Analisis Politik

Rintik hujan, yang dari siang mengguyur Bumi Cikande Indah belum juga reda. Namun, itu tidak mengurangi antusiasme peserta diskusi bertajuk Analisis Politik yang diselenggarakan FSBS untuk hadir. Mereka bisa saja memilih untuk memanjakan diri di dalam rumah pada Sabtu sore itu, namun nyatanya semangat yang menyala dalam diri mereka mengalahkan rasa enggan dan malas. Apalagi, Nezar Patria, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang sore itu bertindak sebagai nara sumber juga datang tepat waktu.

Kedatangan Nezar Patria di Sekretariat FSBS menjadi pertemuan saya yang kedua dengan pria kelahiran Aceh itu. Beberapa bulan yang lalu, saya bersama Nursyaifudin (pengurus FSBS) ikut menghadiri sebuah agenda diskusi di Sekretariat AJI, Jakarta, dimana Nezar, sebagai tuan rumah menjadi pembicara. Lagipula, AJI merupakan sebuah organisasi yang kerap menyerukan bahwa wartawan juga buruh. Faktor inilah, yang barangkali membuat kami merasa memiliki kedekatan emosional, dan hasilnya, diskusi berjalan lancar penuh keakraban.

Bagi teman-teman FSBS yang selama ini fasih berbicara tentang gerakan buruh, mendapatkan ilmu baru tentang analisis politik tentu saja semakin memperkaya pengetahuan mereka. Apalagi, dengan lugas Nezar menjelaskan beberapa trik bagaimana kita bisa melakukan idetifikasi terhadap : (1) Aktor; (2) Sumber kekuasaannya; (3) Kepentingannya; dan (4) Bagaimana aktor tersebut melakukan legitimasi terhadap kekuasaannya. Baru kemudian Nezar menjelaskan bagaimana kita dapat menghadapinya sehingga memiliki posisi tawar yang tinggi.

Sarnaja, seusai acara mengatakan bahwa materi diskusi kali ini sangat bermanfaat. Selain aplikatif, kita bisa melihat secara jelas dimana sebenarnya letak posisi para aktor yang terkait dengan isu perburuhan dan sosial kemasyarakatan.

“Kalau selama ini kita berpersepsi bahwa penguasa dan pengusaha selalu berkolaborasi untuk melemahkan gerakan buruh, maka melalui analisis politik kita bisa membongkar berbagai kepentingan yang melingkupinya. Termasuk bagaimana serikat buruh, sebagai bagian dari masyarakat kritis berperan didalamnya,” ungkap Sarnaja.

Dalam kesempatan ini, Nezar Patria juga memberikan pencerahan seputar peran media sebagai corong bagi aspirasi “masyarakat”. Tentang media yang tidak lagi benar-benar netral. Tentang media yang tunduk pada mekanisme kapitalis, dan juga kepada pemilik media itu sendiri.

Tentu saja, pria yang juga menjadi Redaktur Pelaksana di Vivanews.com juga memberikan masukan berharga bagi Majalah Garis. Sebagai media komunitas, dimana teman-teman FSBS ikut mengelolanya. Sebagai majalah komunitas yang terbit 3 (tiga) bulan sekali, Garis memang dituntut lebih kreatif agar berita yang diturunkan tidak cepat basi. Betapapun itu, keberadaan sebuah media di tengah-tengah komunitas buruh selaksa air di tengah gurun.

Suasana saat diskusi kelompok

Kegairahan teman-teman FSBS untuk melakukan diskusi dan kajian di sekretariat barunya yang sederhana mengingatkan saya pada pada era tahun 90-an. Saat beberapa kawan yang peduli perubahan melakukan diskusi dari kontrakan ke kontrakan, dari rumah ke rumah. Realitas ini, mendekatkan kami pada kondisi yang sesungguhnya. Mendekatkan kami pada akar rumput, tepat dimana jantung perjuangan itu digerakkan.

Tokoh-tokoh penting yang pernah datang ke FSBS seperti Siti Zuhro (Peneliti Politik LIPI) dan Boni Hargens (Pengamat Politik UI), misalnya, bisa jadi tak penah menyangka mereka akan diundang dan terlibat dalam sebuah diskusi kritis di sebuah perkampungan buruh secara “lesehan”.

Ach, tiba-tiba saja saya terkenang oleh mantra seorang Wiji Thukul, Makin Terang Bagi Kami:

tempat pertemuan kami sempit
bola lampu kecil cahaya sedikit
tapi makin terang bagi kami
tangerang – solo – jakarta kawan kami

kami satu : buruh
kami punya tenaga

tempat pertemuan kami sempit
di langit bintang kelap-kelip
tapi makin terang bagi kami
banyak pemogokan di sanasini

tempat pertemuan kami sempit
tapi pikiran ini makin luas
makin terang bagi kami
kegelapan disibak tukar-pikiran

kami satu : buruh
kami punya tenaga

tempat pertemuan kami sempit
tanpa buah cuma kacang dan air putih
tapi makin terang bagi kami
kesadaran kami tumbuh menyirami

kami satu : buruh
kami punya tenaga

jika kami satu hati
kami tahu mesin berhenti
sebab kami adalah nyawa
yang menggerakkannya

Menyambut hangatnya mentari pagi, 20 Juni 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s