Sedara Cinta, Bukan Sekedar Cerita Tentang Asmara

Judul : Sedara Cinta
Punulis : Hermes Dione
Editor : M. Solahudin
Penerbit : Leutika, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : x + 242 halaman
ISBN : 978-602-8597-21-0

Melihat judulnya, kita akan segera menyangka bahwa Sedara Cinta tidak jauh berbeda dengan novel-novel sejenisnya yang mengusung tema cinta. Namun, begitu kita mulai membaca, anggapan itu akan terbantahkan. Novel ini bukan kisah cinta biasa. Namun ditulis dengan sudut pandang yang berbeda, serta didukung dengan dialog yang mempesona, romantis, dan filosofis.

Namanya Yasrak, lelaki yang memiliki mimpi untuk membuat karya-karya fenomenal. Padahal, saat itu, ia baru saja keluar dari RSJ, karena tak kuasa selama bertahun-tahun memendam cinta. Di RSJ, Yasrak ditangani seorang psikiater handal. Bayangkan, dalam kondisi seperti itu, mimpinya untuk menghasilkan maha karya tidak pernah pudar. Yasrak memang lelaki yang tak mengenal kata menyerah dalam kamus hidupnya

Dalam rentang waktu inilah, Yasrak bertemu dengan Yasmin. Seorang mahasiswi psikologi, cerdas, dan tentu saja, cantik. Yasmin muncul pada saat yang tepat. Terbukti, semenjak mereka akrab, Yasrak seperti memiliki energi baru untuk merampungkan karya besarnya.

Inilah kekuatan cinta. Mampu menyulap si lemah menjadi perkasa.

Bagi Yasmin, hubungan ini justru membuatnya terjebak dalam kisah cinta yang rumit. Juga menggelisahkan. Dalam kalimat lain, ia bahkan menjadi korban dari kedalaman cinta yang dimiliki oleh Yasrak.

Cinta tidak harus memiliki, inilah yang diilhami oleh Yasmin. Bukan hanya memahami, namun perempuan ini mampu menjalani. Terbukti, ketika Yasrak lebih memilih Lupita, Yasmin bisa menerima dengan lapang dada. Meskipun hatinya dirundung duka lara.

Lupita sendiri adalah adik istri pertama Yasrak, Sila, yang telah memberinya satu anak. Pernikahan Yasrak dan Prisila Karin bubar karena tidak ada kecocokkan. Dalam carut-marut keluarga inilah, Yasrak menangkap keindahan pada diri adik iparnya. Dari sinilah kemudian kisah cinta terlarang itu bermula.

Sementara di sisi lain, bagi Lupita sosok Yasrak yang tidak lain adalah mantan kakak iparnya benar-benar mempesona. Sementara, citra Lupita sebagai perempuan cerdas, sifat kewanitaannya, membuat Yasrak semakin tak berdaya terkena panah api cinta. Keduanya melawan etika. Atau saya sebutkan di awal, terjerembab dalam jurang cinta terlarang.

Namun, keberhasilan Yasrak membawa Lupita bukan berarti cerita ini usai. Disinilah justru, kesetiaan, pengorbanan, dan rasionalitas menemukan tantangan yang sesungguhnya.

Hingga akhirnya, Yasrak dan Yasmin harus bertemu secara intens untuk menyelesaikan kemelut cinta yang sedang membara, ia justru menyadari bahwa Yasmin lebih mengenal dirinya. Pada saat yang sama, Yasmin tidak menerima karena sosok Yasrak menjadi milik Lupita. Mengapa tidak terima? Di mata Yasmin, Lupita adalah sosok yang manja dan tidak memiliki kelebihan dibanding dirinya.

Cinta Yasmin tidak bertepuk sebelah tangan, ketika Yasrak dan Lupita memutuskan untuk berpisah. Yasrak menganggap bahwa ia dan Lupita adalah sepasang cinta yang sempurna, terlalu sempurna untuk dijalani. Hingga mewujud, walau dengan melawan arus.

Sedangkan dengan Yasmin, Yasrak merasa kebih bertenaga. Memiliki energi berlipat, dengan cintanya yang dinamis dan menginspirasi lahirnya karya-karya indah.

* * *

Leutika, membuktikan diri bukan sebagai penerbit buku biasa saat menerbitkan Sedara Cinta. Membaca buku setebal kurang lebih 242 halaman ini, anda akan terhipnotis untuk membacanya hingga tuntas sekali duduk. Dialog-dialognya mempesona. Pun alur ceritanya memiliki banyak kejutan, menghentak-hentak kita untuk mencari tahu bagaimana akhir kisah cinta ini.

Ketika banyak novel remaja mengeksploitasi cinta hanya sekedar dari sisi asmara dua orang anak manusia yang berlainan jenis, Sedara Cinta justru membuat lompatan yang mencengangkan. Novel ini tidak saja berbicara asmara, namun juga psikologi, keberanian, dan kejujuran untuk mengatakan apa yang sesungguhnya yang kita rasakan.

Teman saya, memberikan kritik menarik, bahwa alur novel ini tidak masuk akal. Jarang kita temui di kehidupan nyata. Hanya, memang, beberapa saat kemudian ia mengatakan, ”teknik penulisan cerita yang bagus, hubungan antar paragraf yang yambung, membuatnya mudah dimengerti. Hingga karenanya, membaca cerita fiksi ini seperti melihat kehidupan nyata….”

Ya, Sedara Cinta mampu mengaduk-aduk emosional pembacanya. Bangga rasanya bisa menjadi bagian dari ribuan orang yang membaca dan turut memberikan apresiasi terhadap karya besar ini. (*)

Resensi buku: Kahar S. Cahyono
Resensi ini memenangkan Lomba Menulis Resensi Novel Sedara Cinta yang diselenggarakan Leutika Publisher

Iklan

2 pemikiran pada “Sedara Cinta, Bukan Sekedar Cerita Tentang Asmara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s