Menunggu Lahirnya Soedirman-soedirman Baru

Dua jam sebelum pendaratan (Belanda, red), Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman yang masih berumur 30 tahun, membangunkanku. Setelah menyampaikan informasi yang diterimanya terlebih dahulu, dia mendesak, “Saya minta dengan sangat, agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya hendak meninggalkan kota dan masuk hutan. Ikutlah Bung Karno dengan saya.”

Sambil mengenakan pakaianku cepat-cepat aku berkata: “Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua. Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno. Jika Bung Karno tetap tinggal di sini, Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal ini saya menghadapi kematian, tapi jangan kuatir. Saya tidak takut. Anak-anak kita menguburkan tentara Belanda yang mati. Kita perang dengan cara yang beradab, akan tetapi …”

Soedirman mengepalkan tinjunya: “…Kami akan peringatkan kepada Belanda, kalau Belanda menyakiti Sukarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran.”

Soedirman melangkah ke luar dan dengan cemas melihat udara. Ia masih belum melihat tanda-tanda, “Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat?” tanyanya.

“Ya, jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Akan tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota, Dirman, dan berjuanglah sampai mati. Saya perintahkan kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa-desa. Isilah seluruh lurah dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya semesta”.

“Sekali pun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius dan mempergunakan daun pisang sebagai perban, namun jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia bahwa kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah, keringat dan tekad yang tak kunjung padam. Dan jangan ke luar dari lurah dan bukit hingga Presidenmu memerintahkannya. Ingatlah, sekali pun para pemimpin tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer maupun sipil. Dan Indonesia tidak akan menyerah!”

Itulah dialog yang terekam saat detik-detik agresi militer Belanda tanggal 19 Desember 1948. Soekarno menuturkan kepada Cindy Adams dalam biografinya. Perlu diketahui bahwa pada saat memimpin perang gerilya, paru-paru sang Jenderal hanya berfungsi sebelah atau hanya satu paru-paru yang bisa dijadikan tumpuan dalam setiap tarikan nafas sang Jenderal. Dan sebenarnya Presiden Sukarno pada waktu itu menyarankan agar Jenderal Soedirman menjalani perawatan saja karena penyakit Jenderal Soedirman pada waktu itu tergolong parah.

“Yang sakit itu Soedirman…panglima besar tidak pernah sakit….” Itu jawaban sang Jenderal.

Tidak terbayangkan begitu besarnya semangat perjuangan sang Jenderal dalam melawan musuh dan penyakit yang dideritanya. Dengan berbekal materi seadanya Sang Jenderal memimpin pasukannya berperang melawan tentara sekutu yang diboncengi tentara Belanda. Dengan ditandu Jenderal Soedirman keluar masuk hutan, naik dan turun gunung memimpin pasukan, meracik strategi perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan lamanya dengan rute Yogyakarta sampai Malang.

* * *

Akankah ada lagi orang seperti Panglima Besar Soerdirman terlahir kembali, saat ini? Cerita besar Sang Jenderal memang menjadi legenda. Di usianya yang tergolong muda, 30 tahun, ia sudah sampai pada tingkat kematangan tertinggi untuk mengabdikan hidupnya di jalan perjuangan.

Saat ini, kondisinya jelas berbeda. Namun, esensi yang dihadapi tetaplah sama. Penjajahan. Dalam konteks kekinian, penjajahan itu terlihat dalam hilangnya kedaulatan rakyat atas urusan publik. Bagi buruh, ia menjelma dalam bentuk hilangnya kepastian kerja. Bagi petani, penjajahan itu berbentuk mahalnya harga pupuk dan rendahnya nilai jual. Bagi nelayan, ia bisa dimaknai dengan semakin berkurangnya hasil tangkapan karena ketidakberdayaan pemerintah melindungi dari ”penjarahan” sumber daya bahari.

Kita memiliki banyak aktivis serikat buruh, pejuang HAM, pembela keadilan, dsb. Tentu saja, itu sangat menggembirakan. Tinggal sekarang, bagaimana menyatukan element sosial itu untuk membuat sebuah perubahan yang nyata.

Dalam hal ini, menarik untuk mengutip kalimat Saiful Haq, pengamat politik dan militer, yang saat ini bekerja untuk Friedrich Ebert Stiftung (FES): Oleh karena itu, gerakan sosial perlu melakukan upaya serius setidaknya untuk lima tahun mendatang, agar sandiwara politik ini tidak terulang lagi.

Berkaca pada kelemahan gerakan sosial yang terjadi sekarang, dibutuhkan setidaknya, pertama, karena keterputusan antara NGO dan massa, maka dibutuhkan aksi kolektif dari organisasi yang bermain di aras ruang antara untuk menyiapkan sebuah organisasi koalisi strategis yang mengombinasikan pembentukan identitas politik kolektif ala NSM, dengan optimalisasi potensi struktural untuk merebut ruang politik melalui pengorganisasian ala RMT. Dengan tersedianya identitas kolektif dan ruang politik, maka energi politik yang dihasilkan akan semakin besar. Kedua, dibutuhkan wilayah kerja yang tidak terlalu luas. Upaya pembangunan koalisi besar selama ini terbukti gagal, karena luasnya cakupan isu maupun sektor kerja. Selain itu, wilayah kerja yang sangat luas juga adalah faktor utama kegagalan ini.

Pada titik inilah, negeri ini membutuhkan Soedirman-soedirman baru agar percepatan tercapainya cita-cita tercapai. Andakah salah satunya?

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s