Secercah Cahaya itu Bernama Helvy Tiana Rosa

Perjumpaan saya dengan Helvy Tiana Rosa bermula dari dunia maya, dan hanya di udara. Saat itu awal tahun 2009, ketika saya sering berselancar di internet untuk mencari kiat-kiat menulis yang baik. Hingga satu ketika, saya terdampar di sebuah blog yang bertajuk Pena Kecil Helvy Tiana Rossa (helvytr.multiply.com).

Mendapati blog itu, rasa senang saya bukan buatan. Seperti menemukan harta karun yang tak ternilai harganya. Seperti mendapati mata air inspirasi, yang tidak pernah kering meski diambil setiap hari.
Mungkin agak aneh, sebab yang lazim, seorang penulis digemari dari buku yang dibaca. Sedangkan saya, justru dari sebuah blog. Tapi tak mengapa, sama halnya dengan sebuah buku, blog juga sebuah karya? Hanya, memang, berbeda ruang dan media.

Betapapun, Helvy adalah sosok primadona bagi penulis pemula seperti saya. Namanya cukup familiar, disamping karena memang enak didengar. Barangkali itulah sebabnya, dalam survey Metro TV tahun 2009, menempatkan Helvy sebagai salah satu dari 10 (sepuluh) Perempuan Penulis Paling Terkenal.

Melalui blog itu, Helvy Tiana Rosa menjelma sebagai potret diri bagi saya. Disana saya menemukan pemikiran-pemikirannya yang orisinil. Juga tentang proses kreatif wanita kelahiran Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970 silam. Di blog ini juga, saya banyak belajar bagaimana ia membidani lahirnya beratus karya yang penuh makna. Saya seperti sedang mendengarkan Helvy tengah menuturkan pandangan dan pemikiran-pemikirannya secara langsung. Terasa dekat. Tidak ada kesan menggurui dalam setiap kalimat yang terangkai dalam paragraph demi paragraph.

Hingga hari ini, saya memang belum pernah bertemu langsung dengan Ibu dari Abdurahman Faiz dan Nadya Paramitha ini. Saya menduga, hal yang sama juga dialami ribuan orang diluar sana, yang mengagumi sebuah buku namun tidak pernah bertemu dengan penulisnya. Tidak mengapa, karena setiap penulis hidup bersama karya yang ditulisnya. Itu sudah cukup membuat orang terinspirasi dan tergerak untuk berbuat yang kebih baik lagi.

Sisi lain, tidak pernahnya saya berinteraksi secara langsung dengan Helvy, membuat saya kesulitan menemukan kekurangan dari penulis berinisial HTR ini. Dimata saya, agar seimbang, saya memang harus proporsional. Tidak hanya menebar puja dan puji, namun juga memberi kritik (yang membangun). Tapi apa mau dikata, saya kesulitan menemukannya.

Dari blog itu juga, saya menjadi tahu jika Helvy memenangkan berbagai perlombaan menulis tingkat propinsi dan nasional: “Jaring-Jaring Merah” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000). Lelaki Kabut dan Boneka mendapat Anugerah Pena sebagai Kumpulan Cerpen Terpuji (2002), sedangkan Bukavu masuk seleksi Long List Khatulistiwa Literary Award 2008. Mendapatkan SheCAN! Award dari Tupperware sebagai Wanita Inspiratif Indonesia (2009), Kartini Award sebagai salah satu The Most Inspiring Women in Indonesia dari Majalah Kartini (2009), terpilih sebagai Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra (2007), Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid Wanita Indonesia (2008), Tokoh Perbukuan IBF Award IKAPI (2006), Tokoh sastra Eramuslim Award (2006), Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004), Ummi Award dari Majalah Ummi (2004), Muslimah Berprestasi versi Majalah Amanah (2000), Muslimah Teladan versi Majalah Alia (2006), dan lain-lain.

Selanjutnya, saya mulai berburu karya pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) ini. Periode inilah yang mempertemukan saya dengan beberapa buku Helvy, seperti Catatan Pernikahan (LPPH, 2008), Bukan di Negeri Dongeng (Syaamil, 2003), dan Bukavu (LPPH), 2008). Bukan hanya buku, saya juga menambahkan Facebook Helvy Tiana Rosa sebagai teman saya. Sehingga saya bisa mengetahui, beberapa aktivitasnya melalui status. Itulah sebabnya, bukan hanya karya-karyanya yang berpengaruh dalam kehidupan saya. Namun juga, aktivitas dan prestasinya terus bergelayut di benak saya. Bukan hanya buku-bukunya yang telah memberikan inspirasi, namun juga sebuah blog yang belakangan jarang di up date, telah ikut memberi warna dalam hari-hari saya.

