Kekuatan Mantra Helvy Tiana Rosa

Semakin mendalami karya-karya Helvy Tiana Rosa, saya semakin tidak bisa lepas dari pengaruh setiap ”mantra” yang terkandung dalam untaian kata-kata itu. Selalu saja ada hal baru dari setiap buku yang ditulis Helvy. Dan itu, bukan sekedar ilmu, namun daripadanya kita juga diajak berwisata melalui kata. Benar-benar memuaskan dan menyehatkan bagi jiwa.

Pantaslah, bila kemudian penulis yang satu ini mendapat banyak penghargaan. Hanya, memang, kali ini saya tidak hendak menuliskan tentang apa saja prestasi yang berhasil disandang wanita kelahiran Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970 ini. Lebih dari itu, tulisan ini merpakan sebuah refleksi saya, setelah melahap tuntas sebuah karya dari penulis ternama. Siapa lagi kalau bukan Helvy Tiana Rosa.

Teristimewa, karena tulisan ini saya buat di Bandara Polonia, sambil menunggu keberangkatan pesawat yang mengantar saya kembali ke Jakarta. Kebetulan, pada tanggal 25 s/d 28 Maret 2010 saya diminta menjadi fasilitator dan pembicara oleh Trade Union Right Centre (TURC) dalam acara Labour Law Course for Trade Unionist bertempat di Medan. Betapapun, Medan adalah tempat Helvy dilahirkan. Sebagai penggemar dan pengagum karya-karya Helvy, merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bisa merefleksikan apa yang saya rasakan, langsung dari tanah kelahirannya. Tak heran, bila mantra-mantra Helvy terpancar sangat kuat disini. Jemari saya bahkan tergetar saat memencet hurub demi hurub dalam notebook.

* * *

Saya mengenal Helvy melalui tulisannya yang tersebar di berbagai media. Tidak hanya di ”dunia nyata”, namun juga di dalam ”dunia maya”. Jujur saja, saya mendapatkan informasi tentang Helvy dari internet, selain dari beberapa buku yang ditulis beliau. Dari beragam tulisan yang diposting para blogger, hingga akun facebook milik Helvy.

Itulah sebabnya, meskipun saya tidak pernah bertemu langsung dengan Helvy, namun karya dan aktivitasnya selalu saya ikuti. Inilah yang kemudian yang membuat saya merasa begitu dekat dengannya. Sepertinya, ada kekuatan besar yang merekatkan hubungan emosional saya dengan penulis yang menjadi salah satu dari 15 Tokoh Muslim Indonesia yang terpilih sebagai 500 Muslim Paling Berpengaruh di dunia, hasil penelitian The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan, bekerjasama dengan Georgetown University, tahun 2009.

Disini, di ruang tunggu Bandara Internasional Polonia ini, kerinduan saya terhadap istri, Fadlan Harist dan Haya Auriza, dua dua buah hati saya semakin membesar. Sudah empat hari saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai itu di rumah kontrakan yang kecil. Ya, saya kangen dengan mereka. Saya merindukannya.
Tulisan Helvy Tiana Rosa seperti mengandung mantera. Setiap kalimat yang terangkai mampu mempesona pembacanya. Saya sudah mengatakan ini sejak awal. Dan kalimat itu terbukti, ketika tiba-tiba suara lembut istri yang sedang membacakan puisi Kangen dari buku Catatan Pernikahan terputar kembali dalam memori.

”Abi, di toko buku ada Catatan Pernikahan karya Helvy Tiana Rosa lho. Kita beli yuk,” ujar istri, dalam perjalanan ke pusat perbelanjaan yang terdapat di kota kami, beberapa bulan yang lalu.

Aku tersenyum. Kupandangi wajahnya. Tergambar jelas disana, bahwa ia sangat ingin memiliki buku itu. Soal membaca, kami memiliki minat yang sama. Sebagai guru Raudhatul Athfal (setara Taman Kanak-kanak), ia memang lebih tertarik terhadap buku-buku yang bertema pernikahan dan anak usia dini.

