Andai Setiap Hari Adalah May Day

Gegap gempita hari buruh internasional yang baru kemarin diperingati, mengantarkan saya pada catatan pagi ini. Itu, sekaligus menandai untuk yang ke-8 kalinya saya berpartisipasi dalam aksi may day. Ach, tak terasa genap sewindu keberadaan saya dalam gerakan serikat pekerja.

Situasinya selalu saja sama. Nyaris tak ada perubahan berarti. Bahwa media, baik cetak atau elektronik, secara berulang-ulang mengabarkan aksi may day berakhir rusuh. Ada bentrokan, penutupan jalan tol, sweeping ke perusahaan-perusahaan. Tetapi pesan dari may day, tidak mendapatkan porsi yang seimbang dalam pemberitaan. Alih-alih memberikan penyadaran kepada publik, bahwa isu buruh adalah isu krusial di kalangan masyarakat luas, dan oleh karenanya perlu mendapat dukungan dari seluruh element bangsa.

Hari ini kita memasuki lembaran kedua di bulan Mei. Ada peringatan hari pendidikan. Saya menduga, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, kisah may day akan berhenti sampai disini. Dan untuk selanjutnya, kita bertemu pada tema dan kisah yang sama dalam peringatan hari buruh internasional pada tahun berikutnya.

Andai kata setiap hari adalah May Day

Sebab ketidakadilan yang terjadi dalam hubungan industrial juga berlangsung setiap hari. Pun kita tidak bisa berharap, bahwa peringatan may day, yang dilakukan setahun sekali itu akan menjadi ”hujan” dalam sebuah perumpamaan: Panas setahun dihapus hujan sehari.

Suwarti, yang mengaku sudah memiliki jam kerja lebih dari 15 tahun mengenang, bahwa hanya bilangan tahun yang berubah. Sementara rutinitasnya untuk berhutang ke warung sebelah setiap tanggung bulan masih saja berlanjut. Ya, apa hendak dikata, gajinya tidak cukup digunakan untuk menjaga agar kompor di dapurnya tetap menyala. Cerita ini ia bagi kepada saya, dalam sebuah perbincangan dua mata di Sekretariat Forum Solidaritas Buruh Serang beberapa bulan yang lalu.

Siang kemarin, Suwarti menemui saya sesaat setelah saya turun dari panggung orasi. Tangannya terasa dingin saat kami bersalaman. ”Perusahaan tempatku bekerja sudah tutup beberapa bulan yang lalu, bung….,” ujarnya sambil tersenyum getir.

”Lho, mengapa sekarang ada disini.”

”Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang memperjuangkan jaminan sosial bagi pengangguran.”

Selanjutnya, saya sudah tidak begitu ingat secara detail pembicaraan kami selanjutnya. Setahu saya, Suwarti adalah seorang pekerja keras yang loyal kepada perusahaan. Perempuan ini percaya, kalau ia bekerja dengan baik, maka ia akan mendapatkan imbalan yang baik. Ia bahkan tidak bersedia terlibat dalam kegiatan serikat pekerja, karena menganggap hal itu hanya akan berdampak pada prestasi kerja.

Namun semua itu tidak ada artinya, jika kepastian kerja sudah sirna. Jika surat PHK, apapun alasannya, sudah berada di genggaman. Tepat pada titik inilah, perjuangan untuk mendapatkan jaminan sosial bagi seluruh warga negara Indonesia menemukan esensinya.

Tanggungjawab individu untuk memperoleh prestasi kerja yang gemilang itu penting. Namun, perjuangan kolektif kaum buruh untuk mendesak negara agar memperhatikan hajat hidup seluruh warga juga tidak boleh diabaikan. Untuk kepentingan peradapan umat manusia, bahkan ini bisa jadi jauh lebih penting.

Penting untuk disebut disini, saat buruh meneriakkan tuntutannya, mereka bukanlah jiwa-jiwa yang hanya pandai berkeluh kesah. Bagi saya, mereka adalah orang-orang yang tercerahkan, bahwa perubahan ke arah yang lebih baik itu harus diperjuangkan. Mereka bukanlah orang-orang yang berfikir egois tentang dirinya sendiri, sebab perjuangan mereka adalah untuk semua.

* * *

Spirit May Day, seyogyanya mengalir dalam jiwa kita setiap hari. Sebab permasalahan tenaga kerja juga terjadi sepanjang waktu. Bahwa tujuan dalam setiap aksi may day, bukan untuk aksi itu sendiri. Oleh karenanya, aksi itu harus berlanjut, selaman tujuannnya belum tercapai!(*)

Iklan

5 pemikiran pada “Andai Setiap Hari Adalah May Day

  1. terima kasih atas tulisannya.

    membuka hati saya tentang arti dari buruh serta ketidakadilan yang senantiasa mereka dapatkan.

    tapi klo setiap hari adalah hari May Day. wah saya bisa dicap sebagai cowok playboy dong (terkait dengan tulisan saya saat May Day).

    Tetap, terus menulis dan berbagi Kang.

    Sekali lagi terima kasih.

  2. Saya suka bagian akhir tulisan mas Kahar: ‘spirit May Day utk perjuangan tiap hari.’
    Cuma, sekarang bgm merevitalisasi gerakan buruh, ya? komunitas ‘buruh’ dlm pengertian tradisional makin mengecil. Apakah Suwarti jg buruh? Say kira, kebanyakan serikat buruh rada ‘gagap’ menjawab pertanyaan ini. Mungkin sudah saatnya ada redefinisi baru…:)

    salam,
    rita.

    1. Terima kasih mbak Rita. Gerakan serikat buruh, hingga saat ini masih asyik dengan dirinya sendiri. Saya kira ada benarnya, sebab kebanyakan keanggotaan serikat pekerja ikut terputus seiring dengan putusnya hubungan kerja.

      Ach, saya tidak hendak berteori terhadap dirimu yang sudah malang melintang di dunia perburuhan, hehe….

      Salam Juang;
      Kahar S. Cahyono

  3. Disaat saya melihat di siaran televisi bahwa peringatan mayday ada yang disertai kerusuhan, terselip pertanyaan dibenak saya, mengapa tidak terbukanya mata hati kami kaum pekerja di Pt. Victory Apparel yg telah berdiri selama 5 tahun tetapi serikat pekerja hanya sebatas formalitas dari peraturan perusahaan yang disahkan oleh Disnaker Semarang? Pertanyaan ini baru terjawab …. Saya diPHK dengan alasan yg tak jelas…menurut saya… Berhak kah sata menuntut apa yg menjadi pertanyaan saya???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s