Mahmoud Ahmadinejad: Kekurangan Bukan Hambatan

Masihkah ada negara yang berani menantang Amerika? Jawabnya, ada. Satu dari sekian negara itu adalah Iran dengan Mahmoud Ahmadinejad sebagai presidennya. Berbagai pernyataan seputar nuklir dan Israel menyulut kemarahan sang Adikuasa. Akan tetapi, Ahmadinejad tetap bersikukup pada pendiriannya.

Bila dibandingkan dengan Amerika, bisa jadi Iran bukanlah apa-apa. Sekali gempur, dalam hitungan waktu Iran akan porak-poranda. Tetapi, mengapa Iran bersikukuh melawan Amerika? Mungkinkah karena presidennya? Kalau iya, siapa sesungguhnya Ahmadinejad? (Dikutip dari buku Ahmadinejad! David di Tengah Angkara Goliath Dunia)

Jika Ahmadinejad Bisa, Niscaya AKU BISA

Ahmadinejad lahir di Aradan, kawasan udik sekitar 120 kilometer arah tenggara Teheran, pada 28 Oktober 1956. Dia anak keempat dari tujuh bersaudara. Orangtuanya, Ahmad Saborjihan, memberinya nama Mahmud Saborjihan saat lahir.

Pada awalnya, ayah Ahmadinejad menafkahi ketujuh anaknya dari membuka toko kelontong. Tapi, pekerjaan ini sukar untuk menghidupkan perapian dapur rumah mereka. Belakangan, dia beralih profesi sebagai tukang pangkas rambut.

Mehran Mohseni, 32 tahun, anak dari seorang sepupu Ahmadinejad yang masih menetap di Aradan, mengenang keluarga Saborjihan sebagai keluarga yang hidup ”sangat sederhana”. ”Dia telah merasakan sendiri kemiskinan,” katanya.

Pada akhir era 50-an, keluarga Saborjihan mengambil sebuah keputusan besar: meninggalkan Aradan dan Hijrah ke Teheran demi kehidupan yang lebih baik. Di Teheran, keluarga Saborjihan bekerja sebagai seorang pandai besi. Di Teheran inilah, Ahmad mengubah nama anaknya, Mahmud Saborjihan menjadi Mahmoud Ahmadinejad. Pihak keluarga mengatakan perubahan nama ini sebagai isyarat religuisitas dan semangat mencari kehidupan yang lebih baik.

Mahmoud Ahmadinejad dalam bahasa Parsi berarti ras yang unggul, bijak, dan paripurna.

Kata Nasser Hadian Jazy, teman Ahmadinejad semasa kecil, rekannya itu seorang penggila bola, pragmatis, dan pintar. Dia selalu meraih ranking satu di kelasnya sejak masuk sekolah dasar. Lagipula, pembawaannya yang periang membuat Ahmadinejad mudah merangkul teman.

Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, Ahmadinejad aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang mendukung perjuangan Khomeini. Dia, antara lain, tercatat sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (Anjomen e Eslami ye Danesyjuyan). Tahun 1980 Irak menyerang Iran, hingga pada akhirnya Ahmdinejad terjun ke medan perang dengan bergabung ke Pasukan Khusus Pengawal Revolusi Islam (Sepah-e Pasdaran-e Engelab-e Eslami).

Dengan perjalanan hidup yang panjang dan kaya pengalaman, Ahmadinejad tetap bukan siapa-siapa di Teheran kala itu. Bahkan Mossad Israel dan CIA tidak pernah tertarik mengorek orang satu ini, setidaknya yang diakui beberapa perwira intelijen di dua negeri nuklir itu. Nama Ahmadinejad baru menggaung di pentas politik setelah dia terpilih menjadi Walikota Teheran pada 3 Mei 2003.

Tahun 2005, karir politiknya mencapai puncak setelah ia berhasil terpilih sebagai Presiden keenam Republik Islam Iran. Seperti umumnya para revolusioner sejati, dia sangat dramatik: politisi dengan modal paling sedikit dan pandangan paling lurus mampu menjatuhkan kelompak yang sedang berkuasa.

Mempelajari biografi Ahmadinejad, saya seperti melihat gambaran diri. Apalagi, saat ini saya masih indekos di sebuah rumah petak bersama istri dan buah hati saya. Pekerjaan saya sebagai buruh pabrik, belum memungkinkan untuk membeli rumah sendiri yang memadai.

Seperti halnya keluarga Ahmadinejad, yang tetap bersahaja dalam kemiskinannya, saya dan keluarga menjalani semua ini dengan lapang dada. Saya tidak hendak berkeluh kesah soal segala kekurangan yang ada. Hanya, memang, kami berasal dari kondisi yang sama. Sama-sama berasal dari orang tua, yang tidak bergelimang harta.

Sungguh, semua itu adalah pelajaran berharga yang bisa diambil dari dalam diri presiden Iran. Dari keluarga biasa, ia membuktikan bahwa semuanya mungkin untuk dilakukan. Kemiskinan bukanlah alasan untuk berhenti berharap dan berusaha. Justru, dengan kemiskinan itu, menjadi pertanda bagi kita untuk bekerja lebih keras lagi. Dan, Ahmadinejad bisa.

Apa yang Bisa Diteladani dari Seorang Ahmadinejad

”Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?” Inilah kalimat yang sangat terkenal dari seorang Ahmadinejad, untuk mempertahankan pengelolaan nuklir negaranya. Sebagaimana yang sering ia ulang dalam berbagai kesempatan, energi nuklir Iran ditujukan untuk kepentingan damai.

