Bukan Perguruan Tinggi Biasa

Lomba Blog UII – Setiap kali mendengar nama Perguruan Tinggi disebut, hati saya selalu bergetar. Bergetar, karena sembilan tahun yang lalu, saya pernah patah hati dengan yang namanya Perguruan Tinggi. Sebabnya adalah, setelah menamatkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Blitar, niat saya untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya tidak kesampaian.

Ya, saya ingin kuliah. Mengambil jurusan jurnalistik, bidang yang saya minati. Namun mengingat saya adalah anak pertama dari empat bersaudara, saya harus realistis melihat kemampuan orang tua. Apalagi, Bapak sudah mengatakan hanya bisa menyekolahkan saya hingga jenjang SMA. ”Gantian dengan adik-adikmu,” kata Bapak suatu ketika.

Itulah sebabnya, saya memilih untuk segera mencari pekerjaan. Tahun 2001 saya mendapatkan pekerjaan di Kabupaten Serang, Banten, setelah beberapa hari sempat mencari kerja di Bekasi. Meskipun begitu, gairah untuk bisa kuliah terus membara dalam hati saya.

”Kamu harus kuliah, Har. Sayang sekali dengan potensi yang kamu miliki jika tidak dikembangkan,” nasihat Ali Maksum, guru pembimbing ektrakurikuler jurnalistik sewaktu saya duduk di SMK 1 Blitar.

Nasihat itu terus terngiang dalam telinga saya. Hingga sekarang. Karena memang, sewaktu di SMK, saya dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Arsitek (Aspirasi Siswa Teknik). Arsitek adalah majalah resmi sekolah kami, yang saat itu dikelola oleh peserta ekstrakurikuler jurnalistik.

Pada akhirnya, keinginan untuk menjejakkan kaki di halaman Perguruan Tinggi memang terwujud, justru setelah saya menikah dan Fadlan – anak pertama saya – lahir. Saat itu tahun 2007, ketika saya mendaftarkan diri di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Banten. Meskipun hanya mengambil program Diploma 2 (D2) dan mengikuti kelas karyawan (reguler), namun bayangan tentang Perguruan Tinggi yang selama ini hanya dalam angan-angan menjadi nyata. Saya bisa kuliah lho, batin saya ketika itu.

Setelah saya lulus D2, saat ini giliran istri saya melanjutkan kuliah. Ia mengambil program S1, PAUD. Boleh dikata, kami memiliki perjalanan hidup yang hampir sama. Sama-sama tidak ada biaya untuk langsung kuliah begitu lulus dari SMA, dan saling bahu-membahu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang sempat tertunda. Bedanya, kalau saya melanjutkan kuliah setelah anak pertama kami lahir. Istri melanjutkan kuliah setelah anak kedua kami lahir.

Ach, lupakan saja cerita di atas, itu hanya sebuah catatan pribadi. Namun, sebenarnya, dari cerita inilah saya ingin membangun argumentasi tentang Perguruan Tinggi Favorit Indonesia. Saya ingin mengatakan, bahwa latar belakang itulah yang kemudian membentuk persepsi saya tentang Perguruan Tinggi Idaman. Sehingga siapapun anda, ketika membaca tulisan ini, bisa mengatahui latar belakang dan kerangka berfikir saya secara menyeluruh.

Peka Pada Kebutuhan Mahasiswi/Mahasiswa

Bagi mahasiswa seperti saya, yang sudah memiliki anak dan istri, tentu ada beberapa hal khusus yang mesti dipenuhi ketika hendak memilih kuliah. Disamping bisa mengambil waktu yang menyesuaikan dengan jam kerja (biasanya dilakukan malam hari sepulang kerja atau hari sabtu dan Minggu), juga diberi kesempatan dan ruang khusus bagi mahasiswi yang hendak menyusui anaknya.

Mahasiswa diberi kesempatan menyusui anaknnya disela-sela waktu kuliah?

Jangan kaget. Saya sadar, ini mungkin akan menghadirkan perdebatan. Namun, jangan buru-buru perprasangka buruk dulu. Gagasan ini, berawal dari cerita istri saya:

”Abi, tadi teman saya mengajak anaknya yang masih kecil ke kampus. Anaknya diasuh sama pengasuhnya sih, jadi di sela-sela jadwal kuliah ia bisa menyusui anaknya,” ujar istri.

