Bacalah….

Pertemuan saya dengan beberapa kawan pada satu sore yang cerah, menyadarkan saya pada satu hal: tidak benar jika dikatakan buruh tidak suka membaca. Yang sesungguhnya terjadi adalah, mereka telah kehabisan waktu dan tenaga setelah seharian terkungkung di bawah cerobong pabrik. Pun demikian, begitu kaki mereka beranjak selangkah dari pintu gerbang pabrik, berbagai dinamika kehidupan akan segera menyapa.

“Sebenarnya saya suka membaca,” begitu yang saya dengar dari mereka. Kalimat yang jujur, saya rasa. Tergambar jelas di matanya, bahwa ia begitu ingin melewati hari dengan buku-buku.

Namun ya itu tadi, banyak “kambing hitam” yang menghampiri. Itu mah namanya malas baca. Saya rasa tidak. Buktinya ketika disodorkan majalah dan beberapa buah buku, mereka segera tenggelam dalam lautan kata-kata. Lalu terdengar lirih mereka bergumam, membaca itu ternyata menyenangkan.

Buruh suka membaca, itu sudah saya katakan tadi. Dan saya semakin yakin dengan hal itu, setelah beberapa waktu lalu menghadiri Bedah Media Buruh (BMB) yang diselenggarakan FSBS. Jangan anda bayangkan BMB sebuah acara besar di tempat mewah. Ini hanya sebuah diskusi kecil-kecilan berteman air putih, melibatkan beberapa kawan pekerja, untuk membedah Bulletin Lembur dan Majalah Garis. Mengapa Lembur dan Garis? Jawabnya sederhana, karena dua media perburuhan inilah yang diterima secara rutin oleh FSBS. Bulletin lembur diterbitkan oleh TURC, sedangkan Garis diterbitkan oleh BPB.

Acara ini sendiri berawal dari rasa penasaran Heri Susanto, Sekretaris Umum FSBS yang juga aktivis KSPSI, tentang seberapa besar sesungguhnya manfaat media bagi pekerja? Jangan-jangan, setelah dibagikan, bulletin/majalah itu tidak memberikan pengaruh apa-apa. Lebih tragisnya lagi, tidak pernah dibaca oleh mereka. Dan ternyata, apa yang kami khawatirkan sungguh tidak beralasan.

Eni, salah satu persera, menyebut salah satu faktor yang menghambat mereka untuk membaca adalah ketersediaan bahan bacaan. Sedangkan untuk berlangganan majalah atau membeli buku secara rutin, jelas mereka terbebani secara finansial. “Jangankan untuk membeli buku, untuk kebutuhan sehari-hari pun masih harus nombok,” begitu mereka beralasan.

Siapa sangka, diskusi ini menyeret kami jauh lebih dalam. Menukik tajam, hingga akhirnya sampai pada sebuah kesadaran bahwa memang harus yang memulai untuk menggelorakan gerakan membaca di kalangan pekerja. Bukan hanya sekedar berteriak-teriak pentingnya membaca, namun setelah itu lantas tidak melakukan apa-apa.

Apalagi, ditengah terus menurunnya daya beli, keberadaan bahan bacaan yang berkualitas bagi pekerja terasa semakin menjadi barang mewah. Dan sisi ini, semestinya tidak boleh diabaikan. Betapapun, keberadaan media buruh menjadi setetes air di padang gersang hubungan industrial. Ia menjadi cahaya, yang mampu membuka mata dan nurani.

Mengandalkan media semacam Lembur dan Garis yang setiap edisinya menunggu hingga beberapa minggu dirasa tidaklah cukup. Lagipula, idealisme harus diongkosi sendiri. Harus ada upaya yang lebih progresif, agar ketersediaan bahan bacaan dikalangan pekerja mencukupi. Inilah yang kemudian mengantarkan kami pada pentingnya terbentuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM), yang didedikasikan secara khusus untuk masyarakat pekerja. Karena TBM ini terlahir dari rahim Forum Solidaritas Buruh Serang, beberapa kawan mengusulkan bernama TBM Solidaritas.

“Sekali berarti, sesudah itu mati.” Kalimat Khairil Anwar yang fenomenal itu.

Betapapun saya berharap, agar langkah awal ini tidak berhenti pada sebatas diskusi. Melalui beberapa kawan, kami mulai mengumpulkan buku layak baca untuk koleksi pertama TBM Solidaritas yang untuk sementara dipusatkan di Sekretariat FSBS. Ujung dari komitment adalah gerak. Siapa yang ingin berpartisipasi?

Catatan kecil: Kahar S. Cahyono
Berteman sepi, 26 Juni 2010

3 thoughts on “Bacalah….

  1. Kunjungan sesama blogger nih…
    Nice blog and good post sob!
    Ditunggu kunjungan baliknya nih di blog baru ane,
    dan jangan lupa tinggalin jejak di postingan terbaru ane ya sob…
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s