Tentang Seorang Kawan

Saya mengenalnya sudah lama. Bahkan saat masih mengenakan seragam abu-abu putih, di sebuah kota kecil, Blitar. Kami bukan saja saling mengenal. Bahkan dalam banyak hal, seringkali terlibat dalam perdebatan panjang. Selalu. Ada saja pendapat saya yang dibantahnya. Sikap oposisi-nya terhadap saya murni, 100%. Walah-walah, padahal saya bukan pejabat apapun kala itu, hehe….

Sore itu, sepulang menghadiri sebuah acara di Swiss Bellhotel, Mangga Besar, Jakarta Pusat, saya bertemu kembali dengan gadis berjilbab itu. Senang saja berjumpa dengan kawan lama, di sebuah tempat yang jauh dari tanah kelahiran. Saya tidak hendak mengatakan, bahwa ia masih sama seperti dulu. Ada yang berubah, tentu saja.

Setidaknya, kawan saya ini sudah menjelma perempuan dewasa. Senyumnya mempesona, dengan intonasi kalimat yang tertata apik saat berbicara. Terlebih lagi, ia menjadi lebih sabar saat harus mendengarkan lawan bicara. Maklum, sesuai dengan penuturannya, ia sudah selesai mendalami ilmu komunikasi pada sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini.

Saya sadar, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Waktu jua yang akan membuktikan hal itu. Dan di dalam Bus Trans Jakarta, dari Halte Bus Way Jembatan Merah hingga Senen inilah, kami merayakan pertemuan itu.

“Beberapa hari lalu saya menemukan blog-mu,” ujarnya satu ketika.

“Oh ya?”

“Kaget saja anak kemarin sore sepertimu sudah memimpin gerakan,” suaranya pelan. Saya hanya tersenyum. Menikmati sikapnya yang blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling. Satu hal yang tidak berubah, saya kira.

Bukan kali ini saja saya mendengar kalimat yang bernada merendahkan itu. Namun ajaibnya, di telinga saya, kalimat itu menjelma kedalam mantra. Seperti menjadi isyarat, bahwa saya memang harus berusaha lebih baik untuk membuktikan bahwa keraguan mereka tidak beralasan.

“Kamu kan yang bilang, bahwa kita yang masih mudah ini harus berjalan lebih cepat dari mereka yang sudah termakan usia.” Kalimat itu mendadak terlintas dalam benak saya. Kalimat yang sama, yang pernah saya dengar dari gadis manis yang saat ini duduk di sebelah saya, dalam sebuah perjalanan menuju puncak Gunung Kelud sepuluh tahun silam.

“Ya sudah, hati-hati di jalan. Sampaikan salam sayang saya kepada yang dirumah,” kalimat indah yang selalu saya kenang, sebelum kami berpisah.

Makna seorang sahabat, buat saya…

Perjumpaan saya dengan Sandra – sebut saja begitu teman saya ini – melemparkan saya pada satu kenyataan: betapa berharganya nilai seorang sahabat. Beberapa kawan yang dahulu seirama dalam garis perjuangan, kini sudah berputar haluan. Sebagian yang lain senantiasa mencoba untuk tetap setia. Buat saya, semuanya adalah sikap yang musti dihormati.

Sandra, betapapun adalah sosok dari masa lalu yang mewujud dalam kekinian. Satu waktu kami pernah bersama, dan waktu berikutnya berpisah. Hingga dalam sebuah momentum tak terduga, kami dipertemukan kembali. Orang akan datang dan pergi, tetapi nilai-nilai dalam sebuah persahabatan akan abadi.

Satu hal, rupanya dunia ini tidak pernah berhenti menyediakan orang-orang baik. Orang-orang tulus, yang senantiasa mengedepankan sikap asih dan asuh.

Ach, tiba-tiba saja saya merasa sangat beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki sikap setia kawan tinggi. Betapapun, tanpa mereka saya tidak bisa menjadi seperti apa adanya sekarang. Posisi mereka tak kan pernah tergantikan.

Apa kabarmu, Sahabat?

One thought on “Tentang Seorang Kawan

  1. Arti Sahabat

    Tak mudah untuk kita
    Hadapi perbedaan yang berarti
    Tak mudah untuk kita
    Lewati rintangan silih berganti

    Kau masih berdiri
    Kita masih di sini
    Tunjukkan pada dunia
    Arti sahabat
    Kau teman sehati
    Kita teman sejati
    Hadapilah dunia
    Genggam tanganku

    Tak mudah untuk kita
    Sadari saling mendengarkan hati
    Tak mudah untuk kita
    Pahami berbagi rasa di hati

    Kau masih berdiri
    Kita masih di sini
    Tunjukkan pada dunia
    Arti sahabat
    Kau teman sehati
    Kita teman sejati
    Hadapilah dunia
    Genggam tanganku

    Kau adalah
    Tempat ku membagi kisahku
    Kau sempurna
    Jadi bagian hidupku
    Apapun kekuranganmu

    by NIDJI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s