Medan Jihad Seorang Facebooker

Hari masih pagi ketika saya menyalakan komputer. Bukan untuk melanjutkan menulis skripsi yang sudah tujuh bulan belum juga selesai. Beberapa hari ini, ada dorongan yang sangat besar dalam diri saya untuk selalu melihat status di Facebook. Saya sedang terlibat dalam sebuah perdebatan panjang di jaring sosial dalam dunia maya ini. Sungguh!

Nurul Auriza: Camp David tidak lain adalah sebuah tipuan, sebuah permainan politik untuk mengekalkan agresi Israel atas kaum Muslim. Israel adalah perampas dan harus meninggalkan Palestina, lebih cepat lebih baik. Satu-satunya solusi adalah hendaknya saudara-saudra bangsa Palestina menghancurkan entitas jahat ini (Israel) secepat mungkin dan mencabut akar imperialisme dari wilayah tersebut, sehingga kedamaian akan kembali lagi ke wilayah itu. (Imam Khomeini).

Barusan adalah status terbaru saya di facebook. Sebuah ekspresi keprihatinan saya atas apa yang terjadi di tanah Palestina. Saya pernah membaca hadist Rasulullah Saw, ”Barang siapa yang bangun di pagi hari tanpa peduli akan urusan kaum Muslim, maka ia bukanlah seorang Muslim.” Dan, dengan tulisan itu, setidaknya saya ingin mengatakan bahwa saya cukup peduli dengan apa yang terjadi pada saudara-saudara Muslim di Palestina.

Merasakan kepedihan para janda yang ditinggal mati suaminya, juga para ibu yang kehilangan anak-anaknya. Saya adalah wanita. Meskipun tidak setegar para Muslimah yang berada di garda depan bumi jihad itu, namun setidaknya saya bisa merasakan kepedihan mereka.

Belum juga genap lima menit, komentar pertama masuk.

Hendra: Jangan lebay, non. Ini Indonesia. Tahu apa kamu tentang Palestina?

Saya tersentak. Ini benar-benar tidak seperti yang saya duga sebelumnya. Kalaupun ada yang mengomentari status saya, paling tidak sebuah pernyataan yang memberikan dukungan. Bahkan ikut mengutuk kezaliman para penjajah yang terjadi di bumi para nabi itu.

Nurul Auriza: Siapa yang lebay? Tidakkah anda dengar, kaum Muslim dibantai setiap hari di bumi Palestina? Jerit tangisnya terdengar jelas di telinga saya. Sesama Muslim adalah saudara. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk menuntut bela.

Hendra: Kamu lucu sekali ya? Perubahan apa yang kamu harapkan dengan menulis di facebook, lol. Kurang kerjaan aja!

Gunawan: Urus saja diri sendiri, jangan mikirin orang lain dulu. Kawin aja belum udah ngomongin jihad di Palestina. Kawin….kawin……*)

Saya diserang. Dua komentar masuk secara beruntun.

Untuk Hendra, saya tidak begitu ambil peduli. Karena memang tidak mengenal sebelumnya. Kalau mau, saya tinggal mendepak dari daftar teman di facebook saya. Habis perkara. Tetapi Gunawan? Ach, lelaki yang dulu pernah satu kampus dengan saya itu selalu saja memposisikan berbeda pendapat dengan saya. Entah apa sebabnya.

Mungkin karena lelaki itu pernah saya tolak ketika menyatakan cinta kepada saya. Bukan karena apa-apa, bagi saya tidak ada kamusnya untuk bepacaran. Karena kejadian itu? Ach, saya tidak ingin berprasangka..

Yang lebih menyakitkan, Gunawan menyerang saya secara pribadi. Ia memang seperti sedang membalas sakit hatinya. Saya sadar, di usia yang menjelang kepala empat ini belum bisa menyempurnakan separuh dari agama saya. Namun sangat naif jika hal itu dikaitkan dengan apa yang saya pikirkan. Dikaitkan dengan apa yang saya tulis di dalam Facebook.

Saya jadi ingat dengan apa yang pernah disampaikan oleh seorang ustad di dalam sebuah halaqah. Bahwa saat ini musuh-musuh Islam sedang melancarkan ropaganda jahat. Mereka memang tidak mengajak generasi muda Islam untuk menjadi Yahudi dan Nasrani. Tetapi, mereka menjauhkan mereka dari kehidupan Islam. Memalingkan mereka dari Al-Qur`an, dan mendorong mereka untuk masa bodoh dengan apa yang terjadi pada saudara-saurada se-Iman.

Apakah Hendra dan Gunawan sudah teracuni virus-viru itu? Entahlah.

Nurul Auriza: @ Hendra dan Gunawan: Imam Khomeini pernah mengatakan, bahwa tunduk kepada negara palsu Israel dan membahayakan ekonomi negara adalah tanda kelemahan, perbudakan, dan pengkhianatan kepada Islam dan kaum Muslim. Asal tahu saja, saya lebih mempercai ucapan beliau daripada pendapat kalian berdua. Kalau di Indonesia saja anda tidak berani menentang kebiadapan Israel, saya menduga anda sudah pingsan begitu tentara zionis mengarahkan moncong senapan kearahmu.

