Komunitas Penulis dari Kalangan Pekerja, Mungkinkah?

Ada sesuatu yang baru dalam rapat redaksi majalah Garis, kemarin. Bukan saja karena majalah yang mendedikasikan diri sebagai ’inspirasi perjuangan pekerja/buruh’ sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Tetapi juga, karena di dalam diri setiap tim redaksi menyimpan semangat yang membara.

Tentu saja, usia 6 tahun masih tergolong sangat belia. Masih harus banyak belajar dan terus berbenah. Tetapi justru yang singkat itu, seringkali memberikan kesan mendalam. Kesan tentang sebuah media yang senantiasa menunjukkan gairah besarnya untuk terus maju dan memberikan pencerahan.

Sebagai majalah yang dikelola dan dedikasikan untuk buruh, Garis memiliki tantangannya sendiri. Selain berkutat pada permasalahan SDM di jajaran redaksi yang rata-rata awam dalam dunia jurnalistik, perjuangan untuk bisa menghadirkan majalah ini ke tangan pembaca tercinta masih harus berkejaran dengan kesibukan tim redaksi yang rata-rata bekerja. Praktis kegiatan peliputan dan penulisan dikerjakan disela-sela kesibukan itu. Namun ternyata, semangat untuk berbagi mengalahkan segalanya. Terbukti, Garis bisa eksis hingga hari ini.

Pada saat yang sama, rendahnya minat baca di kalangan pekerja juga sedikit banyak menjadi kendala. Dalam hal ini, Garis dituntut bekerja ekstra keras. Dengan kalimat lain, bahwa Garis tidak semata-mata berhasil diterbitkan, tetapi juga harus dipastikan bahwa ia juga sampai ke tangan pembaca. Berada di komunitas-komunitas pekerja. Sebab hanya dengan demikian, media ini bisa menjadi inspirasi perjuangan pekerja/buruh.

Sebagai media perjuangan, tentu saja Garis berusaha berdiri sencara mandiri. Dengan kata lain, operasional peliputan dan penerbitan harus bisa dibiayai sendiri dari konstribusi pembacanya. Syukur-syukur bisa mendapatkan pihak yang bersedia memasang iklan dan melakukan kerjasama program. Upaya ke arah sana sudah dimulai. Meskipun masih minim, dan perlu terus ditingkatkan.

Lahirnya Komunitas Penulis di Kalangan Pekerja, Mungkinkah?

Di tengah kesibukan menyelesaikan penerbitan edisi ini, saya membaca status Gol A Gong di Facebook, pendiri Rumah Dunia, bahwa Jenny Ervina akan menerbitkan kumpulan 16 cerita pendek berjudul: Gadis Bukan Perawan. Jenny Ervina adalah TKW asal Banten yang bekerja sebagai buruh mingran di Taiwan.

”Aku merasakan jerit tangis perempuan Indonesia, yang bekerja sebagai buruh migran di Taiwan, bahkan di seluruh dunia. Kisah ini sudah rahasia umum, terjadi pada hampir setiap buruh migran perempuan Indonesia di seluruh dunia. Mereka membanting tulang mencari nafkah untuk mengubah nasib hidup keluarga. Tapi nasib getir menimpa mereka; diperkosa, dihina, disiksa, bahkan dikhinati suami tercinta. Di Banten, sering aku mendengar kisah pilu seperti ini; TKW pulang dengan perut buncit alias hamil. Bahkan ada yang melahirkan di bandara dan kemudian ditankap polisi, karena bayinya dibuang di pinggir jalan. Kenyatan hidup para buruh migran ni diungkap oleh Jenny Ervina, buruh migran asal kampung Petir, Serang – Banten, yang sudah 2 tahun bekerja sebagai ”care taker” di sebuah keluarga di Taiwan, tidak dengan cara meratap-ratap, tapi juga dengan ceria,” begitu Gol A Gong memberikan pendapatnya.

Dari Hongkong, saya juga mendengar kabar yang sama. Buruh migrant disana, membentuk wadah Forum Lingkar Pena Hong Kong pada Februari 2004. Kemudian lahirlah kumcer “Namaku Peri Cinta” (Lingkar Pena Publishing House 2005), yang memuat 12 cerpen. Pada 8 September 2005, buku itu diluncurkan. “Buku ini mendobrak sejarah penulisan cerpen di Indonesia !” kata Taufiq Ismail di depan sekitar seribu hadirin. Tujuh penulis perempuan menggoreskan penanya di buku itu; Andina Respati, Fia Rosa, Ikrima Ghaniy, Rof, S. Aisyah Z., Syifa Aulia dan Winna Karnie. Mereka buruh migrant di Hongkong dan hampir semuanya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Siapa sangka pembantu rumah tangga bisa menulis? Bukankah sudah terpatri di benak kita, bahwa pembantu rumah tangga itu bodoh? Jangankan menulis, membaca saja meraka tidak suka!

Pada intinya saya ingin mengatakan, jika para pembantu rumah tangga di Taiwan dan Hongkong bisa, maka selayaknya mereka yang pekerja di negeri sendiri jauh memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melakukan hal yang sama. Nah, dalam konteks inilah, Garis ingin mengambil peran. Selain hendak menginspirasi, juga berupaya membentuk komunitas penulis di kalangan pekerja/buruh.

Untuk itu, kami memiliki gagasan, bahwa Majalah Garis tidak boleh berhenti pada menerbitkan dan mendistribusikan majalah. Tetapi juga diikuti oleh upaya-upaya konkret untuk melakukan edukasi. Misalnya pelatihan menulis (jurnalistik), dan mengkampanyekan minat baca di kalangan pekerja. Memang tidak mudah, tetapi cepat atau lambat, saya merasa Garis harus mengambil peran itu.

Dalam rapat redaksi yang berlokasi di Citra Raya (27/05/10), gagasan ini mendapat sambutan hangat. Dalam satu dua bulan kedepan, rencananya akan dilakukan road show majalah garis dengan melibatkan kawan-kawan pekerja dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Tangerang, Serang dan Cilegon.

Saya membayangkan, pada saatnya nanti pekerja/buruh Indonesia memiliki gairah yang besar untuk membaca dan menulis. Ya, tidak sekedar menulis, tetapi juga membaca. Apa saja. Sebab aktivitas baca-tulis tidak bisa dipisahkan.Kita hanya akan menjadi penulis yang baik, jika berhasil menjadi pembaca yang baik. Sebagaimana Multatulli pernah menulis “Ya, aku bakal dibaca!” di buku “Max Havelaar”. Buruh pun layak untuk menyuarakan itu. Ya, aku ingin dibaca!

Tulisan adalah media perjuangan. Kalimat ini sudah beberapa kali dipopulerkan melalui majalah kesayangan kita ini. Hasilnya? Meskipun dirasakan lambat, namun kesadaran itu mulai tumbuh. Beberapa pekerja/buruh mulai terbiasa menyuarakan protes melalui tulisan. Hanya, memang, mereka belum menemukan media yang tepat untuk mempublikasikan tulisan-tulisan mereka. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s