Saksikan, Aku Menjadi Nasabah Bank Syariah

Kalau saja kartu kredit itu bisa berbicara, tentu ia akan memberikan peringatan setiap kali ada orang yang menggunakannya tanpa pertimbangan matang. Namun sayang, rintihannya tidak terdengar. Kata-katanya tidak mampu dipahami oleh mereka yang terlanjur berkubang dalam gaya hidup konsumtif.

Tidak sedikit yang menjadi korban akibat kesalahan dalam menggunakan kartu kredit. Ya, saya menyebutnya kesalahan. Karena memang, seharusnya kartu tersebut mempermudah hidup mereka. Bukan sebaliknya, malah menghancurkannya.

Saya gemas sekali jika mendengar seseorang ’dikejar-kejar’ dep colektor. Seperti beberapa minggu lalu, saat menerima telpon dari seseorang yang meminta tagihan kartu kredit pak Anton, bukan nama sebenarnya. Semua orang di kantor kami sudah mahfum, kalau hampir setiap minggu ada saja yang mencari pak Anton untuk menagih hutang kartu kredit. Dan seperti biasa, telepon dari luar diterima dahulu oleh petugas resepsionis, sebelum akhirnya dioper ke bagian kami melalui nomor extension. Ironisnya, siapapun yang mengangkat di nomor extension ini, disangka pak Anton.

”Kapan hutangnya dibayar, pak Anton?” Inilah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut penelpon.

Saya tidak segera menjawab. Mencoba mencerna makna dari kalimat yang seharusnya tidak ditujukan untuk saya.

”Mengapa diam saja? Hutang itu harus dibayar. Dibawa sampai mati..,” ujar suara dari seberang, bahkan sebelum saya sempat mengeluarkan kalimat yang pertama.

”Saya bukan Anton, pak.” Akhirnya saya buka suara.

”Mana si Anton?”

”Tidak ada di tempat. Sedang keluar ruangan,” jawab saya dengan hormat.

”Tidak mungkin. Tadi orang resepsionis bilang Anton ada. Kamu pasti telah bersengkokol. Kamu kacungnya ya? Jangan menyembunyikan orang bersalah…,” kalimat tidak bersimpatik itu terus menghujani saya. Beruntung saya sudah terbiasa menerima caci maki dari dep colektor yang menagih hutang ke pak Anton. Sebenarnya saya tersinggung, sudah berbicara baik dan jujur, tapi justru menjadi sasaran. Bahkan teman yang lain, langsung menutut telepon begitu mengetahui yang dicari adalah pak Anton.

”Ya sudah, nanti kalau ketemu Anton tolong bilangin saja…,” akhirnya dep colektor itu menurunkan frekwensi suaranya. ”Suruh si Anton istrinya jualan,” lanjutnya.

Saya masih sempat bertanya, ”Jualan apa Pak?”

” Jual diri, lah. Biar ia cepat dapet duit agar bisa membayar hutang-hutangnya,” kalimat ini meluncur tanpa basa-basi.

* * *

Cerita di atas terlintas kembali dalam ingatan saya, saat hendak menulis tentang Bank Syariah. Dalam benak saya, cara-cara penagihan hutang dengan meneror mental dan menghadirkan tukang pukul tidak ada kamus dalam syariah. Bahkan, hal yang sama seharusnya juga dilakukan oleh Bank Konvensional.

Hanya, memang, sebagai sebuah bank yang dikelola dengan menggali aturan-aturan yang menjadi ketetapan Allah SWT, Bank Syariah memiliki mekanisme alami dari dalam dirinya untuk menyelesaikan setiap permasalahan. Dalam hal ini, bukan hanya pihak bank yang dituntut untuk menjalankan usahanya dengan berlandaskan syariah. Namun, kita sebagai nasabah, juga dituntut perilaku yang sama.

Nah, pada titik inilah, dengan berbank syariah, kita benar-benar mengikatkan diri secara utuh. Bukan keterikatan yang dipaksakan melalui aturan-aturan formal.

Saya bangga menjadi nasabah bank syariah. Dan itu saya buktikan dengan tidak menutup-nutupi keterlibatan saya disana. Bahkan, saya juga menganjurkan beberapa kawan untuk juga menggunakan bank syariah. Ini bukan semata-mata pelampiasan rasa sakit hati, namun juga adanya kesadaran yang mulai tumbuh sebagai seorang muslim, yang diwajibkan untuk menjauhi riba.

Dalam hal ini, Azizi Ali – penulis buku Catatan Sang Milyarder – mengatakan: ”Sudah waktunya kita mengadakan seminar (dan atau kampanye) perlindungan konsumen. Ada satu – dua alasan perlunya seminar seperti ini. Terlalu banyak orang mengeluarkan terlalu banyak uang yang tidak mereka miliki dan tidak mampu mereka miliki.”

Saya sendiri tidak kenal dengan Azizi Ali, namun kalimat itu menarik untuk dikutip. Sebab pada kenyataannya, masyarakat, dalam hal ini sebagai konsumen, harus belajar mengendalikan hasratnya dan melengkapi dirinya dengan semua hal yang dapat melindungi dirinya dari pemangsa yang kelaparan. Jika tidak, akan semakin banyak masyarakat yang terjebak dalam pola hidup konsumtif, tanpa memiliki kemampuan untuk mengelak atau menghindar.

Bagi saya, seperti namanya, bank syariah adalah solusi tepat untuk menghindar dari apa yang dikhawatirkan oleh Azizi Ali. (*)

Tulisan ini diikutsertakan dalam IB Blogger Competition

Catatan: Gambar diambil dari SINI

2 thoughts on “Saksikan, Aku Menjadi Nasabah Bank Syariah

  1. Benar Mas, sebagai muslim kita harus bangga menggunakan identitas kemusliman kita. Lagipula, saat ini, nasabahnya tidak hanya berasal dari muslim saja. Apalagi sudah terbukti, bank syariah sangat tahan terhadap goncangan krisis. Mungkin ini pertanda, bahwa Bank Syariah diridhai Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s