Saya tahu, perdebatan tanpa dasar seperti ini tidak baik. Namun apa hendak dikata, emosi saya tersulut. Kedua orang itu harus diberitahu, jika yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Komentarnya, jika dibaca oleh orang awam akan sangat berbahaya. Bisa-bisa orang lain juga akan beranggapan, bahwa karena kita hidup di Indonesia, maka tidak usah ikut-ikutan mengurusi Palestina. Itulah sebabnya, saya harus memberikan pelajaran.

Memberi pelajaran atau tersinggung dibilang sudah tua tapi tidak kawin-kawin!

Tulisan Gunawan itu? Tiba-tiba aliran darah saya mengalir cepat. Ini tidak adil. Saya hendak melabrak Gunawan jika saja tidak segera sadar bahwa saya tidak boleh terprovokasi. Jodoh ada di tangan Tuhan, jadi mengapa saya harus risau? Bukankah sudah lama saya menyakini kebenaran kata-kata itu?

Amarah saya mereda. Jika saya menganggap itu kelemahan, dan karenanya berhenti menebar kebaikan, bukankah yang rugi saya sendiri? Betapa tidak, saya akan kehilangan banyak hal, untuk sesuatu yang seharusnya bisa dijadikan sebagai ladang amal.

Hanya, memang, terkadang saya cemburu saat membaca wasiat yang pernah ditulis oleh Ummu Muhammad ’Azzam, yang berjudul Kado Istri Mujahid: ”Kalian wahai ukhti muslimah, kalian wajib senantiasa mendorong suami pergi berjihad dengan segenap kemampuan yang kalian miliki. Janganlah bimbang dengan jalan jihad hanya karena hambatan-hambatan yang ada, sebab umur itu ada di tangan Allah dan sesungguhnya jihad itu tidak mengurangi umur dan rezki mereka sedikitpun. Sebaliknya jika meninggalkan jihad, itu bukanlah sebab menjadi panjangnya umur dan bertambahnya rezki, itu semua sudah menjadi takdir Allah.”

Saya belum bersuami, lantas siapa yang hendak saya dorong untuk turun ke medan Jihad? Pun, saya belum memiliki seorang putra, yang bisa saya persiapkan untuk menjadi pembela agama Allah. Juga sebagai kayu bakar yang terus menyala, menjadi api penerang bagi keabadian dakwah ini di masa yang akan datang, sebagaimana yang dinasehatkan Ummu Muhammad ’Azzam.
Burman Aja: Buat apa sih jauh-jauh mikirin orang lain, santai aja lagi. Kaga’ ada untungnya. Apache Israel kaga` bisa dilawan dengan puisi, cerpen, apalagi sekedar nulis di facebook.

Gdubrak! Orang baru. Memilih posisi kontra dengan saya.

Inikah gambaran akan Indonesia, negeri dengan jumlah Muslim di dunia? Sebegitu parahkah permasalahan di negeri ini, sehingga merasa tidak perlu lagi peduli dengan permasalahan nun jauh di Timur Tengah, hanya karena alasan rakyat Indonesia juga banyak yang susah?

Saudara-saudara kita sudah melakukan perlawanan, dengan apa yang mereka bisa. Namun kita disini masih duduk berleha-leha. Bahkan tidak memiliki ketegasan, hanya sekedar untuk menyatakan sikap sekalipun.
Burman benar, cerpen dan puisi tidak sepadan dengan apache. Tetapi ia lupa, bahwa permasalahan yang sebenarnya adalah hilangnya kesadaran kaum Muslim. Kesadaran bahwa mereka ibarat satu tubuh, jika salah satu bagian disakiti, maka bagian yang lain juga akan merasa sakit.

Cerpen, puisi, dan tulisan-tulisan di facebook itu adalah bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran itu. Ini langkah konkrit. Nyata. Lantas, apa yang sudah engkau perbuat, Burman?

”Menghalang-halangi orang lain berbuat sesuai dengan kemampuannya untuk melakukan perlawanan terhadap zionis!” Itulah yang engkau lakukan. Sadarlah kawan, dengan memberi komentar yang engkau anggap lelucon itu, engkau sudah merusak jalan dakwah.

Saya menatap foto profil Burhan. Menimbang-nimbang, apa yang sedang dipikirkan pemuda tanggung itu saat memberikan komentar dibawah tulisan saya. Terkadang saya memang tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran orang-orang yang terhubung di jejaring sosial itu. Dirinya sendiri? Atau tidak lebih dari wajah-wajah yang ada di balik topeng?
Kalau kehidupan di dunia maya ini mewakili kehidupan yang sebenarnya, mengapa mereka tidak membenarkan kezaliman para penjahat Zionis?

Tidakkah mereka mendengar teriakan Syaikh Ahmad Yassin semasa masih hidup: ”Tidakkah malu umat ini terhadap dirinya sendiri yang dihina, sedangkan padanya ada kemuliaan? Tidak malukah negara-negara umat ini membiarkan kami kepada penjahat Zionis dan sekurut antar bangsanya tanpa memandang kami dengan pandangan yang mampu meredakan air mata kami dan meringankan beban kami?”

Saya sadar, bahwa semangat jihad harus terus digelorakan. Kesadaran ummat harus ditumbuhkan. Dengan berbagai media yang bisa kita manfaatkan. Sastrawan dengan syair-syairnya, pengarang dengan cerpen-cerpennya, penulis dengan esei dan artikelnya. Tidak ketinggalan, meniru langkah saya jika anda adalah seorang facebooker. (*)

One thought on “Medan Jihad Seorang Facebooker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s