Mendefinisikan Peguruan Tinggi Idaman, Melalui Pendekatan Orang Jatuh Cinta

Lomba Blog UII – ”Sekolah yang benar, biar pintar,” kalimat ini masih saya ingat dengan baik. Kebetulan, ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya indekos di Kota Blitar. Ketika berangkat ke tempat kost itulah, ibu saya selalu mengulang kalimat itu.

Mungkin karena kalimat itu sudah mengendap dalam alam bawah sadar saya, saat ini, saya selalu mengucapkan hal yang sama ketika istri saya pamit hendak berangkat kuliah. Menjadi pintar, yang saya pahami adalah berada di ”jalan yang benar”. Dan ini hanya akan tercapai, jika penyelenggara dan atau lembaga pendidikannya juga benar. Seperti halnya pernikahan, kami tidak hendak berspekulasi. Maka saya tidak ingin coba-coba, ia haruslah Perguruan Tinggi Idaman.

Untuk menjadi idaman, tidak cukup hanya dengan melihat secara fisik. Ini persis ketika kita sedang jatuh cinta. Terkadang ukuran tampan dan cantik menjadi subyektif. Bahkan menjadi tidak penting lagi. Manakala hati sudah terpaut, maka keduanya akan terikat secara emosional. Itulah sebabnya, saya hendak mendefinisikan perguruan tinggi idaman dengan pendekatan cinta, melampaui hal-hal yang sifatnya formalitas semata.

Rindu

Dalam cinta, ada desakan untuk selalu ingin bertemu. Betapa kita selalu terbayang pada si kekasih hati, sampai-sampai tidak enak makan dan kesulitan tidur.

Begitu juga yang seharusnya kita rasakan terhadap Perguruan Tinggi Idaman. Selalu ada energi untuk melangkahkan kaki ke kampus, karena kita tahu, cinta kita ada disana. Juga tidak ada dalam kamus kita untuk alpha dalam sebuah mata kuliah, sebab pertemuan adalah sesuatu yang sangat berharga. Situasi seperti ini akan tercipta, manakala suasana dan relasi seluruh warga kampus terbina dengan baik. Juga, kurikulum yang diajarkan memang sesuai dengan hal-hal terkini, tidak ketinggalan zaman.

Cemburu

Tanpa adanya rasa cemburu, maka kualitas cinta yang kita miliki layak untuk dievaluasi kembali. Hanya, memang, cemburu tidak harus membuat kita menjadi buta. Seseorang yang menampar (menyakiti) kekasih hatinya dengan atas nama cinta, itu bukanlah cemburu. Itu adalah kekerasan. Itu adalah kriminal.

Perguruan Tinggi Terbaik harus memberikan membuat ruang terbuka kepada mahasiswanya untuk berkompetisi. Sehingga, mereka memiliki keyakinan dan kebangaan terhadap almamaternya. Perguruan tinggi lain boleh jadi baik, namun punya kita adalah yang terbaik. Begitulah memang orang jatuh cinta, selalu menilai sang kekasih adalah yang paling sempurna.

Oleh karena itu, jika mendengar ada Perguruan Tinggi lain yang lebih berprestasi, kita wajib cemburu. So, bukan cemburu dalam pengertian negatif. Cemburu kita adalah dalam segi prestasi, untuk selalu bekerja lebih keras menjadi yang terbaik. Bukankah sifat yang demikian justru dianjurkan?


Menjaga

Kepada orang yang kita cintai, kita selalu ingin melindunginya dengan sempurna. Saat si doi terpeleset sedikit saja, kita akan dengan sigap memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan (ceileh). Kita akan mengerahkan segala daya dan upaya, untuk memberikan perhatian kepada si dia.

Makanya, sangat disesalkan jika ada mahasiswa/i yang merusak kampusnya, dengan alasan apapun. Cinta itu menjaga, bukan merusak. Kita memang tidak harus mendiamkan sesuatu yang tidak tepat dalam tata kelola di Perguruan Tinggi, namun ibarat sebuat keluarga, hendaknya semua itu bisa diselesaikan dengan arif dan bijaksana.

Dalam hal ini, saya tertarik dengan konsep yang dikembangkan Universitas Islam Indonesia dengan menyeimbangkan pendidikan agama dan umum. Memang harus ada proteksi untuk menangkal pengaruh buruk di kalangan mahasiswa. Dan proteksi yang efektif adalah kesadaran dari dalam diri pribadi, melalui moralitas, atau dalam hal ini, melalui implementasi terhadap ajaran Islam.

Apalagi, pada tahun 2008, Universitas Islam Indonesia berhasil menempati rangking I pada Program Evaluasi Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi (SPMI-PT) di Indonesia yang dinilai melalui proses site verification dan technical assistance atau berdasarkan urut skor tertinggi oleh Direktorat Akademik. Tentu saja, ini menjadi tanggungjawab seluruh civitas akademika untuk mempertahankannya.

Tanpa Pamrih

Kepada orang yang kita cinta, tidak pernah rasanya berhitung berapa besar uang yang kita keluarkan. Sebab berapapun besarnya rupiah yang kita belanjakan untuk cinta, tidak sebanding dengan keindahan dan kedamaian yang kita rasakan. Pun saat tidak memiliki uang, kita bahkan rela makan sepiring berdua hanya dengan nasi berteman garam.

Salah satu kritik yang pedas terhadap dunia pendidikan adalah soal Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), bahwa penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Seperti disampaikan oleh Koordinator Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005), dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Hanya, memang, Perguruan Tinggi Idaman hanya semata-mata berorientasi pada uang. (*)

Keterangan: Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog Universitas Islam Indonesia

Daftar Pustaka :
http://blogjamu.blogspot.com/2008/10/peringkat-universitas-se-indonesia.html

http://fit.uii.ac.id/berita-universitas/uii-rangking-i-se-indonesia-hasil-evaluasi-sistem-penjaminan-mutu-internal-perguruan-tinggi-2008.html

Foto diambil dari SINI

Iklan

7 pemikiran pada “Mendefinisikan Peguruan Tinggi Idaman, Melalui Pendekatan Orang Jatuh Cinta

  1. Wah, ini deskripsi tentang perguruan tinggi yang sangat menarik. Apalagi diilustrasikan dengan cinta, menjadikan artikel ini mudah dipahami. Luar biasa mas,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s