjalankan aktivitas. Dan inilah yang selalu saya rasakan ketika Ramadhan datang, memiliki mata hati yang lebih tajam untuk melihat sisi baik dan buruknya.

Pendek kata, saya hendak mengatakan, bahwa ini bukan bulan bagi kita untuk berlibur dari segala ”aktivitas”. Sebaliknya, ini adalah bulan untuk memperbanyak aktivitas. Memperbanyak aktivitas baik, dan memperbanyak tekad untuk meninggalkan segala aktivitas buruk. Tidak perlu saya tegaskan disini, bahwa aktivitas baik yang dimaksud haruslah aktivitas yang bernilai ibadah. Tidak peduli, apakah itu yang berhubungan dengan Allah, maupun yang berhubungan dengan sesama manusia. Sebab bagi seorang Muslim, larangan untuk melakukan aktivitas yang melanggar agama tidak saja berlaku pada bulan Ramadhan. Tetapi juga sebelum dan sesudahnya. (*)

Catatan 1 Ramadhan, 1431 H/11 Agustus 2010 : Kahar S. Cahyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s