Tulisanku adalah Ibadahku

Namanya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Kelahiran Damaskus, Suriah, pada 4 Februari 1292. Pada usia 58 tahun, Ibnu Qayyim meninggal dunia. Tepatnya pada tanggal 23 September 1350. Ia adalah seorang Imam Sunni, cendekiawan, dan ahli fiqh bermazhab Hambali.

Saya memang tidak pernah bertemu secara lagsung dengan Ibnu Qayyim Al Jauziyah secara langsung. Hanya saja, namanya lekat di hati saya. Apalagi saat membaca bukunya yang berjudul Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, membuat ulama yang pernah dipenjara, dihina dan diarak serta dilempari batu diatas onta bersama Ibnu Taimiyah ini serasa masih hidup hingga saat ini. Dekat sekali. Disini, di dalam hati saya.

Sejenak saya membayangkan, andaikan saja Ibnu Qayyim tidak pernah menulis dan ditulis, niscaya generasi yang hidup ratusan tahun setelahnya – seperti saya – tidak pernah tahu akan profil dan pemikiran beliau. Jangankan profil dan pemikirannya, tahu kalau di kolong langit ini pernah hidup seorang Ibnu Qayyim pun tidak!

Jangankan mereka yang hidup ratusan tahun lalu, hingga saat ini pun saya tidak pernah tahu nama orang tua dari kakek dan nenek saya. Ya, nama saja tidak tahu. Apalagi yang ada dalam pemikiran mereka. Ketika permasalahan ini saya sampaikan kepada beberapa kawan, mereka juga mengakui hal yang sama. Profil dan pemikiran nenek moyang mereka tidak ada dalam literatur dan buku sejarah. Atau lebih tepatnya, nenek moyang mereka memang tidak berusaha meninggalkan jejak dalam hidupnya. Satu-satunya bahan rujukan untuk mengetahui latar belakang mereka adalah cerita dari orang tua saya, dan itupun menjawab rasa keingintahuan saya.

Kalau saja mereka meninggalkan jejak, berupa buku atau tulisan lain, niscaya saat ini saya bisa mengetahui apa yang ada dalam pemikiran mereka. Tentu tidak sekedar buku, melainkan kumpulan ilmu yang bermanfaat. Sebab dengan demikian, amal baiknya akan tetap mengalir meski ia berada di dalam kubur.

”Jas, merah.” Kata Bung Karno. Jangan lupakan sejarah. Dan agar tidak lupa, maka seyogyanya sejarah itu dicatat.
Bisa jadi, inilah alasan utama, mengapa Rasulullah memerintahkan kepada sahabatnya untuk menulis setiap ayat Al-Qur`an yang turun, juga setiap perkataan yang Beliau ucapkan.

Itulah sebabnya, saya tidak hendak berbuat kesalahan dua kali. Saya harus menulis, dan membagikan setiap pengetahuan yang saya miliki. ”Sampaikanlah, walaupuan satu ayat,” begitu Islam mengajarkan. Setidaknya kalimat itu menambah keyakinan saya, bahwa saya tidak harus terlebih dahulu menjadi pakar hanya untuk menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya.

* * *

Dan,
Akan kemanakah kumbang terbang
Pada siapa rindu mendendam
Kekasih yang terkasih
Pencinta dan yang dicinta
Semua berurai air mata
Sedih, ataukah bahagia…?

Syair di atas merupakan goresan pena Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam sebuah tulisan yang berjudul Penganti Bidadari yang terdapat di buku Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Kata-kata yang indah dan menggetarkan, karena kedalaman makna yang terkandung di dalamnya.

Dalam beberapa kesempatan, saya bahkan mengirim SMS kepada istri yang berisi syair-syair itu.

”Say, puisi itu berbisik di dalam hatiku, untuk selalu jatuh cinta kepada Rabb-ku dan juga dirimu,” dan inilah jawaban istri terhadap syair yang saya kirimkan.

Hati saya berbunga, saat menyadari begitu hebatnya pengaruh yang ditimbulkan tulisan kepada seseorang. Apalagi jika ia dimaksudkan untuk mengajak seseorang menuju kebaikan dan lebih mendekatkan diri kepada Illahi Robbi, niscaya pengaruhnya akan lebih besar lagi. Seperti yang dilakukan Syeikh Sayyid Quthb, misalnya, kendati fisiknya berada di dalam jeruji penjara, ia tetap bisa melawan: dengan menulis. Buya Hamka, ketika dipenjara, beliau tetap menulis dan menghasilkan karya fenomenal, yakni Tafsir al-Azhar.

Saat saya menuliskan syair itu di dalam status Facebook, teman saya, Edi Abdi Sastradirja mengomentari: ”Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Hasan al-Bana, Sayyid Qutub, Buya Hamka…. Bukti nyata jika surga ada di hati, meskipun fisik terbelenggu dalam terali besi. Hati dan pikiran mereka tetap merdeka meneriakkan kebenaran melalui tulisan!”

Dalam sebuah sirah bahkan diceritakan, Rasulullah menjadikan pelajaran baca tulis sebagai tebusan tawanan Badar. Rasulullah juga menugaskan Abdullah bin Said bin al Ash untuk mengajarkan tulis menulis di Madinah. Beliau juga memberi mandat Ubadah bin as-Shamit mengajarkan tulis-menulis ketika itu.

Masih membekas dalam ingatan saya, saat Ubadah berkata, bahwa ia pernah diberi hadiah panah dari salah seorang muridnya setelah mengajarkan tulis-menulis kepada Ahli Shuffah. Saad bin Jubair berkata: ”Dalam kuliah-kuliah Ibn Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku. Ayahku sering berkata: ”Hafalkanlah, tetapi terutama sekali tulislah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.” (Mustafa Azami, 2000).