Sebagai dampak dari kegigihan pada pendiriannya untuk melanjutkan pengelolaan energi nuklir, Amerika bahkan pernah mengancam untuk menggempur negeri kaya minyak itu jika tetap melanjutkan pengayaan uraniumnya. Akan tetapi, Ahmadinejad tetap bersikukuh pada pendiriannya. Lagipula, dari berbagai penyelidikan yang dilakukan memang tidak terbukti kalau Iran sedang mengambangkan senjata nuklir.

Tidap berlebihan jika Harian Umum Republika menulis, ”Dalam waktu singkat, Ahmadinejad memesona dunia. Anak seorang pandai besi yang menjadi Presiden Iran ini menjadi satu dari sedikit pemimpin dunia yang berani menentang Amerika.”

”Ahmadinejad menjadi simbol perlawanan atas ketidakadilan global. Ia seolah mengulang fenomena Presiden RI Soekarno pada tahun 1960-an dan PM Malaysia Mahathir Muhammad era 90-an”, tulis Tatik Chusniyati, dalam resensinya yang dimuat di Media Indonesia.

Beginilah seharusnya pemimpin negara yang berdaulat harus bersikap. Tidak serta merta tunduk kepada negara lain. Apalagi jika sampai didikte oleh mereka. Kalau Iran bisa, maka Indonesia sebagai negara besar dan kaya raya ini seharusnya juga bisa.

Apa yang Bisa Diteladani dari Seorang Ahmadinejad

Sejak menjabat Walikota Teheran, Ahmadinejad banyak membuat kebijakan yang populis. Seperti, menggandakan pinjaman lunak kepada pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi 12 juta rial. Dia juga menggelar progam pembagian sup gratis sekali dalam setiap pekan kepada penduduk miskin.

Ahmadinejad juga memperlihat diri sebagai seorang pekerja keras. Dia memilih memperpanjang masa kerjanya dari pagi hingga menjelang maghrib dan melanjutkan kerja di rumahnya hingga jam 12 malam. Dia sengaja memperpanjang jam kerjanya agar punya waktu luang hingga 4 jam lebih untuk menerima siapapun warga kota yang ingin mengadu kepadanya.

Dia juga sukses memperlihatkan sosok walikota yang sederhana, ringan tangan mengerjakan segala kewajibannya, dan tak sungkan merasakan sendiri beban setiap masyarakat. Ia bahkan seringkali terlihat turun dari mobil bututnya untuk membersihkan selokan yang mampet.

Inilah sosok pemimpin yang mengayomi. Pemimpin yang melayani, dan bukan sebaliknya, minta dilayani.

Kepada negara Adidaya yang mencoba mendikte kedaulatan dalam negerinya, ia bertindak tegas tanpa kompromi. Sementara, kepada rakyatnya sendiri, ia memperlihatkan segenap cinta. Sebuah pemimpin yang dikesankan jauh dari sikap glamour dan pemuja dunia.

Spirit Ahmadinejad Dalam Diri Saya

Saya mengenal Ahmadinejad dari dekat, sekitar Mei 2006. Saat ia berkunjung ke Indonesia. Meskipun hanya melalui layar kaca, namun saya bisa merasakan jiwa revolusioner Ahmadinejad merasuk ke dalam diri saya. Jiwa revolusioner yang tidak pernah lelah memberontak, melawan, menantang dan berjuang, tanpa melupakan bahwa semua itu tidak mungkin tercapai dalam dirinya sendiri.

Sejak saat itu, saya sadar, bahwa segala kekurangan yang ada tidak semestinya menjadi penghalang oleh kita. Itulah sebabnya, meskipuan hanya sebagai buruh ber-upah minimum dengan seorang istri dan satu orang anak, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Belakangan, setelah anak kedua lahir, saya juga mendorong istri untuk melanjutkan kuliah.

Memang tidak istimewa dari aktivitas yang satu ini. Namun sebagai keluarga muda, yang belum begitu mapan dalam segi ekonomi, apa yang saya lakukan merupakan capaian yang luar biasa.

Hingga saat ini pun, saya masih tinggal di rumah kontrakan (kost) yang sempit. Terkadang, ada juga perasaan lelah dan putus asa terhadap nasib diri. Menghadapi situasi seperti itu, biasanya saya kembali membaca biografi Ahmadinejad. Selalu, setelah itu, saya seperti memiliki energi baru. Sosok yang juga menggugat peristiwa holocaust ini berangkat dari keluarga miskin dan sederhana, namun ia bisa. Hingga saat ini pun, Ahmadinejad masih hidup dalam sederhanaan.

* * *

tempat tinggal saya sempit
tanpa sofa dan permata
tapi makin terang bagi saya
profil tokoh-tokoh inspiratif dunia telah menebarkan keyakinan, bahwa
AKU BISA

Syair yang saya gubah dari penyair Widji Tukul itu saya tempel pada dinding di depan meja kerja saya. Saya merasa perlu menjaga hati, agar selalu berada dalam semangat yang prima untuk mewujudkan semua mimpi dan harapan.

Dan, apa yang saya lakukan sangat efektif. Sebab, setiap kali membaca kalimat itu, saya seperti mendapatkan energi baru. Dalam banyak hal, semua tokoh besar dunia memulai kisah suksesnya dari bawah dan segala keterbasan. Jadi, jika saat ini saya memiliki banyak kekurangan – namun tidak berhenti untuk berusaha – berarti saya berada di jalur yang benar. (*)

Sumber Bacaan: Ahmadinejad! Davi di Tengah Angkara Goliath Dunia, oleh Muhsin Labib, Ibrahim Muharam, Musa Kazhim, dan Alfian Hamzah, penerbit Hikmah Populer (Kelompok Mizan), Cetakan VI, tahun 2007

Tulisan ini diikutkan dalam Word Share Contest

Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s