Kali ini saya tidak segera memberikan persetujuan atas ajakan untuk membeli buku. Karena, memang, sebelum berangkat tadi, kami berencana membeli sepatu untuk istri. Sepatu yang lama sudah sedikit koyak di bagian samping.

”Tapi say, kalau uangnya kita belikan buku, nanti beli sepatu pakai apa?”

”Lain kali saja beli sepatunya. Lagipula sepatu yang sekarang masih bisa dipakai, kok. Ini investasi untuk anak kita nanti…,” ujarnya. Senyumnya mengembang. Dari dulu, kemurahannya untuk memberi senyum inilah yang membuat saya tak pernah jemu memandang lentik bulu matanya.

Saya ingat, kalimat itulah yang saya gunakan untuk menyakinkan istri ketika ingin membeli buku. ”Investasi untuk anak-anak kita nanti”. Bukan rumah mewah, sawah ladang, dan segenggam permata. Meskipun hingga saat ini kami masih tinggal di rumah kontrakan, saya berharap anak-anak nanti akan tumbuh menjadi dewasa. Bukan hanya dalam fisik, namun juga dalam berfikir dan bijaksana dalam bertindak. Buku adalah jendela dunia. Berjuta ilmu ada didalamnya.

Sebagai karyawan pabrik, dengan dua orang anak balita, mampu menyisihkan sebagian dari penghasilan untuk dibelikan buku adalah perjuangan tersendiri. Dimana-mana kaum buruh berteriak tentang kebijakan upah murah, namun kami mencoba untuk berbesar hati dengan tidak hanya mengeluh. Ada yang saya sepakati bersama istri, minimal satu buku dalam sebulan. Betapapun sulitnya perekonomian keluarga kami.

”Gimana, say. Kita beli buku saja, ya? Kapan lagi mau melengkapi buku kita dengan karya-karya HTR….”
Tidak butuh waktu lama untuk memiliki Catatan Pernikahan. Karena begitu transaksi jual beli sudah terjadi, buku itu sepenuhnya bisa kami miliki.

Pernikahan, adalah kata yang sangat sederhana. Tampak tidak ada yang istimewa, sebab hampir semua orang mengalaminya. Namun, ketika membaca cerita Helvy, pernikahan menjadi sesuatu yang sangat bermakna. Sebuah kisah yang menarik. Yang menarik di sini adalah ketulusan dan kerendahan hati. Sebuah ungkapan saling menghormati, juga cerita cinta yang seindah pelangi. Berjuta rasa ada didalamnya: lucu, romantis, sedih, gemesin, dan sebagainya.

Tidak perlu membaca hingga tuntas buku ini untuk sekedar menemukan rahasia pernikahan. Betapa tidak, pernikahan saya yang sudah berumur tujuh tahun, terasa baru saja berjalan sepekan. Ini saya rasakan sendiri, saat di halaman awal menemukan sebuah puisi:

Ketika bahasa
tak lagi percaya pada kata
apakah yang masih bisa kita ucap?
:cinta

Ketika wajahmu
tak lagi menampakkan kening, mata, hidung dan mulut
apakah yang masih bisa kukecup?
: do’a

”Iya, nanti saya buatkan puisi yang lebih indah dari itu,” ujar istri saat saya menunjukkan puisi itu.

Hingga saat ini, ia memang tidak penah membuatkan sebuah puisi untuk saya. Meskipun begitu, bagi saya, ketulusannya dalam mendampingi saya adalah puisi paling romantis yang pernah saya temui. Senyumnya yang mengembang setiap kali saya tiba dari tempat kerja, lebih hebat dari rangkaian kata Sang Pujangga.

