Lentera

tempat tinggal kami sempit
tanpa sofa cuma tikar tua dan segenggam cinta
tapi makin terang bagi kami
buku-buku Helvy menjadi lentera dan terang menyinari

“Abi, umi berangkat dulu ya,” pamit istri saya pagi itu. Seperti biasa, saya terima uluran tangannya yang halus. Menggenggamnya erat, dan mencium keningnya dengan lembut. Rutinitas ini, kami lakukan ketika istri saya hendak berangkat mengajar di sebuah Raudhatul Athfal (setara Taman Kanak-kanak), di dekat tempat kami tinggal. Sebuah rumah petak kontrakan sempit, dimana ruang tamu, tempat tidur dan makan menjadi satu. Sementara, saya hanyalah seorang buruh pabrik dengan upah minimum. Untuk masalah harta, kami bahkan nyaris tidak memiliki apa-apa.

Meskipun begitu, saya tidak pernah merasa kekurangan. Saya merasa kaya, bahkan. Betapa tidak, di usia yang belum genap kepala tiga, saya sudah dikarunia dua orang anak yang sehat dan senantiasa menebarkan oroma cinta. Semua itu semakin sempurna, dengan keberadaan sosok bidadari – siapa lagi kalau bukan istri saya – yang mampu menyulap rumah kecil dipenuhi buku ini menjadi surga. Nah, soal buku inilah, yang hendak saya ceritakan panjang lebar dalam kesempatan ini.
Kontrakan kami dipenuhi oleh buku, ini sudah saya katakan tadi. Bahkan, beberapa diantaranya tidak bisa tersimpan dengan baik karena kekurangan tempat. Bisa jadi, benda yang paling berharga di rumah ini adalah buku. Ia menjadi lentera dan menerangi. Memang, ada semacam konsensus yang kami buat berdua, bahwa sedapat mungkin, dalam satu bulan, kami harus membeli satu buku.

”Ini investasi untuk anak kita nanti…,” kalimat inilah yang selalu kami ulang, untuk saling menyemangati. Saya dan istri.

Dan, ketika berbicara tentang anak-anak, istri saya biasanya tersenyum. Matanya berbinar penuh cinta, lalu sesaat kemudian mengangguk memberikan persetujuan.

Kecintaan kami pada buku, sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba. Adalah Helvy Tiana Rosa yang memberikan inspirasi, melalui berbagai buku yang telah ditulisnya. Mengapa Helvy? Alasannya sederhana, karena penulis inilah yang pertamakali saya pelajari sosok dan karya-nya melalui sebuah blog yang beralamatkan di helvytr.multiply.com. Dari sana, saya terprovokasi untuk lebih mencintai buku.

* * *

tempat tinggal kami sempit
tanpa sofa cuma tikar tua dan segenggam cinta
tapi makin terang bagi kami
buku-buku Helvy menjadi lentera dan terang menyinari

Puisi di atas, bukan sekedar untuk berindah-indah dalam merangkai kata. Bukan juga membabi buta dalam memberikan apresiasi terhadap karya dan sosok Helvy Tiana Rosa. Namun, didasarkan pada sebuah fakta. Hasil dari refleksi atas pengalaman pribadi, bagaimana buku menjadikan saya bisa melihat dunia diluar sana sepenuh makna. Dan, itu saya temukan dalam karya-karya Helvy Tiana Rosa.

Buku-buku Helvy menjadi rujukan bagi kami, saya dan istri. Dari sana saya bisa lebih mendalami tentang cinta, juga makna akan ketulusan dalam membina hubungan rumah tangga. Tentang bagaimana mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak, sehingga mereka bisa mengenal Tuhan dan patuh pada orang tua.

Helvy, sudah membuktikan bahwa ia bisa. Dari rahim dan peran yang ia jalankan, berhasil melahirkan seorang penulis cilik. Abdurahman Faiz. Dari satu contoh ini saja, banyak hal yang bisa kami teladani dari sosok berinisial HTR itu.

Membaca profil dan pemikiran Helvy, membuat pemikiran saya menjadi semakin terbuka. Bahwa keberhasilan itu tidak datang secara tiba-tiba. Helvy, berhasil menjadi seperti yang kita lihat saat ini setelah melewati rentang waktu yang panjang. Bahkan, sepanjang hidupnya adalah perjuangan.

Terbayang oleh saya, bagaimana ia membiayai sekolahnya dengan menulis. Saat di awal-awal pernikahan, ia dan suami tinggal di kontrakan kecil dekat rel kereta, namun hari-harinya tetap bersahaja. Ketika ia ”berkomunikasi” dengan buah hatinya, bahkan ketika masih di dalam kandungan. Juga, bagaimana ia menjual majalah Annida di dalam bus kota, padahal dirinya memegang peran penting dalam majalah remaja islam itu.

Semangat itulah yang berhasil saya tangkap, dan perlahan namun pasti memercikkan inspirasi.

Rumah kami memang sempit, namun buku-buku yang terjajar rapi dalam sebilah kayu yang tertempel di dinding menjadi lentera dan menerangi jiwa. Sebagai ungkapan terima kasih terhadap salah penulis buku-buku itu, dengan sepenuh hati, saya memberikan ucapan selamat ulang tahun, di usianya yang ke-40. Ia adalah Helvy Tiana Rosa. (*)

Tulisan ini menjadi Pemenang Hiburan Lomba Menulis Esei tingkat Nasional: Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya.

Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s