Tidak perlu diragukan lagi, bahwa Islam mengajarkan tradisi menulis bagi umatnya. Spirit inilah yang senantiasa saya jaga untuk tetap menyala dalam hati saya. Menjadi pelita. Juga semangat. Bahwa saat saya menulis, sejatinya saya ikut melanjutkan tradisi dalam Islam.

Memang tidak mudah. Sebab aktivitas menulis sangat mudah untuk ditinggalkan, dengan berbagai alasan. Untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah tradisi, yang perlu kita lakukan adalah membiasakan diri. Namun, terbiasa saja tidak cukup, sebab agar tidak kehabisan energi, kita juga harus memiliki visi. Memiliki tujuan, dan itu tidak harus berbentuk materi.
Saat Buya Hamka menulis di dalam penjara, saya tidak bisa membayangkan jika tujuannya adalah uang. Ketika Syeikh Sayyid Quthb melakukan pelawanan melalui buku-buku yang beliau susun, ia tidak hendak menumpuk harta dengan mengharapkan banjir royalti. Lebih dari itu, aktivitasnya disadari pada sebuah kesadaran akan ajaran Islam: ”Sampaikanlah, walaupun satu ayat.” Dan, penyampaian itu tidak harus selalu dengan lisan. Tetapi juga bisa melalui tulisan.

Dalam hal ini, saya terkesan dengan kalimat Muhammad Ismail Yusanto saat memberikan pengantar dalam buku Be The Best not ”be asa”. Bahwa, menulis akan membuat umur intelektual kita bisa jauh melampaui umur fisik kita. Imam Syafi`i, seorang mujtahid agung dimasa keemasan Islam, sudah ratusan tahun lalu meninggal, tapi karyanya kitab al-Umm hingga sekarang masih terus dibaca. Begitu juga Imam Ghazali dengan Ihya Ulumuddin-nya. Andai saja kita percaya, sebagai ilmu yang bermanfaat, pahalanya akan terus mengalir kepada mereka.

* * *

Pada akhirnya, konsekwensi dari setiap pengetahuan yang kita miliki adalah langkah. Jika kita mengetahui bahwa menulis adalah bagian dari tradisi Islam, seyogyanya kita pun turut menjadi bagian dari ummat yang ikut melestarikan tradisi itu. Dalam kalimat yang lain, segeralah untuk menulis.

Susah?

Tidak juga. Mengarang itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto yang diabadikannya dalam judul sebuah buku. Yang perlu kita lakukan hanyalah membiasakan diri untuk menulis. Sebab, bukankah kita bisa karena biasa? Lagipula, tidak ada manusia yang secara tiba-tiba menjadi ahli dalam merangkai pena. Semua melalui proses. Semua pernah merasakan menjadi pemula.
Lagipula, kita tidak usah terlalu ambisius menyelesaikan satu buah buku dalam sekali duduk. Fokuslah pada kata pertama, dan kemudian dilanjutkan pada kata-kata berikutnya. Rs. Rudatan pernah mengatakan, sekitar tahun 1975 – 1977 dirinya pernah menulis dua halaman saja setiap habis shalat subuh. Ya, hanya dua halaman. Hasilnya adalah enam judul cerita silat Indonesia yang pernah dimuat secara bersambung di berbagai surat kabar Yogya, Semarang dan Jakarta. Ketika naskah-naskah itu diterbikan dalam bentuk buku, menjadi 60-an jilid.

Apalagi, sekarang zaman sudah berubah. Bahkan, perkembangan teknologi mencapai titik yang mengagumkan. Kita tidak perlu pusing mencari media atau penerbit mana yang bersedia menerbitkan tulisan kita. Sebab, kita bisa menggunakan media blog (blogspot, wordpres, dsb) dan jejaring sosial seperti facebook dan twitter untuk mempublikasikan tulisan-tulisan kita.
Apalagi, perkembangan komunitas blogger di Indonesia sangat pesat. Bahkan sudah menjadi lifstyle. Tentu saja, fenomena ini merupakan lahan dakwah yang cukup basah. Tentu saja, agar tulisan-tulisan kita bermakna ibadah, kita harus memberikan konstribusi konten yang bermuatan syariah dalam dunia maya. Memberikan nilai lebih bagi pembacanya.

Tentu saja, ajakan menjadi blogger muslim tidak saya maksudkan untuk mengesampingkan penulisan sebuah buku. Ajakan ini adalah sebagai penyemangat, bahwa saat ini banyak media yang bisa kita gunakan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan kita. Banyak cara yang bisa kita lakukan, agar tulisan kita dibaca orang dan oleh karenanya bermanfaat bagi mereka. Betapapun, blog sudah berubah menjadi diary elektronik. Menjadi buku online

Bahkan bukan tidak mungkin, kelak ketika tulisan kita sudah terkumpul banyak, kita memiliki kesempatan untuk membukukannya.
Tulisanku adalah ibadahku. Jika ini yang kita niatkan, maka jangan menunggu nanti. Bukankah esok pagi, tidak ada jaminan bagi kita untuk melihat matahari? ”Bekerjalah untuk akhiratmu, seakan engaku akan mati, tidak lama lagi!” (*)

Kampung Jempling, 28 April 2010

Tulisan ini pernah diikutkan dalam undangan menulis buku Antologi motivasi menulis dengan tema “Islam Mengajarkan Tradisi Menulis”

Iklan
Dikirimkan di Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s