Hingga suatu malam, sama seperti yang saya lakukan, istri menyodorkan buku CATATAN PERNIKAHAN (Aku tahu-aku hanya ingin menikahi jiwamu selalu) karya Helvy Tiana Rosa dan menunjukkan sebuah puisi, Kangen.

“Aku ingin membacakan puisi ini untukmu, say,” ujarnya. Dan sesaat kemudian, saya seperti melayang saat bibirnya mulai mengalunkan kata.

Suamiku,
Telah kutulis puisi-puisi itu sejak usiamu 26 tahun
Ketika pertama kali kita bertukar senyum
Pada jarak pandang yang begitu dekat

Kau ingat
Saat kubisikkan mungkin aku tak perlu matahari, bulan atau bintang lagi
Cukup kau, cahaya yang Dia kirim untukku
Ah, apakah kau masih menyimpan puisi-puisi itu?

Dua belas tahun kemudian
Aku masih menikmati mengirimi puisi
Hingga hari ini
Aku pun menjelma hujan yang enggan berhenti
di berandamu bersama angin yang selalu kasmaran

kau tahu, aku masih saja menatapmu
dengan mataku yang dulu
lelaki sederhana berhati samudera
yang selalu membawaku berlabuh pada-Nya

pada berkali masa, kau pernah berkata:
“aku tahu, aku hanya ingin menikahi jiwamu selalu”

* * *

Saya tidak bisa berkata-kata, saat mendengar istri membaca puisi itu hingga selesai. Dalam usia saya yang hampir 29 tahun ini, baru kali ini mendengar seseorang membacakan puisi begitu indahnya untuk saya. Dan yakin, tidak akan bisa disamai dengan yang lain. Setidaknya menurut saya.

Lebih dari sekedar mantera, kata-kata itu memiliki kekuatan untuk menggerakkan. Untuk memotivasi orang-orang agar senantiasa menebarkan cinta terhadap pasangan hidupnya. Bagi istri, dan juga suami.

Bagi pasangan yang relatif muda seperti saya, keberadaan cermin kehidupan menjadi sedemikian penting. Tidak berlebihan bila saya mengatakan, bahwa Helvy Tiana Rosa, melalui karya dan aktivitasnya adalah sebuah cermin bagi saya dan keluarga. Helvy telah mencontohkan, bahwa dirinya bisa membuat rumah tangganya menjadi surga. Pada saat yang sama, ia mampu terus berprestasi. Dekat dengan buah hatinya, dan lebih-lebih, selalu memiliki energi berlimpah untuk selalu menulis.
Apalah hal yang sama, juga dirasakan oleh istri saya?

Saya tidak tahu, seberapa besar pengaruh karya-karya Helvy dalam dirinya. Karena memang, saya tidak pernah menanyakan hal itu kepadanya. Namun, sejak ia membacakan puisi Kangen di malam itu – yang suaranya masih terngiang di telinga saya hingga sekarang, saya yakin betul, bahwa kami menjadi sama-sama menjadi penggemar Helvy Tiana Rosa.

Bandara Polonia, Medan, 28 Maret 2010 pukul 14:54

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Menulis Esei Tingkat Nasional: Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya

Iklan
Dikirimkan di Tak Berkategori

Satu pemikiran pada “Kekuatan Mantra Helvy Tiana Rosa

  1. Dear Rekan Netter

    Salam perkenalan, dengan kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang telah diberikan masyarakat Indonesia kepada EAGLE sebagai salah satu Sepatu Olahraga Terbaik Indonesia , Kategory Sepatu Olahraga , pada TOP 250 Indonesia Original Brands 2010 versi majalah SWA ( Ref. No.09/XXVI/29 April – 11 Mei 2010 ) atau bisa klik link ini :

    http://swamediainc.com/award/2009top250originalbrand/index_13.html

    Kami mengundang anda bergabung di ( klik link ini ) :

    http://www.facebook.com/pages/Eagle-Sepatu-Olahraga-Indonesia/109563115758931?v=wall&ref=sgm

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s