Pengaruh Karya Helvy Tiana Rosa

“Siapa sih Helvy Tiana Rosa? Lagian apa untungnya ngefans sama dia.” Pertanyaan seorang teman di kantor, saat melihat begitu seringnya saya berkunjung ke helvytr.multiply.com dan membawa buku karya Helvy Tiana Rosa ke tempat kerja.
Saya tersenyum, tidak segera menjawab.

Sesungguhnya, pertanyaan seperti itu memang tidak perlu dijawab. Lagipula, saya rasa, ia tidak membutuhkan benar jawaban atas pertanyaannya.

“Bacalah ini. Sosok penulis perempuan, seperti dirimu, yang juga merupakan satu dari 15 Tokoh Muslim Indonesia yang terpilih sebagai 500 Muslim Paling Berpengaruh di dunia,” ujar saya, sambil menunjuk ke layar monitor.

Ia mengacuhkan begitu saja. Dan justru mengambil Catatan Pernikahan yang tergeletak di atas meja. Hanya, memang, pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”, terbukti masih ampuh hingga sekarang. Interaksi seorang Rahayu, nama teman saya itu, dengan karya Helvy Tiana Rosa menjadikannya berbalik arah. Belakangan, ia mengaku ingin sekali mengenal lebih dekat penulis buku yang menjadi mahakarya itu. Mahakarya saya bilang? Ya, apalagi sebutan untuk sebuah karya yang mampu memberikan inspirasi bagi ribuan bahkan jutaan orang?

Rahayu, meskipun hingga saat ini belum menerbitkan buku, namun sudah mulai menulis blog. “Saya ingin berbagi, meski dengan sedikit pengetahuan yang saya miliki,” ujarnya sore itu. Ach, sepercik cahaya itu terilhami oleh seorang Helvy Tiana Rosa. Saya, dan juga Rahayu sebagai satu contoh, mampu memandang akibat tercerahkan setelah membaca karya-karya HTR. Itulah sebabnya, “sepercik cahaya”, adalah dua kata yang mampu mewakili keberadaan Helvy.

Magister dari Jurusan Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia ini memang tidak sekedar berindah-indah dalam merangkai kata. Namun juga penuh dengan pesan moral, cerdas dan mencerdaskan. Ia menjadikan tulisan sebagai media dakwah. Ada pembelajaran didalamnya. Tidak heran bila karya-karyanya nyaris tidak pernah basi. Dibaca oleh semua generasi.

Seberapa besar karya-karya Helvy berpengaruh terhadap diri saya?

Pertanyaan itu, membawa saya pada sebuah refleksi panjang atas episode kehidupan saya sejak bersentuhan dengan karya-karya Helvy Tiana Rosa. Karya yang baik adalah yang mampu menggerakkan. Dan inilah yang bergerak dalam diri saya setelah bersentuhan dengan karya-karya Helvy: Pertama, Sebuah karya tidak harus dimaknai dengan uang semata. Namun sebagai sumbang sih dan perwujudan rasa cinta untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagaimana yang pernah dikatakan sendiri oleh Helvy, “Menulis memang akan selalu membuat kita “kaya”. Dan kekayaan sejati itu, yang sudah saya rasakan menyerbu saya, bentuknya memang belum materi.” Spirit itulah yang kemudian mendorong saya untuk tetap menulis, meskipun tidak selalu menghasilkan uang.

Semangat untuk terus berbagi, adalah hasil refleksi kedua yang saya rasakan. Banyak kegiatan sosial yang diikuti dan diadakan oleh seorang Helvy. Salah satunya, ia tidak pelit akan ilmu. Terbukti dengan totalitasnya dalam membagikan proses kreatif dalam menulis, keseriusannya mendirikan Forum Lingkar Pena, yang kemudian melahirkan banyak penulis muda berbakat. Ia juga menghimpun dana untuk korban bencana di berbagai daerah.

Ketiga, kesibukannya yang luar biasa padat tidak mampu mencabut perannya sebagai seorang ibu. Ini juga saya ketahui dari beberapa tulisannya, saat bercerita tentang kehidupan keluarganya. Tentang suami dan anak-anaknya. Tentang orang tua dan saudara-saudaranya. Beberapa kali, saya bahkan harus jujur mengakui kemampuannya dalam membagi waktu. Juga kecemburuan atas keluarganya yang begitu harmonis.

Tiga hal inilah yang terasa sangat kuat berpengaruh dalam diri saya ketika membaca karya dan jati diri seorang Helvy Tiana Rosa. Saat membaca sebuah buku, emosional kita tidak bisa dilepaskan dari latar belakang penulisnya. Persis, pada bagian inilah, apa yang terlihat dalam porto folio Helvy Tiana Rosa semakin membuat saya bangga menjadi bagian dari penggemarnya.
Selamat ulang tahun, Helvy…. (*)

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Menulis Esei Nasional: Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya

Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s