“Kutunggu Hadirmu di Rumah Komunitas Itu…,”

Akhirnya, sore itu bersama istri dan kedua buah hati saya berkesempatan menghadiri Pesta Buku Jakarta. Dalam kondisi sakit mata. Tidak nyaman, memang. Tetapi tetap saja memaksakan untuk berangkat, mengingat pada beberapa hari kedepan, kegiatan yang musti saya ikuti cukup padat.

Dan buku, adalah sesuatu yang selalu membuat saya bersemangat. Ada keabadian di dalamnya, yang menjadikan peristiwa puluhan tahun silam tetap relevan untuk diketengahkan.

Maka ketika beberapa hari diskusi di FSBS mengantarkan kami pada perlunya mendirikan Taman Baca Solidaritas, lagi-lagi saya tersemangati. Semangat, melihat banyak kawan yang tiba-tiba antusias untuk terlibat. Menyumbangkan buku bekas layak pakai, atau kalaupun tidak, memberi sumbangan pemikiran.

“Satu saat nanti, saya membayangkan kawan-kawan datang ke Taman Baca sambil mengajak keluarganya. Ia dengan sendirinya akan menjelma tempat wisata”Ini memang bukan gerakan literasi yang didukung dengan modal besar berupa finansial. Hanya bermodal idealisme – begitulah kira-kira kami memaknai – tetang pentingnya sebuah ruang bagi banyak orang untuk mendiskusikan berbagai persoalan dan menyerap pengetahuan. Taman baca, dengan wajahnya yang ramah, diyakini bisa menjadi magnet bagi berbagai kalangan untuk terlibat.

Heri Susanto, Sekretaris Umum FSBS, sambil menatap jauh kedepan mengungkapkan mimpinya. “Satu saat nanti, di hari libur kawan-kawan datang ke Taman Baca sambil mengajak keluarganya untuk membaca dan menghadiri bedah buku.”

Diskusi kecil, satu babak dalam episode panjang menggagas kelahiran Rumah Komunitas.Seperti halnya mimpi, ia hanya akan menjadi bunga tidur sampai benar-benar terjaga dan merealisasikannya menjadi karya nyata.

Taman Baca itu, sekaligus upaya yang kami tempuh untuk mendekatkan realitas dunia perburuhan dengan kehidupan masyarakat. Barangkali, kritik tajam yang dialamatkan kepada aktivis serikat pekerja adalah, mereka terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Bahwa permasalahan ketenagakerjaan adalah juga permasalahan masyarakat, itulah sebabnya penting untuk berbagi daya dalam menyelesaikan setiap persoalan secara bersama-sama.

Bukan taman baca-nya yang penting. Tetapi apa yang kami buat dengan itu.

Apalagi, sejak terbentuknya Rumah Komunitas, secara perlahan FSBS mulai memperluas basis gerakan. Rumah Komunitas sendiri adalah sebuah forum bertemunya berbagai komunitas sebagai basis gerakan sosial politik. FSBS, sebagai lembaga pemrakarsa, menyebut Rumah Komunitas sebagai sayap politik.

Hingga akhir tahun 2010 ini, untuk Kabupaten Serang, direncanakan Rumah Komunitas akan hadir di 8 kecamatan. Sebut saja Rumah Komunitas Kecamatan Cikande, Rumah Komunitas Kecamatan Kibin, dsb. Bersama Sarnaja, dari LPM Insan Madani, kami juga berencana membentuk Rumah Komunitas Kabupaten Tangerang. Hingga pada gilirannya nanti, kami benar-benar siap untuk menamainya Rumah Komunitas Provinsi Banten.

Sebagai gerakan sosial politik, ini bukanlah gerakan bawah tanah yang tersembunyi. Yang merahasiakan visi, misi, dan cita-cita perjuangannya. Bukan pula buah dari kekecewaan yang membabi buta dari kawan-kawan gerakan serikat buruh saat gagal total mengantarkan para aktivisnya dalam kursi legislatif 2009 lalu. Kehadirannya sangat terbuka, dan tentu saja, demokratis.

Paling tidak, kami hendak menerapkan sebuah model gerakan serikat buruh yang juga melibatkan diri dengan isu-isu sosial dan politik umumnya. Ia tidak hanya mengurusi soal-soal pabrik belaka, tetapi juga tanggap kepada kebutuhan masyarakat umum. Ikut menyuarakan persoalan-persoalan komunitas sekitarnya. Sebabnya juga, persoalan masyarakat umum dan persoalan buruh adalah dua sisi dari satu keping koin. (A.B.C Hak-hak Serikat Buruh, hal 53)

Catatan kecil: Kahar S. Cahyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s