”Oh ya, emang diperbolehkan? Bagus itu say, sekali waktu nanti bisa mengajak Haya ke kampus,” jawab saya. Haya adalah anak kedua saya, usianya belum genap dua tahun.

”Boleh lah. Siapa mau melarang orang untuk menyusui buah hatinya. Tapi sayang tidak ada ruang khusus untuk menyusui dan mengasuh anak, jadi banyak yang ngelihatin ketika ia sedang menyusui.”

Nah, berawal dari cerita di atas, saya berfikir, alangkah baiknya jika Perguruan Tinggi menyediakan ruang khusus untuk menyusui dan mengasuh buah hatinya. Mengapa? Sebab perguruan tinggi seperti ini berarti peduli pada peradapan. Pada munculnya generasi berkualitas yang akan tumbus kelak dikemudian hari.

Penjaga Gawang Degradasi Moral

Berbicara moralitas, akir-akhir ini menjadi penting. Mengingat belakangan ini banyak kalangan yang menghawatirkan dampak dari pergaulan bebas generasi muda di negeri ini yang sudah melampaui nilai-nilai susila. Apalagi muncul tudingan, mayoritas mahasiswi sudah tidak perawan lagi.

Tulisan ini tidak hendak menjustifikasi, bahwa seluruh mahasiswi berbuat demikian. Hanya, memang, sebagai tempat berkumpulnya para professor, guru besar dan orang-orang hebat, perguruan tinggi hendaknya bisa menjadi penjaga gawang dari apa yang disebut degradasi moral Sebagai contoh kecil, penting kiranya untuk memberikan penekanan pada aspek-aspek religius di dalam kampus. Misalnya, bagi mereka yang beragama islam, ada pendidikan orientasi nilai dasar Islam dan Baca Tulis Al-Quran, seperti yang dilakukan di Universitas Islam Indonesia.

Tidak cukup hanya itu, namun juga diikuti dengan kebijakan yang konferehensif dari perguruan tinggi. Misalnya dengan mengeluarkan peraturan yang melarang mahasiswa/mahasiswi perpakaian tidak senonoh di dalam kampus serta mengeluarkan mahasiswa/mahasiswi yang terbukti melakukan perbuatan zina.

Bagi saya, predikat perguruan tinggi terbaik hanya layak diberikan kepada mereka yang mampu menghasilkan orang-orang bermoral. Semua perguruan tinggi bisa melahirkan sarjana. Bahkan mencetak para ahli dari berbagai bidang ilmu. Namun, hanya sedikit yang mampu melahirkan lulusan yang menjunjung tinggi moralitas dalam menerapkan keilmuannya. Bila ini berhasil dengan baik, saya bisa memastikan koruptor akan semakin sedikit di masa yang akan datang.

Mengkolaborasikan dengan Kampanye Lingkungan Hidup

Isu lingkungan hidup yang saat ini marak diserukan oleh beberapa kalangan, seharusnya juga menjadi bagian dari kampanye yang menyatu dengan konsep pengelolaan perguruan tinggi. Misalnya dengan membuat semacam taman di dalam area kampus. Sehingga disana mahasiswa bisa berdiskusi, membaca buku, dan sebagainya dibawah pohon dengan nyaman.

Ini tidak saja tentang cinta lingkungan. Sebab, suasana yang asri, akan merangsang mahasiswa untuk berfikir secara kreatif. Apalagi kalau area ini juga dilengkapi dengan area hot spot dan mudah menuju akses perpustakaan.

Setidaknya, kita akan mendapatkan energi yang berlipat untuk datang ke kampus. Dari rumah, kita sudah membayangkan suasana yang menyenangkan. Dan tidak selalu mencari-cari alasan untuk menghidar dari jam kuliah. Dengan kalimat yang lain, di tempat yang nyaman seperti ini, kita bisa kuliah sambil refresing. (*)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Universitas Islam Indonesia

Gambar diambil dari SINI

Iklan

2 pemikiran pada “Bukan Perguruan Tinggi Biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s